Tahun Lalu, 580 Penderita HIV/AIDS Terdata di Mataram

Usman Hadi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Penderita HIV/AIDS di Kota Mataram masih tinggi. Data November tahun 2018 lalu sebanyak 580 penderita HIV/AIDS di Mataram.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram, H. Usman Hadi mengatakan, untuk data tahun 2019 ini, Dikes Kota Mataram belum tahu jumlahnya. Akan tetapi, sebagai ibukota Provinsi, wajar jika Mataram memiliki penderita HIV/AIDS terbanyak.

Iklan

“Kota Mataram kan dekat dengan lingkungan hiburan, jadi bisa saja penyintas juga tidak berobat ke puskesmas,” katanya kepada Suara NTB, Selasa, 26 November 2019.

Menurut Usman, Pemkot Mataram sudah menyiapkan semua fasilitas yang menunjang pengobatan bagi penyintas HIV/AIDS. Katanya, para penyintas bisa langsung berkonsultasi ke balai layanan rumah sakit Kota Mataram, Provinsi, maupun 11 puskesmas di Mataram.

“11 puskesmas sudah menjadi Layanan Komperhensif Berkesinambungan (LKB), Artinya apa, sudah bisa melayanai penyakit IMS (penyakit kelamin). Untuk imunitas seksual, HIV/AIDS, hepatitis, HGO dan sebagainya, ekses pengobatannya sudah gampang di kota Mataram,” kata Usman.

Menurutnya, pola perilaku dari masyarakat Kota Mataram sangat penting untuk menekan angka HIV/AIDS. Karena, bagaimana pun Dikes Kota Mataram berupaya menurunkan jumlah penyintas, Pemkot sendiri tidak akan bisa merubah pola perilaku penyintas.

“Yang sudah kita lakukan adalah salah satunya kita imbau untuk menggunakan alat pengaman (kondom). Kalau bisa, stigma penyintas juga lebih terbuka. Bilamana terkena, mungkin bisa lapor ke Faskes RSUD kota Mataram, Provinsi dan puskesma untuk diperiksa kesehatannya,” jelasnya.

Biasanya kata Usman, penyintas kerap tidak mengetahui dirinya menderita HIV/AIDS. Padahal penyebaran virusnyalah yang perlu ditindaklanjuti. “Kerap memang itu terjadi. Yang harus dilakukan ialah mencegah visurnya supaya tidak menular kemana-mana,” katanya.

Ia pun berharap, dari sosialisai yang dilakukan komisi penanggulangan AIDS (KPA) kota Mataram terus aktif melakukan sosialisasi di tengah masyarakat. Kesiapan fasilitas kesehatan juga perlu dimaksimalkan. Untuk saat ini jelas Usman, Pemkot belum melakukan pengecekan ke tempat hiburan di Mataram.

“Tapi intinya, kesiapan faskes, sudah siap dalam segi pengobatan dan obatnya,” katanya. Untuk menaggulanginya kata Usman, perlu ada perubahan perilaku secara radikal.

“Itu yang terpenting, kita kan tidak bisa mengubah perilaku seseorang,” tutupnya. (viq)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional