Tahu Tempe Laris Manis di Musim Corona

Proses pencetakan tahu dan penirisan, sebelum dikirim ke pasar-pasar. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Perajin tahu tempe nyaris tak terdampak Covid-19, dibandingkan usaha-usaha lainnya yang kini masih mati suri. Permintaan tahu dan tempe justru naik.

Baik permintaan di dalam daerah, maupun di luar NTB. Tidak ada perajin tahu tempe di Kakalik, Kota Mataram yang gulung tikar, kata Ketua Koperasi Perajin Tahu Tempe Kekalik Jaya, H. Muh. Hasbah.

Iklan

Bahkan karena kuatnya usaha turun temurun ini bertahan dalam segala tantangan ekonomi, ada 12 orang perajin yang akan berangkat haji. Rencananya tahun 2020 ini, namun tertunda karena pandemi Covid-19.

Rata-rata penjualan normal, naiknya rata-rata 10 persen. Ada yang produksinya bahkan naik sampai 50 persen karena tingginya permintaan, kata H. Hasbah kepada Suara NTB, Selasa, 21 Juli 2020.

Pembelian dadakan juga tidak dilayani. Harus dipesan tiga hari sebelum dibutuhkan. Baru bisa dipenuhi kata H. Hasbah. Untuk kebutuhan hidup dan menyekolahkan anak-anak, para perajin menurutnya tak perlu terlalu keras memikirkannya.

Yang lain (usaha lain) banyak gulung tikar, tapi tidak dengan perajin tahu tempe. Bahkan yang tadinya setiap haris hanya produksi sebanyak 100 Kg bahan baku, ditambah menjadi sebanyak 150 Kg, jelas H. Hasbah.

Kenaikan permintaan, diduga karena persoalan daya beli masyarakat. Tahu tempe adalah menu untuk masyarakat dari berbagai lapisan. Pasar utamanya adalah pasar tradisional.

Sejauh ini, perajin belum menjangkau swalayan. Namun permintaan tetap tinggi. Selain permintaan lokal, dari luar daerah cukup intens pemesanannya. Dari Jakarta misalnya. Karena tak butuh waktu lama untuk pengiriman dari Lombok, hanya hitungan satu sampai dua jam.

Dari luar daerah itu banyak yang minta. Dari Jakarta paling banyak sekali. setelah corona ini naik permintaannya. Mungkin karena tidak bisa datang ke Lombok, imbuhnya.

Apalagi, tahu tempe hasil produksi perajin di Kota Mataram sudah cukup dikenal namanya karena kualitas dan citarasanya yang berbeda dengan tahu-tahu lainnya.

H. Hasbah mengatakan, harga tahu tempe sangat terjangkau bagi semua orang. Meski permintaannya tinggi, harga tidak serta merta disesuaikan (dinaikkan) oleh perajin, atau penjual.

Dan meski Covid-19, H. Hasbah mengaku tak kesulitan mendapatkan bahan baku, kedelai impor. Perajin menerima pesanan di tempat, harga perkuintalnya Rp820.000. Saat ini ada 113 perajin tempe dan 87 perajin tahu yang bertahan di Kekalik. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional