Tak Tindaklanjut Temuan Tim Monev, Pemda Lobar Bakal Tolak Hasil Pekerjaan Kontraktor

Bupati H Fauzan Khalid didampingi Sekda lobar Dr H Baehaqi turun Monev beberapa titik proyek

Giri Menang (Suara NTB) – Bupati Lombok Barat (Lobar), H. Fauzan Khalid, S.Ag, M.Si, didampingi jajaran OPD terkait melanjutkan Monitoring dan Evaluasi (Monev) progres pengerjaan proyek fisik di Lombok Barat. Hasil Monev tersebut, tim menemukan beberapa temuan yang perlu perlu ditindaklanjuti oleh kontraktor. Diantaranya, progres pengerjaan proyek yang tak mencapai target. Juga keluhan warga soal proyek pasar.

Pemda pun mengingatkan rekanan agar menindaklanjuti semua hasil temuan tim Monev Pemda tersebut. Sebab kalau tidak ditindaklanjuti, pemda bakal menolak hasil pekerjaan kontraktor. Sekda Lobar, Dr. H. Baehaqi menegaskan, semua hasil temuan dari monev ini akan dihimpun. Kemudian hasil monev ini digunakan untuk mengevaluasi rekanan.

Iklan

“Setelah Monev ini, kami akan rapatkan hari Jumat, kalau tidak melakukan (tindaklanjut) hasil monev kan bisa kita tolak hasil pekerjaannya. Setelah dia laksanakan itu barulah kita terima,” tegas dia.

Disinilah, kata dia, tugas pengawasan dilakukan disaat pengerjaan untuk memperlurus pekerjaan yang tak sesuai dengan perencanaan. “Supaya disaat pelaksanaan, tidak terjadi kesalahan pekerjaan,” ujar dia.

Setelah selesai pengawasan, barulah dilakukan evaluasi. Lebih jauh dijelaskan, dalam monev ini tidak hanya mengecek progres, namun juga ketersediaan material yang dikhawatirkan menjadi hambatan pengerjaan proyek.

Selain itu, mengecek kualitas kerja. Monev ini juga untuk melihat kesesuaian perencanaan dengan kondisi riil di lapangan. Jika kondisi tak sesuai dengan perencanaan maka pihak pemda memberikan teguran dan menjadi catatan bagi kontraktor.

Bagaimana peranan OPD dalam pengawasan? Terkait hal ini, pihaknya akan terus memaksimalkan pengawasan OPD.

Pada lanjutan Monev, tim mengecek tiga titik proyek, yakni proyek pembangunan SMP 2 Gunungsari. Proyek pembangunan Gedung SMPN 2 Gunungsari di Desa Penimbung ini dikerjakan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) dengan nilai kontrak sebesar Rp1.149.000.000. Proyek yang dikerjakan oleh CV. Filar Mandiri ini sudah mencapai progres 25,53 persen dari rencana 22,6 persen.

Setelah itu, tim meluncur ke proyek pasar Gunungsari yang sempat mandek. Progres fisiknya sudah mencapai 57.09 persen realisasi 82,53 persen. Artinya melampui target. Diketahui Pasar Gunungsari juga dibiayai dari DAU sebesar Rp1.350.000.000, dengan nilai kontrak Rp1.088.593.000. Pengerjaannya juga 120 kalender dikerjakan oleh CV. Tri Harapan.

“Ada beberapa tadi kita tegur kontraktornya, tidak terlalu krusial masalahnya karena terkait kerapian dalam bekerja. Cuman keluhan-keluhan dari pedagang dari aspek desin pasar itu,” tukas dia.

Kemudian, tim mengecek proyek jalan dan lapak di Senggigi. Pengerjaan proyek baru mencapai 20,53 persen yang seharusnya 22,82 persen. Terdapat deviasi minus, yang artinya tidak mencapai target dari rencana.

Sumber anggaran dari proyek ini dari dana pinjaman daerah sebesar Rp2.600.000.000, nilai kontrak Rp2.185.974.369,17. Kontraktor proyek adalah PT. Adhi Graha Kencana dikerjakan pada tanggal 7 Agustus 2020 lalu dan akan berakhir pada tanggal 4 Desember 2020 mendatang.

Tim menegur PPK dan kontraktor karena dari segi gambar yang tak sesuai. Salah satunya, tidak dipasangkan besi terali pada lapak tersebut. Sehingga kalau tidak dipasangkan terali pada bagian atas akan rawan pencurian. Karena atapnya dari kalsiboard, mudah dibobol. Sehingga perlu dipasangkan terali.

Hal ini juga kata dia dari aspek kemanfaatan agar pedagang mau menempati lapak tersebut. Dari pihak rekanan sendiri, lanjut dia, sanggup membangun melalui CCO (tambahan volume pekerjaan dari kontrak yang ada) tanpa menambah biaya.

Pada Kamis, 24 September 2020, tim melajutkan Monev proyek fisik ke Sekotong. Disini tim yang dipimpin langsung Bupati dan Wabup mengecek proyek jalan Pelangan-Batu Putih sepanjang 9,3 kilometer. Proyek senilai Rp9,1 miliar ini progresnya 6,33 persen dari rencana 5,5 persen. (her)