Tambang Pasir Besi di Lotim Mangkrak Tujuh Tahun

Selong (Suara NTB) – Rencana penambangan pasir besi PT Anugrah Mitra Graha (AMG) terhitung sudah tujuh tahun lamanya mangkrak. Memasuki tahun ke delapan setelah keluar izin usaha eksploitasi sejak tahun 2011 silam, AMG kini mulai berbenah.

Koordinator Lapangan PT AMG, Adi Susanto saat ditemui Selasa, 5 Desember 2017 mengakui realita pahit yang dialami perusahaannya. Besar harapan pihak perusahaan yang mengantongi izin untuk mengolah lahan kawasan tambang pasir besi di wilayah Pringgabaya dan sekitarnya seluas 1.300 ha lebih ini segera beroperasi.

Iklan

Dituturkan, saat ini pihaknya sudah mulai masuk lagi untuk memperbaiki mesin-mesin bernilai ratusan juta di lokasi tambang Dusun Dedalpak Desa Pohgading Timur. Mesin-mesin mahal itu katanya sudah mulai rusak dan karatan, sehingga diperlukan perbaikan kembali baru bisa dioperasikan.

Masih terngiang sejumlah kejadian yang cukup melelahkan. Tragedi pembakaran dan perusakan sejumlah fasilitas milik PT AMG terjadi beberapa tahun lalu. Saat ini, secara perlahan masyarakat diharapkan mulai menerima rencana penambangan. Diyakinkan, penambangan yang dilakukan AMG tetap akan melibatkan masyarakat sekitar.

Kehadiran AMG janjinya semata untuk masyarakat. Saat ini pun, sekitar 30 warga sekitar lokasi tambang sudah dilibatkan bekerja. Saat sudah beroperasi nantinya, tenaga-tenaga lokal dipastikan akan menjadi pekerjanya.

Aktivitas pengambilan pasir besi tersebut dipastikan pula tidak akan menimbulkan kerusakan lingkungan seperti yang dikhawatirkan. Sudah ada dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang siap dilaksanakan pihak perusahaan. Proses reklamasi sudah menjadi ketentuan wajib pascapenambangan.

Selanjutnya diterangkan Adi Susanto, pasir besi yang diambil PT AMG ini bukan untuk dicetak menjadi besi. Pasir rencana akan dijual ke pabrik semen dan sejumlah perusahaan konstruksi. Seperti untuk memenuhi kebutuhan pengaspalan jalan raya dan kebutuhan lainnya.

Saat ini belum diketahui juga oleh pihak perusahaan seberapa besar kandungan bijih besi yang ada. Pasalnya, belum dimulai melakukan penambangan. Belum bisa diprediksi juga kapan waktunya bisa memulai. Hal ini disebabkan proses perbaikan mesin-mesin yang sudah karatan itu butuh waktu yang cukup lama.

Mengenai smelter, pihak AMG ini sejauh ini belum bisa memenuhi tuntutan pemerintah pusat. Karenanya, AMG lebih memilih menjual produk pasir besinya secara lokal dan tidak dieskpor. Membangun smelter diakui membutuhkan investasi besar, seperti dari pabrik smelter hingga kebutuhan listrik yang harus terpenuhi. Sejauh ini saja, sudah cukup besar nilai investasi yang terkesan terbuang percuma. Meski demikian, perusahaan berkomitmen dalam operasionalnya, masyarakat sekitar akan mendapat manfaat dari pabrik besi ini. (rus)