Tahap Awal, STIP akan Kembangkan Industri Permesinan

Masterplan STIP Banyumulek Lombok Barat. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Dalam lima tahun ke depan, pasangan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah-Wakil Gubernur, Dr.Hj.Sitti Rohmi Djalilah, akan membangun industri olahan di daerah ini. Untuk mencapai terbangunnya industri olahan, harus tumbuh industri permesinan.

‘’Industri olahan yang disebut itu tak harus industri besar. Tapi IKM (Industri Kecil Menengah) kita bisa masuk industri olahan,’’ kata Direktur Science Technologi Industrialisasi Park (STIP) Banyumulek, M. Khairul Ihwan, MT kepada Suara NTB, Sabtu, 2 Februari 2019.

Iklan

Ikhwan mengatakan, banyak sekali komoditi unggulan NTB. Seperti jagung, kopi, kacang, kedelai, kakao dan hasil laut. Saat ini, produk-produk unggulan NTB tersebut masih dikirim atau dijual dalam bentuk bahan mentah ke luar daerah. Sehingga nilai tambah yang didapatkan cuma satu.

Ketika produk-produk unggulan tersebut dapat diolah di dalam daerah. Maka nilai tambahnya akan semakin besar. Misalnya jagung, jika diolah menjadi pakan ternak maka nilai tambahnya akan berlipat.

‘’Ketika itu diolah, jagung misalnya menjadi pakan ternak. Dari Rp4.000 per Kg bisa menjadi Rp9.000 per Kg. Kemudian kopi juga sama. Demikian juga yang lainnya,’’ kata Ihwan.

Menurutnya, untuk mencapai industri pengolahan, harus tumbuh dulu industri permesinan. Karena industri permesinan inilah yang akan membuat alat-alat, mesin-mesin sederhana, mesin-mesin modern untuk mengolah produk-produk unggulan yang ada di NTB.

‘’Apa saja yang dibutuhkan untuk efisiensi itu, untuk meningkatkan nilai tambah, berasal dari pengembangan industri permesinan. Goal dari STIP ini adalah menghasilkan IKM permesinan,’’ jelasnya.

Nantinya, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait mengembangkan komoditas unggulan mereka. Misalnya Dinas Pertanian mengembangkan jagung, Dinas Peternakan mengembangkan unggas dan lainnya. ‘’Kami mengembangkan industri permesinan,’’ ujarnya.

Lantas bagaimana cara mengembangkan industri permesinan? Ihwan menjelaskan seseorang dikatakan memiliki kemampuan usaha permesinan apabila orang tersebut ditelurkan dari industri permesinan itu sendiri.

Maka, STIP akan membuka program sekolah bisnis satu tahun mulai tahun ini. Pada  2019, STIP akan merekrut 20 orang anak lulusan SMK menjadi calon wirausaha permesinan di STIP. Masing-masing kabupaten/kota sebanyak  dua orang.

‘’Ini cikal bakal lahirlah bengkel-bengkel atau IKM permesinan. Satu tahun dibina di STIP, diajar oleh para pengusaha, pebisnis. Nanti juga di STIP ada kawasan industri. Industri yang masuk nanti bulan Desember, akan masuk industri yang membuat mesin-mesin pengolahan. Mesin-mesin pascapanen, mesin-mesin pengolahan pangan. Pokoknya semua yang dibutuhkan IKM, kita bikin di STIP,’’ katanya.

Setelah lulus sekolah wirausaha, baru kemudian 20 lulusan STIP tersebut keluar. ‘’20 orang itu nanti ada ahli pembuat mesin kopi, pembuat mesin jagung, pembuat mesin kelapa,’’ jelasnya.

20 anak-anak NTB yang dididik menjadi wirausaha permesinan di STIP nantinya akan diarahkan spesialisasinya sesuai komoditas unggulan daerah mereka. Misalnya di Bima, komoditi unggulannya adalah bawang. Maka akan  diarahkan spesialisasinya membuat mesin-mesin pengolah  bawang dan lain sebagainya.

‘’Setahun membuka usaha di sana (STIP), berarti tahun ketiga dia harus keluar dari situ. Masuklah angkatan berikutnya. Begitu seterusnya, tema bahasan permesinannya juga berbeda. Bisa jadi mesin-mesin industri yang agak atas lagi sesuai kebutuhan kita,’’ imbuh Ihwan.

