Syaifuddin Juhri Dorong Warga Jaga Kelestarian Mata Air

Dompu (Suara NTB) – Kepala Desa Calabai, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Syaifuddin Juhri terpilih sebagai kepala Desa (Kades) terbaik nasional kedua tahun 2015. Berhasil memotivasi masyarakat untuk sama – sama membangun potensi di Desa dan menjaga kelestarian mata air menjadikan Syaifuddin Juhri terpilih mengikuti upacara 17 Agustus di istana Negara Jakarta.

Kepada Suara NTB saat dihubungi, Senin, 22 Agustus 2016, Syaifuddin Juhri mengatakan, inovasinya mendorong masyarakat untuk sama – sama membangun potensi Desa dan bekerjasama dengan enam desa tetangga untuk sama – sama peraturan kepala Desa bersama dalam menjaga kelestarian mata air daerah irigasi (DI) Latonda dan DI Kadindi sebagai sumber air irigasi serta air bersih warga. “Sudah menjadi rahasia umum, saat ini marak terjadi perambahan hutan. Ini yang kami advokasi melalui kesepakatan bersama (6 Kepala Desa). Alhamdulillah kelestarian mata air sekarang terjaga,” katanya.

Enam Desa tetangga Calabai yang dibangun kerjasamanya untuk menjaga kelestarian mata air yaitu Desa Kadindi, Kadindi Barat, Karombo, Pekat, dan Desa Nangamiro Kecamatan Pekat. Program ini dilakukan dalam bentuk rehabilitasi dan konservasi mata air. “Insya Allah tahun depan ini, Kami sudah memiliki kebun pembibitan Desa. Tujuannya bagaimana menyiapkan bibit dan menyuplai di titik air yang dianggap rawan,” terangnya.

Kelestarian mata air untuk kebutuhan air bersih dan irigasi pertanian menjadikan Desa Calabai kini cukup berkembang. Desa pun mengembangkan kembali lumbung pangan Desa yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). “Lumbung padi ini berjalan efektif dan dikelola oleh BUMDes. Sekarang kita juga tengah mengembangkan air minum dengan konsep PAMDes,” katanya.

Desa Calabai Kecamatan Pekat yang berada di lereng gunung Tambora ini memiliki tipelogi pantai dan berbukit dengan jumlah penduduk 3.922 jiwa dan 847 KK ini, juga tengah dikembangkan transpalansi terumbu karang dan pelestarian wilayah penetasan penyu. “Itu semua di antara yang menjadikan tim penilai memilih kami sebagai Kepala Desa teladan, selain pelaksanaan administrasi di Desa yang baik serta penerapan regulasi yang berlaku,” ungkapnya.

Ia pun menyampaikan, setiap Desa memiliki potensi masing – masing dan sangat tergantung dari kreativitas kepala Desa dalam mengelolanya serta kesadaran masyarakat setempat dalam membangun. Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) yang menjadi sumber pembiayaan di Desa Calabai tahun 2015 sebanyak Rp 600-an juta dan tahun 2016 sebanyak Rp 1,49 miliar. “Bagaimanapun kita memiliki potensi yang banyak, ketika tidak didukung sektor anggaran yang memadai, tidak akan mampu. Saya sadar, potensi Desa cukup besar dengan adanya dana Desa sehingga mampu mendorong itu semua,” akunya.

Hakekat otonomi Desa melalui penerapan undang – undang tentang Desa, kata Syaifuddin, bagaimana Desa bisa mandiri dan mampu membiayai dirinya dari potensi yang dimiliki. “Kalau kita tidak mampu melaksanakan dengan momentum dana Desa ini, sehingga kedepan kita tidak akan mampu mandiri,” katanya.

Desa Calabai juga tengah mengoptimalkan potensi pasar yang dimiliki setelah ditetapkan sebagai centra pasar di Kecamatan Pekat oleh pemerintah daerah (Pemda). Pasar Calabai menjadi satu – satunya pasar yang rutin setiap hari di Pekat dan dikelola oleh BUMDes. Karena rata – rata pasar di Pekat hanya pasar pada hari tertentu saja.

Selain itu, melalui program nawacita Presiden, kedepan enam dusun di Desa Calabai ditargetkan sudah terlayani kebutuhan air bersih. Begitu juga dengan program sanitasi, Desa akan memberi bantuan stimulan untuk jamban keluarga dan akan melakukan pengelolaan sampah pra bayar. “Saya ingin menunjukan kepada Desa seluruh Indonesia bahwa tidak hanya Desa yang ada di pulau Jawa yang mampu seperti ini. Toh kita di luar, berada jauh dan terpinggirkan dari pusat keramaian, jauh dari pemerintahan, kita mampu (untuk maju),” tegasnya. (ula)