Tak Ada Warga Mataram Meninggal karena DBD

Salah satu warga Karang Pule sedang mengecek kondisi anaknya di ruang IGD Puskesmas Karang Pule, Kamis, 27 Februari 2020. (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Sampai akhir bulan Februari 2020, sebanyak 176 warga Mataram menderita kasus demam berdarah dengue (DBD). Kendati penanganan Pemkot dinilai lemah oleh beberapa pihak, namun kasus DBD akibat gigitan nyamuk itu belum ada yang meninggal.

Kepada Suara NTB, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, Dr H Usman Hadi membenarkan tingginya kasus DBD yang menjangkit warga Mataram. Kata Usman, semua usia penduduk Mataram bisa saja terjangkit DBD. Penderita DBD di Mataram terbanyak di dua kelurahan yakni kelurahan Monjok dan Karang Baru.

Iklan

“Masih tertinggi di dua kelurahan itu. Tapi sejauh ini belum ada sampai mengalami kematian,” katanya, Kamis, 27 Februari 2020.

Usman berharap kasus DBD tidak mengalami peningkatan. Selain itu lanjut dia, masyarakat juga diminta ketika ada gejala yang merujuk pada indikasi demam setelah digigit nyamuk untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan (Faskes) terdekat. “Kita menghimbau untuk semua warga, jika ada indikasi demam setelah digigit nyamuk untuk segera ke Faskes. Karena trombosit itu harus segera ditangani supaya tidak kena DBD,” pungkasnya.

Kepala Puskesmas Karang Pule Kecamatan Sekarbela, dr. Indrajati Achmad mengatakan, selama dua bulan terakhir, dari bulan Januari hingga Februari, pihaknya sudah menangani sebanyak 22 kasus DBD positif. Pihak Puskesmas sudah menangani semua kasus DBD ketika ada laporan warga Sekarbela. Ia pun menjelaskan, sampai saat ini pihaknya sudah lakukan pemeriksaan jentik nyamuk di rumah penderita DBD. “Nanti ada tim kita yang turun secara bersama-sama ke lapangan,” jelasnya.

“Pas turun, paling bagus kita cek PSN (pemberantasan sarang nyamuk). Sering kita dengar adanya fogging. Tapi sejauh ini, fogging tidak terlalu selektif,” katanya. Biasanya kata Indrajati, jika warga ingin melakukan PSN, mereka bisa bersurat ke puskesmas. “Kita akan tindaklanjuti, petugas kita langsung turun,” pungkasnya.

Ia mengaku, sejauh ini kasus DBD di Sekarbela khususnya, memang ada peningkatan. Peningkatan itu kata dia, kemungkinan akibat cuaca ekstrem yang melanda Mataram. “Ini kan kadang hujan kadang tidak, cuaca ekstrem ini kan tidak menentu,” katanya.

Lanjut dia, dari data penderita DBD yang dibawa ke Puskesmas, mayoritas penderita berada di usia dewasa. “Kalau secara umur belum digolongkan, yang jelas kebanyakan orang dewasa,” pungkasnya.

Untuk melihat peningkatan kasus DBD, perlu juga diperhatikan kasus yang sama di bulan yang sama di tahun yang berbeda. Untuk tahun 2019 kata Indrajati, penderita DBD di Karang Pule berjumlah 100 kasus. “Itu terhitung dari bulan Januari sampai Desember, tahun 2019,” katanya.

“Tapi rata-rata setalah di Puskesmas kita rujuk ke rumah sakit kota atau provinsi,” bebernya. Ada pun faktor utama rentan terkena kasus DBD kata Indrajati, murni karena gigitan nyamuk. “Secara teori memang begitu, murni karena gigitan nyamuk. Tapi kan butuh upaya serius untuk membunuh jentik ini,” katanya.

Ia pun memaparkan, selama ini pelayanan kasus DBD dan pelayanan lainnya di Puskesmas Karang Pule tidak membedakan penderita. “Harus sesuai dengan SOP semua. Tapi kan kalau distresing untuk menuyikapi kasus DBD ini, harus lebih selektif lagi menyiapkan logistiknya,” tutupnya. (viq)