Tak Punya Rumah, Pria Ini Belasan Tahun Tinggal Dekat Pembuangan Air Toilet

Mataram (Suara NTB) – Pada Senin (20/2/2017), sekitar pukul 11.00 WITA, hiruk pikuk pedagang maupun pembeli di Pasar Rembiga mulai surut. Di parkiran di depan pasar, tak ada lagi kendaraan yang terparkir. Saat Suara NTB masuk ke dalam bangunan utama pasar atau los para pedagang, suasana juga tak terlalu ramai. Di sisi timur, di atas saluran pasar, kondisinya tampak semrawut. Berbagai jenis barang menumpuk di satu sisi.

Ternyata di balik tumpukan barang tersebut, tinggal sebuah keluarga. Ahmad Nawawi, penjaga pasar selama 15 tahun ini tinggal di tempat yang dapat dikategorikan tak layak bahkan kumuh itu. Di sisi timur pasar, bersisian dengan tembok ada saluran yang memanjang hingga ke selatan. Saluran itu juga menjadi tempat pembuangan air dari toilet pasar yang berada di ujung selatan bangunan.

Iklan

Di atas saluran yang tertutup beton itu, Nawawi tinggal bersama istri yang baru dinikahinya sekitar sebulan lalu. Di sisi utara, terdapat sebuah ranjang kayu beserta kasur kemudian sebagai pembatas digunakan tirai berwarna toska usang.

Di balik gerobak pedagang inilah Ahmad Nawawi tinggal selama belasan tahun.

Saat Suara NTB menyambangi tempat tinggalnya, Nawawi beserta istri sedang duduk santai di bawah tempat tidurnya yang dilapisi bekas spanduk dan karpet seadanya.

Selain itu terdapat sebuah lemari dan meja yang digunakan sebagai tempat menyimpan perabot. Dan di sisi selatan, istri Nawawi, Fatmawati biasanya memasak dan mencuci piring.

Tempat tinggal itu tak berpintu, dan tak ada kamar mandi. Selain tak layak disebut tempat tinggal, atmosfernya juga sumpek dan panas.

“Di sini panas sekali. Tapi bagaimana lagi karena tanggung jawab dan tugas,” kata Nawawi.

Karena tak ada kamar mandi, ia pergi ke kali di belakang pasar. Di dalam pasar ada toilet, namun ia lebih senang mandi atau mencuci di kali.

“Toilet sih ada, tapi kurang puas rasanya,” ujarnya. Fatmawati juga mengaku tak keberatan tinggal di tempat tersebut.

Ia telah tinggal di tempat itu sejak pertama kali Pasar Rembiga selesai dibangun. Nawawi mengatakan tak memiliki rumah permanen di tempat lain. Dulu, ia pernah memiliki rumah namun kemudian dijual seharga Rp 7 juta dan memilih tinggal di pasar. Ia mengatakan para pedagang sering kehilangan barang-barangnya sehingga harus ada penjaga yang tetap siaga selama 24 jam. Ia menceritakan pernah terjadi kehilangan selama tiga kali dan tiga kali pula ia harus mengeluarkan ganti rugi.

“Tidak disuruh mengganti tapi itu bentuk tanggung jawab saya,” ujarnya.

Warga Lingkungan Dasan Lekong, Kelurahan Rembiga ini mengatakan sangat ingin memiliki rumah atau tempat tinggal yang layak. Namun ia mengaku tak mampu membeli atau membangun rumah sendiri.

“Ada keinginan buat rumah di luar. Pingin sekali, tapi keadaan seperti ini. Belum ada uangnya. Ndak apa-apa tinggal di sini, seadanya. Maklumlah memang keadannya begini,” katanya.

Sebagai penjaga pasar, ia digaji Rp 1,2 juta per bulan oleh Pemkot Mataram. “Dulu awalnya Rp 300 ribu, tapi kemudian naik, dan sekarang jadi Rp 1,2 juta,” tandasnya. (ynt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here