Survey Jalur Pendakian Rinjani Dihentikan Akibat Gempa

Tim Survei membabat pohon tumbang akibat gempa yang menghalangi jalur pendakian Sembalun menuju Pelawangan. (Suara NTB/ist_TRC BPBD NTB)

Mataram (Suara NTB) – Gempa Magnitude 5,4 yang mengguncang NTB Minggu,  17 Maret lalu memaksa tim survei jalur pendakian Rinjani menghentikan aktivitasnya. Sedianya tim akan berlanjut hingga Selasa,  19 Maret 2019, tapi demi pertimbangan keselamatan, dihentikan saat baru sampai Pelawangan.

Tim survei terdiri dari unsur Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, ahli dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dinas Pariwisata NTB dan Basarnas Mataram, juga unsur TNI.

Iklan

Mereka berangkat Sabtu,  16 Maret  pagi lalu. Dibagi dua tim, sebagian menjajal jalur Senaru menuju Pelawangan dan tim lainnya melalui jalur Pelawangan.  Masing masing tim terdiri dari 27 orang, dengan pembagian tugas pembuka jalan dan surveyor.

“Demi kepentingan keselamatan, survei dihentikan, karena kita ketahui bersama  saat itu gempa,” kata Kepala Balai TNGR Sudiyono kepada Suara NTB, Selasa,  19 Maret 2019. Mesi masih tersisa waktu dua hari, namun pihaknya menginstruksikan agar semua tim turun.

Saat itu posisi tim sudah sampai ke Pelawangan, spot yang selam ini jadi lokasi camp pendaki. Sekitar 10 menit setelah tim tiba, gempa dua kali mengguncang Pukul 15.07 Wita dan Pukul 15.09 Wita.

“Tim yang dari Sembalun dan tim yang dari Pelawangan juga tidak bisa melanjutkan survei,” ujarnya.

Titik yang dilakukan survei mulai dari Pos I sampai dengan Pos III hingga jalur cemara siyu. Siang hari, tim baru tembus ke Pelawangan dan saat bersamaan terjadi gempa.

Seharusnya titik yang dicek tidak sampai Pelawangan, namun berlanjut ke Danau Segara Anak melalui dua jalur tersebut. Namun karena situasi tidak memungkinkan. Apalagi jalur menuju Segara Anak yang terjal, semakin hancur akibat gempa sebelumnya. Akhirnya diputuskan survei dihentikan di tengah jalan.

Kendati demikian, hasil survei itu tetap dibawa pulang untuk jadi kajian. Selain kajian pihaknya, juga untuk mitigasi bencana oleh BPBD, tidak kalah penting oleh PVMBG untuk meneliti struktur tanah setelah guncangan gempa.

Tapi dari gambaran awal, titik longsor sepanjang dua jalur akibat gempa Juli dan Agustus lalu masih membekas. Retakan di Pelawangan juga masih menganga, dianggap masih berbahaya, termasuk di jalur menuju puncak Rinjani retak, berpasir bercampur krikil. Sehingga kesimpulan hasil pengecekan sementara, jalur pendakian belum aman.

Sedianya sesuai rencana, jalur Sembalun dan jalur Pelawangan akan dibuka April 2019, dengan pertimbangan situasi berangsur kondusif. Namun gempa susulan Minggu lalu dan melihat situasi jalur yang masih labil, akan jadi pertimbangan keselamatan pendakian. “Sebab kan keselamatan yang lebih utama, daripada soal pendapatan dibidang pariwisata. Tapi masalahnya adalah ini soal perut, soal kebutuhan orang orang yang menggantungkan harapan dari Rinjani,” jelasnya.

Selain hilangnya Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), ada 1.900 porter yang selama ini kehilangan pekerjaan. Sedikitnya 91 tour guide baik perorangan maupun perusahaan juga terpaksa berusaha beralih profesi atau mencari objek wisata lain. “Belum lagi transportasi dan penginapan,” ujarnya.

Atas situasi itu, akan jadi pertimbangan pihaknya tetap akan membuka jalur pendakian Rinjani. “Tetap akan kita buka April, tapi nanti ada pembatasan sampai jalur mana dan berapa lama waktunya,” ujarnya memberi gambaran singkat. Detailnya, akan dibahas lagi pada rapat tanggal 22 April mendatang. (ars)