Tujuan utama pengembangan STIP, kata Ihwan adalah menciptakan wirausaha permesinan. Menurutnya konsep ini sebenarnya sudah lama, namun mulai sekarang dijalankan serius.

Selain mendidik anak muda NTB dapat menciptakan mesin-mesin pengolahan produk unggulan daerah. Dalam waktu dekat, STIP akan meningkatkan IKM permesinan yang belum mahir membuat mesin. Misalnya mesin packing, harus mampu dibuat di NTB.

Sehingga mesin packing tidak harus diimpor dari Cina. IKM permesinan akan diberikan pelatihan cara membuat mesin packing kopi, gula, kacang, kedelai. Sehingga kemasan produk UMKM NTB bisa lebih bagus.

Ia mencontohkan seperti produk kopi NTB harus bisa dikemas seperti kopi luwak. Sehingga kemasannya menjadi lebih menarik.

Saat ini infrastruktur belum terbangun di STIP Banyumulek. Pada tahun 2019 ini, STIP mendapatkan anggaran sebesar Rp15 miliar dari APBD provinsi untuk pembangunan sarana prasarana fisik.

Anggaran sebesar itu akan digunakan untuk membangun workshop. Workshop itulah yang nanti akan diisi oleh perusahaan-perusahaan mitra. Ada dari dalam daerah dan luar daerah. Itulah yang jadi kawasan industri.

Ia menjelaskan fungsi STIP adalah memfasilitasi pihak ketiga, mensinergikan sekolah wirausaha dan IKM yang ada di luar agar produk yang dihasilkan ber-SNI. Pada 2020 ditargetkan ada lembaga sertifikasi yang masuk ke STIP.

‘’Jadi, di kawasan Banyumulek seluas 26 hektare, lengkap dia untuk supporting system untuk pengembangan industri permesinan,’’ imbuhnya.

Menurutnya, IKM-IKM permesinan NTB sudah banyak yang mampu membuat mesin-mesin pengolahan. Bahkan banyak hasil produk IKM permesinan NTB yang dijual ke Pulau Jawa.

‘’Kelemahannya di Lombok ini belum percaya, orang NTB telah pintar-pintar dan mampu buat mesin. Harganya lebih murah dan lebih bagus. IKM kita harus dibina, biar dapat SNI,’’ ujarnya.

Dalam lima tahun ke depan, lanjut mantan Guru SMK ini, di STIP akan dibangun kawasan manufaktur, sekolah kewirausahaan, ruang temu bisnis kemitraan,  bursa kerja,  lembaga sertifikasi, showroom IKM, gedung Sains dan Teknologi untuk perguruan tinggi.

‘’Misalnya, Unram mau bikin mesik dryer jagung. Maka harus bermitra dengan IKM. Karena mereka yang membuat, merakitnya mesinnya. Kesemuanya merupakan rangkaian sistem, ujungnya lahirlah wirausaha permesinan,’’ tambahnya.

Saat ini, kata Ihwan sambil menunggu kegiatan di STIP. STIP melihat ada peluang untuk produksi rumah tahan gempa. Daripada lahan  belum terpakai, maka STIP mengundang pihak ketiga yang memproduksi bahan untuk rumah tahan gempa seperti Ruman Instan Sederhana Sehat (Risha)  maupun rumah pabrikan.

Disebutkan, sebanyak 15 perusahaan yang memproduksi bahan untuk rumah tahan gempa telah masuk dengan nilai investasi sekitar Rp5 miliar. 15 perusahaan tersebut diberikan waktu untuk berkegiatan di STIP sampai Juni mendatang. Pasalnya, setelah Juni, akan dimulai pembangunan berbagai sarana prasarana fisik di STIP.

Ihwan mengatakan saat ini program di STIP belum dimulai. Kehadiran 15 perusahaan yang memproduksi bahan rumah tahan gempa, untuk membantu percepatan pembangunan hunian tetap bagi korban gempa.

Pergub mengenai pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) STIP baru terbit sekitar seminggu yang lalu. ‘’Nanti bulan Juli pekerjaan fisik Rp 15 miliar akan kita mulai. Baru bisa kita isi Desember 2019,’’ jelasnya.

Untuk pembangunan sarana prasarana fisik di STIP, sebut Ihwan membutuhkan anggaran sekitar Rp150 miliar. Anggaran ini akan dialokasikan sampai lima tahun mendatang. (nas)