Tak Ada Aktivitas, Perusahaan Kakap Pemegang Izin HTI Kena Peringatan Keras

Mataram (Suara NTB) – Sebuah perusahaan kelas kakap pemegang izin Hutan Tanaman Industri (HTI) di Bima kena peringatan keras dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Perusahaan tersebut adalah PT. Konesia dengan izin pemanfaatan seluas 50 ribu hektar.

“PT. Konesia, belum kerja dia. Makanya diperingati sama kementerian juga dia. Dia dapat peringatan keras kemarin,” kata Kepala Dinas LHK NTB, Ir. Madani Mukarom, B.Sc.F, M.Si dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 30 Agustus 2017.

Iklan

Madani menjelaskan, pencabutan izin merupakan kewenangan kementerian LHK. Kementerian LHK dan Pemprov NTB mengawasi perusahaan pemegang izin HTI tersebut. Menurut Madani, jika perusahaan itu tidak mengindahkan peringatan Kementerian LHK, maka akan dikenakan saksi pencabutan izin.

“Sampai sekarang belum ada yang diusulkan dicabut. Kita ada tim sama kementerian. Tim itu buat  laporan, nanti kementerian yang memberikan sanksi. Kalau teguran satu, dua tidak laksanakan baru diberikan sanksi oleh kementerian,” ucapnya.

Sementara itu, perusahaan kakap lainnya seperti Agro Wahana Bumi (AWB) yang beroperasi di Pulau Sumbawa akan memperpanjang Rencana Kerja Tahunan (RKT). Kemudian mereka juga mau memenuhi tunggakan dana reboisasinya. Dengan dikeluarkannya peringatan, perusahaan ini menyatakan akan segera menyetor tunggakan dana reboisasinya.

“Sekarang sampai Agustus kita tunggu. Kita memantau pekerjaan dia. Pemantauan evaluasi itu berjalan tiap tahun. Kita memantau Rencana Kerja Tahunannya,” terang Madani.

Pemprov NTB melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mengaku telah memanggil dua perusahaan besar yang memegang izin Hutan Tanaman Industri (HTI) di NTB. Dari dua perusahaan kelas kakap tersebut, baru satu yang akan melakukan aktivitas rehabilitasi lahan.

Ada dua perusahaan yang memperoleh izin tapi belum melakukan aktivitas 4-5 tahun terakhir. Dua perusahaan kelas kakap yang menelantarkan  izin HTI itu adalah PT. Konesia yang beroperasi di Bima dengan luas areal 50 ribu hektar. Kemudian, PT. Usaha Tani Lestari yang beroperasi di Bima dan Dompu tepatnya di wilayah Tambora dan Soromandi seluas 30 ribu hektar. (nas)