Takluk di TPS Sendiri, Amin Siap Dukung Paslon Terpilih

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Hasil penghitungan sementara yang dihimpun dari sejumlah TPS di Sumbawa, pasangan nomor urut 3, Zul-Rohmi tampak begitu dominan di Kabupaten Sumbawa. Pasangan yang didukung TGB ini bahkan unggul jauh di TPS 3 Kelurahan Lempe tempat Calon Wakil Gubernur NTB, H. Muh Amin, SH, M.Si mencoblos.

Data yang dihimpun Suara NTB, dari Desk Pilkada Pemkab Sumbawa, gambaran umumnya dari 20,61 persen suara masuk yang terupdate hingga Rabu sore, Zul-Rohmi dominan dengan perolehan suara 44.892 (67,6 persen). Kemudian Suhaili Amin  6.148 (9,3 persen), Ahyar Mori 7.746 (11,7 persen), Ali Sakti 7671 (11,5 persen).

Iklan

Begitu juga dari beberapa sampel TPS yang didata Suara NTB, di TPS 3 Kelurahan Uma Sima tercatat Zul Rohmi memimpin dengan raihan 132 suara, menyusul Ahyar Mori 10, Ali Sakti 8, Suhaili Amin 7.  TPS 3 Brang Bara, Zul Rohmi 201, Suhaili Amin 24, Ahyar Mori 21, dan Ali Sakti 10 suara. TPS 11 Seketeng Zul Rohmi 114, Ahyar Mori 29, Ali Sakti 17 dan Suhaili 13 suara. TPS 18 Kelurahan Seketeng Kecamatan Sumbawa Zul Rohmi 168, Suhaili Amin 23, Ahyar Mori 19 dan Ali Sakti 19.

Di TPS Calon Wakil Gubernur NTB pasangan nomor urut satu H. Muh. Amin,  kalah telak di TPS tempatnya mencoblos sendiri di Kelurahan Lempeh, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa. Di TPS 03 tempatnya memilih, suara pasangan nomor urut satu, Suhaili-Amin kalah dengan suara pasangan nomor urut tiga, Zul-Rohmi. Suhaili-Amin hanya memperoleh 119 suara. Kalah dari Zul-Rohmi yang memperoleh 157 suara.

Kemudian, pasangan nomor urut dua, Ahyar-Mori 25 suara dan pasangan nomor urut empat, Ali-Sakti 22 Suara. Untuk diketahui, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) di TPS 03 sebanyak 383. Terdiri dari 324 yang menggunakan hak pilih dan 59 yang tidak menggunakan hak pilih. Dari jumlah tersebut hanya 1 suara yang tidak sah.

Sementara di TPS 04 yang berdekatan dengan TPS 03, pasangan nomor urut satu juga kalah jauh dengan suara pasangan nomor urut tiga. Pasangan calon nomor urut satu hanya memperoleh 33 suara, nomor urut tiga sebanyak 102 suara, nomor urut dua 15 suara dan nomor urut empat 3 suara. Di TPS tersebut jumlah DPT sebanyak 192, terdiri dari 154 yang menggunakan hak pilih dan 1 suara yang tidak sah.

Ketua KPPS 03 Kelurahan Lempeh, H. Muhammad Amin yang diwawancarai membenarkan Cawagub dari nomor dua memilih di TPS tersebut. Kedatangannya didamingi oleh istri dan keluarganya. Adapun selama proses pencoblosan dan perhitungan suara, berjalan dengan lancar disaksikan keempat saksi dari  pasangan calon dan panitia pengawas. “Alhamdulillah berjalan lancar,” terangnya.

Siap Mendukung

Ditemui wartawan usai memilih, Amin meminta kepada semua pihak untuk tetap mendukung siapapun pasangan calon yang terpilih nantinya.

