Takut Gedung Ambruk, Penghuni Rusunawa Labuhan Lombok “Kabur”

Rusunawa di Labuhan Lombok yang kembali kosong, karena penghuninya tidak berani menempatinya. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Sebagian besar penghuni rumah susun sewa (rusunawa) nelayan di Labuhan Lombok kabur. Kini yang tersisa tinggal dua orang yang menempati gedung lima lantai yang dibangun 2017 lalu. Nasrun salah satu penghuni menuturkan, tidak ada lagi yang berani menempati setelah gempa Juli 2018 lalu.

Nasrun menuturkan sebelum gempa tidak bisa dihitung jumlah penghuni. Karena semua kamar penuh. Kini tidak ada yang terlihat dan tidak diketahui kemana perginya para penghuni tersebut. “Kita kurang tahu juga kemana perginya, atau mungkin sewa di mana,” ucapnya.

Iklan

Para penghuni rusunawa ini kabarnya tidak ada yang berani lagi datang karena takut gedung lantai lima itu ambruk. Nasrun sendiri mengaku terpaksa tetap tinggal, karena tidak ada tempat tinggal lain.

“Rumah saya kan tidak ada, meski gedung retak-retak kita terpaksa dan terpaksa saja tetap tinggal di sini,” ucapnya.

Dituturkan, dulu ia membayar sewa ke pemerintah seharga Rp 250 ribu per bulan. Harga itu katanya berlaku untuk lantai tiga, empat dan lima. Sedangkan lantai satu dan dua dihargakan Rp 300 ribu.

Alasan tak ada penghuni lagi dimungkinkan karena sudah tidak ada lagi air dan listrik. Dulunya air tetap mengalir dan listrik pun menyala. Kini kabarnya listrik dari PLN sudah dicabut. Air yang bersumber dari pompa sudah tidak berfungsi. Dengan sangat terpaksa pula, Nasrun dan keluarganya ini hanya menggunakan penerangan seadanya dan tidak ada TV dan alat-alat listrik yang bisa dinyalakan. “Ada kita pakai lampu aki yang kecil itu, bisa menyala sampai setelah Isya dan setelah padam itu kita tidur,” kisahnya.

Begitupun air sejak tak ada lagi penghuni, air pun tidak ada yang mengalir. Padahal di samping gedung lantai lima ini sebenarnya sudah ada mesin besar yang mengolah air. Akan tetapi tidak bisa berfungsi. Tidak ada aliran listrik yang bisa menghidupkan mesin air.
Harapan Nasrun, gedung besar yang memakan biaya miliaran ini kembali diperbaiki. Diyakini gedung tersebut masih cukup kokoh untuk ditempati, karena kerangka bangunannya masih cukup layak untuk ditempati. Yang ada hanya retak di dinding, namun tidak ada bagian utama dari bangunan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Lotim, Sahri mengatakan rusunawa Labuhan Lombok itu merupakan rumah singgah untuk nelayan. Diakui, kondisi rusunawa pasca gempa beberapa kali kurang baik dan diperlukan dana untuk merehab kembali gedung tersebut.

Rusunawa Labuhan Lombok diketahui merupakan salah satu jalur gempa, sehingga mengalami kerusakan di bagian dinding. Namun, konstruksi bangunan termasuk tahan gempa, sehingga tidak terlalu parah tingkat kerusakannya.

Ke depan katanya siap akan dikelola kembali setelah diperbaiki. Saat ini Dinas Perkim sedang melakukan studi banding dan mencari payung hukum mengenai pengelolaan rusunawa tersebut. Adanya warga yang tinggal di rusunawa tersebut sebelumnya kata Sahri hanya uji coba. Nantinya setelah ada payung hukum oleh pemerintah kabupaten akan diberlakukan sewa. (rus)