Taman Wisata Labuhan Haji, Dewan Sarankan Pemda Gandeng Investor

Proyek Taman Wisata Labuhan Haji, Lombok Timur. Keberadaan proyek ini sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan dan terkesan mangkrak.(Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Pemkab Lombok Timur (Lotim) melalui Dinas Pariwisata (Dispar) pada tahun 2018 lalu melakukan pembangunan Taman Wisata Labuhan Haji atau akrab dinamakan Ancol Mini. Sayangnya, proyek yang sudah memakan anggaran cukup fantastis ini terkesan mangkrak dan tidak jelas arak kelanjutan pembangunannya.

Terkait hal ini, DPRD Lotim menyarankan supaya kelanjutan pembangunan proyek tersebut dengan menggandeng investor apabila keuangan daerah tidak mampu. “Sebaiknya OPD terkait harus cekatan menggandeng investor jika daerah tidak mampu. Jangan dibiarkan mangkrak seperti itu,” terang Wakil Ketua DPRD Lotim, H. Daeng Paelori,SE, Selasa, 1 Desember 2020.

Menurutnya, kelanjutan proyek Taman Wisata Labuhan Haji masih membutuhkan puluhan miliar jika mengacu pada desain awal pembangunannya. Di mana lokasi itu akan menjadi pusat rekreasi karena dekat dari jantung kota. Maka sudah sepatutnya Pemda Lotim di masa kepemimpinan Sukiman-Rumaksi untuk melanjutkan pembangunannya.

Begitupun apabila harus dilakukan perubahan desain tidak mesti menjadi persoalan. Dikarenakan tujuan utama saat ini bagaimana supaya proyek tersebut berlanjut dan dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan nilai estetika dan lainnya. Namun terpenting saat ini yaitu memberikan kepastian hukum terhadap investor, regulasi dan segala izinnya dipermudah.

Hadirnya investor ini sangat diharapkan karena pada tahun 2021 tidak dianggarkan mengingat kebutuhan anggaran dalam proyek ini cukup besar. “Kita masih butuhkan, Rp10 miliar lebih. Jadi sudah semestinya Pemda gandeng investor,”sarannya.

Diketahui, keberadaan Taman Wisata Labuhan Haji ini berada di atas lahan 7 hektare. Terdapat beberapa bangunan fisik yang sudah terbangun di dalamnya. Hanya saja, progres pembangunan taman ini terhenti lantaran disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari awal pergantian rezim kepemimpinan kepala daerah hingga alasan terjadinya gempa pada tahun 2018 dan 2019 lalu.

Pengerjaan Taman Wisata Labuhan Haji ini pada awal pembangunannya senilai Rp9 miliar lebih. Terdapat lima kontraktor yang berbeda mengerjakannya, diantaranya untuk pengerjaan tembok, gerbang, water break, pengurugan dan fasilitas umum. Maka dari itu, diharapkan pengerjaan dapat tuntas dilakukan dari tenggang waktu yang sudah ditentukan pada bulan Desember 2018 lalu.

Bahkan pada tahun 2020, penambahan fasilitas dilakukan dengan dialokasikan anggaran sebesar Rp800 juta dari dana alokasi khusus (DAK) 2020 diantara untuk jalan setapak, penataan taman termasuk dilanjutkan pengurukannya. Adapun perkiraan anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp20 miliar sehingga ke depan dapat menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menangggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar), Dr. H. M. Mugni, menegaskan jika pembangunan Taman Wisata Labuhan Haji tetap dilanjutkan. Anggaran untuk tahun ini melalui DAK cadangan tahun 2020 yang merupakan pengembalian dari realokasi dana Covid-19.  “Pembangunannya tetap berlanjut sesuai rencana tahun 2019. Saat ini tukang masih bekerja,” ungkapnya. (yon)