Tambah Kesan Mati Suri, Lampu Mati dan Tumpukan Sampah di Senggigi Belum Ditangani

Kondisi lampu di Jalan Raya Senggigi yang lama mati belum diperbaiki. Padahal jalur ini menjadi salah satu jalan menuju hotel tempat tamu WSBK menginap. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Penerangan Jalan Umum (PJU) atau lampu hias yang dibangun bersamaan dengan proyek penataan Senggigi belum juga diperbaiki. Padahal lampu ini mati sejak Agustus lalu. Selain lampu mati, sampah di pintu masuk Senggigi di Jembatan Meninting juga dibiarkan begitu saja, tak dibersihkan.

Pantauan Suara NTB, Sabtu, 2 Oktober 2021 malam tampak lampu hias masih dibiarkan mati. Mulai setelah Jembatan Meninting, beberapa tim mati. Begitu tiba sebelum Makam Batulayar, juga kondisi seperti ini terjadi. Hampir semua titik lampu mati, sehingga ruas jalan gelap. Untungnya, ada lampu PJU yang lama terpasang masih menyala, sehingga sedikit bisa menerangi.

Iklan

Tidak saja lampu hias, sampah yang menumpuk di bantaran sungai Jembatan Meninting juga belum dibersihkan. Kondisi ini sangat menambah kesan Senggigi yang mati suri dampak pandemi Covid-19. Padahal kawasan ini diperkirakan menjadi salah satu lokasi yang akan dikunjungi para tamu World Superbike (WSBK), baik domestik maupun mancanegara, mengingat banyaknya hotel di objek wisata tersebut.

Akibat padamnya lampu itu, mengganggu aktivitas masyarakat setempat, termasuk wisatawan domestik. Para pengguna kendaraan harus berhati-hati saat melintasi ruas jalan tersebut.Termasuk dikeluhkan pengunjung, Hamdi. “Kondisi ini  membuat kita kurang nyaman,” keluhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Lobar H. L. Winengan, mengaku, pihaknya belum bisa menangani lampu itu, karena belum diserahkan ke Disperkim.

Pihaknya pun sebatas melakukan koordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait yang membangunnya. Untuk diketahui, tahun 2020 lalu dibangun sejumlah proyek penataan Senggigi yang ditangani oleh Dinas Pariwisata (Dispar) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Tiga di antara proyek yang ditangani Dispar ambruk akibat longsor. Sedangkan di luar itu ada penataan koridor Senggigi tema kuliner dengan nilai Rp 2,3 miliar dan penataan Senggigi tema religius senilai Rp1,2 miliar ditangani Dinas PUPR. (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional