Tak Ada Pawai Ogoh – ogoh di Mataram

Lalu Martawang. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Penyelenggaraan pawai ogoh-ogoh di Kota Mataram ditiadakan pada perayaan Hari Raya Nyepi tahun ini.Hal ini mengantisipasi terjadinya penularan virus corona.

Kepastian ditiadakannya pawai ogoh – ogoh, kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Mataram,Drs.I Nyoman Suwandiasa dikonfirmasi,Senin, 8 Maret 2021 setelah berkomunikasi dengan pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) NTB. Bahkan,PHDI telah menindaklanjuti surat dari Satuan Tugas Covid-19 NTB dengan mengeluarkan surat edaran ke pengurus pura dan banjar,agar tidak menyelenggarakan pawai ogoh – ogoh. “Tadi (kemarin,red) saya langsung komunikasikan dengan pengurus PHDI NTB. Pada intinya pawai ogoh – ogoh ditiadakan,”kata Nyoman.

Iklan

Surat dari PHDI lanjutnya, telah ditindaklanjuti oleh pengurus pura dan banjar dengan tidak membentuk panitia.Nyoman mengatakan, tahun 2020 lalu, pawai ogoh – ogoh dilaksanakan skala lingkungan. Hal itu dikarenakan masyarakat telah menghimpun dana sejak awal,sehingga harus dipertanggungjawabkan. Konteksnya berbeda dengan tahun ini,tidak ada persiapan apapun di banjar maupun pura.Masyarakat memahami kondisi pandemi Covid-19 agar tidak terjadi penularan atau klaster baru.“Saya kira masyarakat telah memahami kondisi pandemi saat ini,”tandasnya.

Asisten I Setda Kota Mataram,Lalu Martawang mengatakan,masyarakat memahami sampai saat ini dihadapi dengan pandemi Covid-19. Artinya, seluruh aktivitas yang berpotensi terjadinya penularan dilakukan pembatasan.Tetapi aktivitas atau prosesi keagamaan diharapkan tetap berjalan dengan khidmat dan tetap mengedepankan protokol kesehatan.“Kita memahami bahwa masyarakat memiliki perspektif bahwa tidak menjadikan masyarakat berada pada posisi mengkhawatirkan dari aspek penyebaran Covid-19,”katanya.

Dalam pelaksanaan ibadah bagi umat Hindu sambungnya, diharapkan tetap memperhatikan 5 M yakni,menggunakan masker,menjaga jarak,mencuci tangan pakai sabun,mengurangi mobilitas dan menghindari kerumuman. Pengaturan semacam ini tidak lain menghindari munculnya klaster baru,sehingga jangan sampai Mataram menjadi klaster acara keagamaan. Meskipun demikian,masyarakat juga tidak meninggalkan aspek agama hanya gara – gara Covid-19. “Keseimbangan formulasi mengikhtiarkan pencegahan dengan tetap melaksanakan prosesi dengan prokes yang ketat,”demikian kata dia. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional