Tak Ada Malam Pergantian Tahun di Mataram

Dua orang siswa bermain di Taman Sangkareang usai pulang sekolah, Senin, 29 November 2021. Taman Sangkreang serta destinasi wisata lainnya di Kota Mataram akan ditutup pada malam pergantian tahun baru. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah taman dan objek wisata di Kota Mataram akan ditutup pada malam pergantian tahun baru. Aparat keamanan akan disiagakan. Aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerumunan akan dibubarkan. Hal ini mengantisipasi lonjakan kasus atau penyebaran varian baru Covid-19.

Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kota Mataram, Drs. I Nyoman Suwandiasa menjelaskan, mempedomani Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 62 Tahun 2021 tentang pencegahan dan penanggulangan corona virus disease 2019 pada saat Natal dan Tahun Baru. Bahwasannya, alun – alun atau taman yang menjadi tempat rekreasi masyarakat ditutup mulai tanggal 31 Desember sampai dengan 1 Januari 2022.

Iklan

Selain itu, pengetatan dan pengawasan terhadap protokol kesehatan di gereja atau tempat yang difungsikan sebagai tempat ibadah pada saat perayaan Natal, tempat perbelanjaan dan tempat wisata lokal. Destinasi wisata diawasi ketat dengan memberlakukan kebijakan sesuai dengan Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3. “Kalau mempedomani Inmendagri semua taman dan tempat yang berpotensi adanya kerumunan pada malam tahun baru akan ditutup,” kata Nyoman ditemui, Senin, 29 November 2021.

Sejumlah taman yang ditutup di antaranya, Taman Sangkareang, Taman Udayana, Taman Selagalas. Pantai Loang Baloq, Pantai Ampenan dan lain sebagainya. Kebijakan penutupan destinasi ini sambungnya, tergantung keputusan dari kepala daerah. Biasanya kata Nyoman, Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana akan mengambil keputusan sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat. “Biasanya Pak Walikota mengambil kebijakan sama dengan kebijakan pusat,” jelasnya.

Objek wisata maupun taman akan ditempatkan petugas untuk memastikan, apakah masyarakat melaksanakan protokol kesehatan secara ketat atau tidak. Namun demikian, pengalaman sebelumnya sudah ada gambaran bentuk pengawasan. Petugas gabungan dari TNI, Polri, Satuan Polisi Pamong Praja dan instansi terkait akan mengecek penerapan prokes. Kebijakan itu mengantisipasi munculnya kasus Covid-19 atau varian delta yang sudah menyebar di Hongkong dan Afrika. “Kita tidak ingin ada lonjakan kasus Covid-19,” demikian harapnya. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional