Tak Tindaklanjuti Temuan Tim Monev, Pemda Lobar akan Tolak Hasil Pekerjaan Kontraktor

Bupati H. Fauzan Khalid dan Wabup Hj. Sumiatun bersama jajaran OPD turun melakukan monev pengerjaan proyek jalan Pelangan-Batu Putih Sekotong.(Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Bupati Lombok Barat (Lobar) H. Fauzan Khalid didampingi jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait melanjutkan monitoring dan evaluasi (monev) progres pengerjaan proyek fisik di Lobar. Hasil monev tersebut, tim menemukan beberapa temuan yang perlu perlu ditindaklanjuti oleh kontraktor. Di antaranya, progres pengerjaan proyek yang tak mencapai target. Keluhan warga soal proyek pasar.

Pemda pun mengingatkan rekanan agar menindaklanjuti semua hasil temuan tim monev pemda tersebut. ‘’Sebab kalau tidak ditindaklanjuti, pemda bakal menolak hasil pekerjaan kontraktor,’’ tegas Sekda Lobar, Dr. H. Baehaqi, kemarin.

Iklan

Di sinilah, ujarnya, tugas monitoring dilakukan di saat pengerjaan untuk memperlurus pekerjaan yang tak sesuai dengan perencanaan. “Supaya di saat pelaksanaan, tidak terjadi kesalahan pekerjaan,”ujar dia.

Setelah selesai dimonitoring, barulah dilakukan evaluasi.  Lebih jauh dijelaskan. dalam monev ini tidak hanya mengecek progres, namun juga  ketersediaan material yang dikhawatirkan menjadi hambatan pengerjaan proyek. Selain itu mengecek aspek kualitas kerja.  Monev ini juga untuk melihat kesesuaian perencanaan dengan kondisi riil di lapangan. Jika kondisi tak sesuai dengan perencanaan maka pihak pemda memberikan teguran dan menjadi catatan bagi kontraktor. Bagaimana peranan OPD dalam pengawasan? Pihaknaya terus memaksimalkan pengawasan OPD.

Pada lanjutan Monev, tim mengecek tiga titik proyek, yakni proyek pembangunan SMP 2 Gunungsari. Proyek pembangunan Gedung SMPN 2 Gunungsari yang bertempat di Desa Penimbung ini dikerjakan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) dengan nilai kontrak sebesar Rp1.149.000.000. Proyek yang dikerjakan oleh CV. Filar Mandiri ini sudah mencapai progres 25,53 persen dari rencana 22,6 persen.

Setelah itu tim meluncur ke proyek Pasar Gunungsari yang sempat mandek. Progres fisiknya sudah mencapai 57,09 persen realisasi 82,53 persen. Artinya melampaui target. Diketahui Pasar Gunungsari juga dibiayai dari DAU sebesar Rp1.350.000.000, dengan nilai kontrak Rp 1.088.593.000. Pengerjaannya juga 120 kalender dikerjakan oleh CV. Tri Harapan. “Ada beberapa tadi kita tegur kontraktornya, tidak terlalu krusial masalahnya karena terkait kerapian dalam bekerja. Cuma keluhan-keluhan dari pedagang dari aspek desin pasar itu,” ujarnya.

Kemudian tim mengecek proyek jalan dan lapak di Senggigi. Pengerjaan proyek baru mencapai 20,53 persen yang seharusnya 22,82 persen. Terdapat deviasi minus, artinya tidak mencapai target dari rencana. Sumber anggaran dari proyek ini dari dana pinjaman daerah sebesar Rp2.600.000.000, nilai kontrak Rp2.185.974.369,17. Kontraktor proyek adalah PT. Adhi Graha Kencana dikerjakan pada tanggal 7 Agustus 2020 lalu dan akan berakhir  pada tanggal 4 Desember 2020 mendatang.

Tim menegur PPK dan kontraktor, karena dari segi gambar yang tak sesuai. Salah satunya, tidak dipasangkan besi terali pada lapak tersebut. Sehingga kalau tidak dipasangkan terali pada bagian atas akan rawan pencurian. Karena atapnya dari kalsiboard, mudah dibobol, sehingga perlu dipasangkan terali.  (her)