Tagih Kerugian Negara, Dua Rekanan Dispar Diduga Kabur

Bale Adat di kompleks RTH Pagutan Lingkungan Petemon, Kelurahan Pagutan Timur, Kecamatan Mataram masih bermasalah. Rekanan belum mengembalikan kerugian negara. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Inspektorat kesulitan menagih kerugian negara. Dua rekanan yang mengerjakan proyek di Dinas Pariwisata Kota Mataram diduga kabur dan hingga kini keberadaan mereka tak terlacak.
Rekanan yang mengerjakan tembok pembatas di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan tahun 2018 lalu senilai Rp1.380.000.000. Sementara, kontraknya Rp1.112.197.842,. Hasil audit BPK ditemukan kekurangan volume yang berpotensi merugikan kas daerah mencapai Rp105 juta. Rekanan telah membayar sebagian dan tersisa Rp65 juta.

Berikutnya rekanan yang membangun Bale Adat di kompleks RTH Pagutan Lingkungan Petemon, Kelurahan Pagutan Timur. Rekanan memenangkan tender dengan nilai kontrak Rp1.074.915.000 dari pagu anggaran Rp1.375.000.000., Dari hasil pemeriksaan ditemukan kerugian mencapai Rp90 juta.
Inspektur Inspektorat Kota Mataram, Lalu Alwan Basri menyampaikan, pihaknya sudah memanggil kepala Dinas Pariwisata, H. Nizar Denny Cahyadi dan pejabat pembuat komitmen (PPK) mengklarifikasi tindaklanjut dari temuan kerugian negara tersebut. Keterangan diterima bahwa Dispar telah mencari kedua rekanan tapi tidak ditemukan. Sudah dicari tapi tidak ada, jelasnya, Kamis, 4 Juni 2020.

Iklan

Auditor Pengawas Internal Pemerintah (APIP) terus mencari keberadaan dua rekanan tersebut. Informasi diterima pemilik perusahaan berada di Kabupaten Lombok Utara. Setelah ditelusuri tidak berada ditempat.
Alwan menambahkan, proses penyelesaian kerugian negara akan diserahkan ke majelis tim pertimbangan tuntutan perbendaharaan dan tuntutan ganti rugi. Permintaan Pak Sekda dipanggil satu kali lagi, ujarnya.

Tahun 2018 lalu, rekanan telah menandatangani surat keterangan tanggungjawab mutlak (SKTJM) untuk pengembalian kerugian daerah ke kas negara. Rekanan kembali beralasan karena terkena dampak dari gempa bumi lalu.
Alwan menegaskan, sebagai auditor Inspektorat telah berupaya mencari dan menagih yang bersangkutan. Tetapi sampai saat ini, tidak diketahui keberadaan mereka. Sudah tidak diketahui mereka tinggal dimana. Kita mau cari kemana juga susah, tandasnya. (cem)