Tahun 2021, Kasus Covid-19 di NTB Diprediksi Tembus 25 Ribu

Ilustrasi Covid-19 (Gambar oleh fernando zhiminaicela dari Pixabay)

Mataram (Suara NTB) – Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mataram, dr. Hamsu Kadriyan, Sp.T.H.T.K.L (K)., M. Kes., memprediksi kasus Covid-19 di NTB hingga akhir 2021 bisa menembus 25 ribu kasus. Sehingga, untuk menekan terjadinya lonjakan kasus, program vaksinasi harus berjalan sukses dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan Covid-19 harus tetap dijalankan meskipun sudah ada vaksin.

‘’Kalau perhitungan kasar itu, kasus yang bisa terjadi 5.000 pangkat dua. Jadi kemungkinan sekitar 25.000 tahun 2021 kalau tidak ada intervensi yang spesifik,’’ ujar Hamsu dikonfirmasi Suara NTB, Selasa, 5 Januari 2021.

Ia memperkirakan kasus Covid-19 bisa menembus 25 ribu kasus jika vaksinasi kurang efektif atau banyak masyarakat yang tidak mau divaksin. ‘’Bisa 25.000 kasus di akhir tahun 2021,’’ sebutnya.

Untuk itu, langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah lonjakan kasus Covid-19 di tahun 2021. Antara lain, Satgas harus tetap memastikan masyarakat tetap patuh menjalankan protokol kesehatan. Kemudian, program vaksinasi harus bisa disukseskan.

‘’Suksesnya vaksinasi ini bukan hanya dari vaksinnya. Tetapi juga dari sisi masyarakatnya juga. Karena disinyalemen, banyak sekali hoaks segala macam itu. Sehingga banyak (masyarakat) yang menolak, ndak setuju segala macam. Itu juga perlu tetap disosalisasi. Edukasi kepada masyarakat soal vaksinasi,’’ sarannya.

Pada  prinsipnya, kata Hamsu, yang paling utama adalah me-refresh kembali protokol kesehatan kepada masyarakat. Supaya tetap menjalankan protokol kesehatan. ‘’Jangan sampai lengah, jangan sampai tambah melalaikan protokol kesehatan,’’ imbuhnya.

Menurutnya, patuh terhadap protokol kesehatan merupakan cara yang paling murah dan paling gampang untuk mencegah penularan Covid-19. Pasalnya, jika hanya mengandalkan vaksin, membutuhkan anggaran yang cukup besar mencapai triliunan.

‘’Jadi kalau bisa menjalankan protokol kesehatan, itu jauh lebih murah. Meskipun telah ada vaksin, masyarakat tak boleh lalai dengan protokol kesehatan. Karena vaksin itu mungkin efektivitasnya beberapa bulan saja. Jadi, mungkin perlu beberapa kali divaksin,’’ katanya.

Sementara, sumber daya yang dibutuhkan untuk vaksin cukup mahal. Belum lagi untuk menyimpan vaksinnya, butuh ruangan dengan suhu tertentu. Apalagi, kata Hamsu, untuk vaksin yang berasal dari Amerika dan Eropa, membutuhkan cold chain dengan suhu minus 20 – 70 derajat celcius.

Selain itu, kata Hamsu, syarat harus menunjukkan hasil rapid test antigen bagi pelaku perjalanan ke NTB harus tetap dilanjutkan. ‘’Jadi kalau menurut saya harus tetap persyaratan rapid test antigen. Ada upaya untuk mencegah supaya tak ada penularan dari pelaku perjalanan,’’ tandasnya.

Hingga Senin, 4 Januari 2021, Satgas Covid-19 Provinsi NTB mencatat jumlah kasus Covid-19 di NTB mencapai 5.860 orang. Dengan rincian, 4.854 pasien sudah sembuh, 294 pasien meninggal dan 712 orang masih perawatan atau isolasi. Selain itu, Satgas juga mencatat sebanyak 2.350 pelaku perjalanan masih karantina, 2.129 orang kontak erat masih karantina dan 314 kasus suspek masih isolasi. (nas)