Tak Ada Jaringan, SD di Langgudu Tetap Terapkan Belajar Manual

Zainuddin (Suara NTB/Uki)

Bima (Suara NTB) – Sejak pandemi virus corona, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) semua jenjang di Kabupaten Bima ditiadakan hingga waktu yang belum ditentukan. Siswa pun diimbau agar belajar sementara di rumah dengan menggunakan sistem daring (online).

Akan tetapi hal itu justru berbeda di Inpres Kangga Kecamatan Langgudu. Para siswa dan guru masih tetap melalukan aktivitas KBM secara manual dengan menerapkan sistem belajar kelompok dengan tetap jaga jarak dan pertemuan hanya satu kali seminggu.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Bima, Drs. Zainuddin  MM, Rabu, 8 April 2020. System pembelajaran itu diketahui saat dirinya melakukan sidak pasca diberlakukan pembelajaran di rumah.

Saat melakukan pemantauan langsung, Zainuddin mengaku awalnya terkejut melihat adanya aktivitas di sekolah setempat, padahal ada himbauan jika KBM ditiadakan sementara waktu.

“Melhat kondisi ini saya langsung tanyakan kepada Kepala Sekolahnya, alasan tidak mengikuti himbauan ditiadakan KBM,” katanya.

Berdasarkan penjelasan Kepala Sekolah, lanjutnya KBM dilakukan dengan system pembagian kelompok belajar berdasarkan jenjang serta tetap membatasi jarak waktu hingga pertemuan.

“Dari kelas 1 sampai 6 masing-masing dibagi menjadi tiga kelompok dengan satu kelompok terdiri dari lima siswa. Satu kelompok dibimbing satu guru,” katanya.

Menurutnya, proses bimbingan belajar bagi kelas 4, 5 dan 6 dengan memberikan tugas sekolah dan dikumpulkan seminggu kemudian. Sedangkan kelompok siswa kelas 3, 2 dan 1 hanya kegiatan membaca dan menulis.

Diakuinya, tempat pertemuan antara guru dan siswa juga tidak harus di sekolah. Namun juga dilakukan di rumah warga, dengan tetap menjaga anjuran sosial dan physical distancing.

“Kegiatan ini tidak hanya dilakuka  di sekolah setiap hari. Tapi hanya dilakukan satu kali dalam seminggu,” katanya.

Zainuddin menambahkan pembelajaran yang dilakukan tersebut ditengah keterbatasan jaringan internet. Mengingat sekolah tersebut berada di daerah pendalaman yang belum memadai jaringan internet.

“Dari potret ini masih ada sekolah yang tetap memberikan pelayanan pembelajaran dengan metode yang berbeda agar siswa tidak ketinggalan mata pelajaran,” pungkasnya. (uki)