Wagub mendatangi TPS 03 yang tidak jauh dari kediamannya didampingi istrinya, Hj. Syamsiah M. Amin dan keluarganya sekitar pukul 08.00 Wita. Di bilik suara, Wagub menunjukkan jari yang sudah diberi tinta sebagai bukti sudah mencoblos.

Menurut Wagub, pelaksanaan Pilkada serentak 2018, Pilgub maupun Pilkada kabupaten/kota adalah suatu proses demokrasi. Dimana rakyat mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan pilihan kepada para kandidat calon sesuai dengan keinginannya, tanpa adanya paksaan dan tekanan sesuai dengan hati nurani. Hal ini merupakan sebuah edukasi pendidikan politik. Karena pilkada dan proses demokrasi yang berlangsung di Indonesia ini merupakan agenda rutin.

“Yang penting berlangsung dengan damai, tentram, dan tidak ada kegaduhan atau keributan yang menyebabkan tindakan anarkis. Apapun hasilnya dan siapapun nanti yang mendapatkan kepercayaan serta amanah itulah pemimpin kita. Yang harus kita terima dengan ikhlas dan harus kita dukung,” ujarnya usai pencoblosan.

Dirinya mengaku sudah empat kali mengikuti Pilkada, baik saat pemilihan bupati dan wakil bupati maupun pemilihan gubernur dan wakil gubernur.  Baginya optimis ataupun pesimis merupakan sebuah sikap. Tentunya para pasangan calon (paslon) dan pendukungnya mempunyai alasan untuk optimis dan mempunyai semangat yang sama. Hanya saja yang membedakan adalah yang ditakdirkan oleh Tuhan.

“Yang bisa kita baca adalah  angka-angka statistik dari peluang, takdir tidak bisa.  Tetapi semua paslon ini sudah menjemput takdirnya. Dalam arti takdir untuk memimpin sebuah amanah. Apapun yang kita peroleh merupakan karunia dari allah. Ini sebuah ladang pengabdian. Apapun hasilnya harus berfikir positif. Bahwa itu yang terbaik bagi para individu paslon. Dan ladang pengabdian itu bukan di kepala daerah dan wakil kepala daerah saja. Banyak tempat dan kesempatan untuk mengabdi kepada rakyat, bangsa negara dan daerah di bidang lainnya. Kalau  kita berfikir begitu maka tidak ada lagi konflik, saling fitnah, dan saling menyerang. Biasanya ada saja berbagai  intrik-intrik yang dilakukan. Ini yang sedapat mungkin kita tekan supaya tidak terjadi,” jelas Wagub.

Jika pihaknya diberikan kesempatan menang di Pilkada NTB ini, pihaknya akan menjadi pimpinan untuk semua masyarakat NTB. Bukan hanya untuk kelompok, golongan atau orang yang memilihnya dan mendukungnya. Artinya bukan lagi wakil atas nama partai, tetapi atas nama seluruh rakyat yang dipimpin.

Begitupula sebaliknya, pihaknya akan memberikan dukungan untuk pasangan calon yang berhasil nantinya jika tidak terpilih.

“Jika kita diberikan kesempatan oleh Allah SWT dan rakyat untuk mendapatkan keberhasilan, tentu kami memohon bantuan calon lain untuk mendukung kami. Karena calon lain adalah saudara kita. Begitupula sebaliknya ketika kami tidak berhasil, kami akan memberikan dukungan. Kita juga harus professional. Kita harus bersatu, membangun rasa persatuan dan kesatuan, merajut kembali perbedaan yang sebelumnya. Barangkali cukup tajam dalam kampanye, debat dan visi misi,” pungkas Wagub.

Pihaknya berharap kepada semua masyarakat dan tim sukses agar menerima hasil yang  akan ditetapkan oleh KPU nantinya. Saat ini pelaksanaan sedang dalam proses. Jika nantinya ada dugaan penyimpangan ataupun pelanggaran pemilu, tentu ada tata cara dan mekanisme yang harus ditempuh. Semuanya sudah diatur oleh institusi, dan itu yang harus ditempuh. (ind/arn)