Tahun Politik, BI Ingatkan Waspadai Uang Palsu

Mataram (Suara NTB) – Bank Indonesia terus memantau pergerakan politik, apalagi tahun 2018 memasuki tahun paling penting Pilkada. Ketersediaan uang mulai diantisipasi.

Demikian disampaikan, Pimpinan Bank Indonesia (BI) NTB, Prijono di Mataram, Rabu, 10 Januari 2017.  Tahun politik diyakini akan dapat mendongkrak berbagai sektor ekonomi. Tingkat kebutuhan orang akan mengalami kenaikan, tentunya akan berdampak langsung terhadap kebutuhan uang. Baik tunai maupun non tunai.

Iklan

Meski begitu, tidak disebutkan pasti berapa besaran uang yang disiapkan BI untuk memasok kebutuhan uang di masing-masing perbankan. ‘’Secara detail belum, tapi kita lakukan antisipasi. Jangan sampai pas masyarakat sedang butuh uang, kemudian kita tidak mampu siapkan, bagaimana itu,’’ kata Prijono.

Memasuki tahun politik, ekonomi mikro dianalisa akan bergerak. ‘’Lebih banyak sisi positifnya terhadap perekonomiannya,’’  kata Prijono. Kegiatan-kegiatan diskusi akan meningkat, konsolidasi, rapat-rapat, situasinya akan berbeda dari biasanya.

Meski begitu, sejauh apa pengaruhnya, menurut Prijono, masih terlalu dini untuk menghitungnya. Yang jelas, kegiatan-kegiatan tersebut tak sedikit membutuhkan logistik.  ‘’Namanya spanduk, suvenir-suvenir kampanye dan segala macamnya, akan mendorong sektor perdagangan,’’ ujarnya.

Pemantauannya aktivitas politik ini telah dilakukan sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Tetapi sejauh ini, belum terlihat adanya pergerakan arus uang keluar dari Bank Indonesia. Semuanya masih dalam tataran normal untuk saat ini. ‘’Tapi kalau memang dibutuhkan banyak, kita siapkan. Selama itu untuk hal-hal yang positif,’’ ujar orang nomor satu Bank Indonesia NTB ini.

Di tahun politik ini juga, secara tidak langsung muncul kekhawatiran Bank Indonesia, atas peredaran uang palsu. Antisipasi dilakukan dengan mengedukasi kelompok-kelompok masyarakat, sosialisasi tentang ciri-ciri keaslian uang.

Prijono juga mengingatkan kepada masyarakat untuk melakukan transaksi tunai tidak berlebihan. Apalagi transaksi dengan uang cash pada malam hari sangat berisiko penyusupan uang palsu. Karena itu, ia menyarankan agar transaksi dalam jumlah besar, dapat dilakukan dengan sistem non tunai. Lebih mudah, praktis dan lebih aman.

‘’Kalau transaksinya besar, lewat e-banking saja. Itu jauh lebih aman,’’ pesan Prijono. (bul)