Tahun Depan, NTB akan Miliki Balai Berikat dan Kawasan Industri

EKSPO INDUSTRIALISASI: Gubernur NTB, H.Zulkeflimansyah menghadiri gelaran ekspo industrialisasi NTB, Rabu (30/12).

Mataram (Suara NTB) – Geliat industrialisasi NTB semakin banyak dan produktif. Bahkan, Dinas Perindustrian mulai merencanakan membangun balai berikat untuk kawasan industri bersama mitra kerja Balai Karantina dan Bea Cukai.

Balai berikat adalah fasilitas insentif fiskal di bidang kepabeanan, yaitu memberikan fasilitas penangguhan, pembebasan atau pengembalian terhadap bea masuk, PPN, dan Pajak Dalam Rangka Impor lain kepada pelaku industri manufaktur yang  dirumuskan Bea Cukai sebagai industrial assistance sebagai kebijakan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.

‘’Kita sudah melampau target intervensi IKM tahun ini sebesar 3,2 persen dari 2776 IKM menjadi 4.662 IKM,’’ sebut Kepala Dinas Perindustrian, Nuryanti SE, ME pada gelaran ekspo industrialisasi NTB, Rabu, 30 Desember 2020.

Saat ini katanya, pihaknya menaungi 817 IKM agro, 206 IKM ekokreatif, 500 IKM di Balai Kemasan dan 139 IKM lainnya. Jumlah ini akan makin bertambah seiring keseriusan pelaku UKM dan IKM untuk mendaftar dan mulai merambah industri. Pemerintah daerah sendiri telah memiliki Perda Industrialisasi dan Pergub ekonomi kreatif untuk mendukung geliat pelaku ekonomi kecil menengah menuju ekosistem industri mulai dari hulu ke hilir.

Namun demikian kendala izin edar dari BPOM yang harus mengantongi sertifikasi pangan untuk bahan baku industri makanan kemasan dan olahan masih harus dipenuhi dengan baik oleh pelaku usaha.

Dalam gelaran ekspo tersebut, Pemerintah Provinsi juga memberikan penghargaan pada UKM yang menang lomba inovasi nasional antara lain kreasi tudung saji, gula aren, produk organik sampai desain perhiasan mutiara.

Hal itulah yang membuat Gubernur NTB, Dr.H. Zulkieflimansyah makin optimis bahwa industrialisasi adalah jawaban ekonomi NTB di masa depan.

‘’Para industrialis ini harus bisa mengubah ketidakberdayaan menjadi andalan dan baru NTB yang melakukannya. Bahkan secara nasional pemerintah pusat sendiri belum memiliki program permesinan yang spesifik untuk industri kecil menengah,’’ ujar  Gubernur Zul.

Industrialisasi juga tak lantas melupakan sektor pertanian dan perikanan karena justru ketidakberdayaan petani dan nelayan dalam mengelola dan menjual bahan mentah menjadi andalan dengan sentuhan industri mulai dari mesin penyimpanan, pengolahan sampai pengemasan dan desain produksi baru kemudian memasarkannya.

‘’Dinas Perdagangan juga harus jeli menangkap peluang pasar. Identifikasi kebutuhan pasar agar produksi mudah diserap,’’ pesan gubernur. (r)