Suramnya Pendidikan di Lingkar Wisata

Giri Menang (Suara NTB) – Konsep pengembangan pariwisata dengan pendidikan belum sejalan. Promo besar besaran sebagai destinasi wisata, belum diimbangi peningkatan kualitas pendidikan yang seharusnya menjadi rintisan mempersiapkan industri pariwisata lebih maju. Potret  suramnya pendidikan ini masih terjadi, bahkan di destinasi wisata kelas dunia.

Udara dingin menyengat di lereng pegunungan Teluk Gok Dusun Medang Desa Sekotong Barat, Sabtu, 5 Mei 2018, sekitar pukul 06.00 Wita. Embun pagi masih menempel di dedaunan yang hijau. Di jalan setapak, anak-anak berseragam merah putih lengkap dengan topi dengan tas di punggung berkumpul.

Iklan

Wajah mereka tampak riang meskipun mereka tahu hendak menempuh bahaya menuju ke sekolah yang berjarak tiga kilometer dari tempat tinggalnya. Mereka anak-anak pesisir di Teluk Gok, penuh semangat untuk bisa mengenyam pendidikan dasar.  Suara NTB bersama  Sanggar Belajar Rumah Cerdas Lembar berkesempatan mengikuti mereka menuju SD 2 tempat mereka bersekolah.

Memulai perjalanan dari kaki bukit, anak-anak berusia 7 sampai 12 tahun ini sudah disuguhkan jalur bahaya yang tak seharusnya dilalui untuk ukuran seusia mereka. Bahkan, orang dewasapun bergidik jika memakai kendaraan roda dua melewati jalur tersebut. Namun tampak mereka tidak ada rasa takut. Sambil bercanda sesama temannya, anak-anak tersebut sepertinya sudah terbiasa menempuh jalur ekstrem tersebut.  Di sepanjang jalur tersebut rusak parah dan mendaki tiga bukit terjal.

Sesekali, dalam perjalanan, anak-anak ini beristirahat sembari bercanda untuk menghilangkan rasa letih. Peluh pun bercucuran melumuri tubuh mereka, hingga pakaian yang mereka basah akibat keringat.

Bukit kedua dilalui dengan penuh perjuangan. Namun masih ada perbukitan terakhir yang harus dilewati. Menurut anak-anak tersebut, bukit ini paling terjal dibandingkan yang lain. Kemiringan bukit ini hampir 45 derajat. Jika tergelincir sedikit saja, maka pilihannya terperosok ke jurang.

Akhirnya, selama satu jam lebih di perjalanan, mereka pun tiba di sekolah sekitar pukul 07.00 Wita. Namun ironis, ketika anak-anak ini berjuang untuk sampai ke sekolah akan tetapi tak satupun guru yang sudah ada di sekolah. Bahkan para guru di sekolah itu datang siang hari, sehingga apel bendera kerap kali terlambat. Kebanyakan guru di SD ini berasal dari luar Sekotong,  seperti Kecamatan Gerung dan  Kecamatan Narmada. Hanya satu orang dari wilayah setempat, itupun guru honor.  Di sekolah ini ada sekitar ratusan murid. Berasal dari Tawun, Medang, Gresak, Telage Lupi. Anak-anak dari Telage Lupi juga menempuh jarak jauh ke sekolah. Mereka mengitari pesisir pantai.

Murniati, salah seorang guru honor ditemui di sekolah itu mengakui para guru PNS di sekolah itu biasanya datang pukul 09.00 Wita karena alasan jarak tempuh jauh. Hanya ia selaku guru honor yang datang lebih awal. “Padahal anak murid datang, pukul 07.00 Wita, bahkan sampai pukul 08.00 belum mulai apel,” tuturnya. Terkait adanya anak murid yang menempuh jalur jauh ke sekolah,  hal ini jelasnya perlu menjadi perhatian pemerintah.

Sisa Lima Siswa

Di perkampungan yang sama, nasib tak jauh beda dialami pula oleh anak-anak yang duduk di bangku SMP. Tersisa lima anak yang masih sekolah di sana, itu pun semuanya perempuan. Mereka adalah Zahrani, Nurul Jannah, Safitri, Suhaini dan Jariah. Awalnya mereka ber enam, namun beberapa pekan lalu salah satu rekannya menikah di usia dini.  Kelima anak perempuan ini sekolah di tempat yang sama, Mts Al Azimiah. Safitri menuturkan selama dua tahun ini menyeberangi lautan membelah lintasan Lembar – Padangbai untuk bisa ke sekolah. Terkadang ia harus menempuh waktu 40 menit jika perahu bermesin ketinting yang ditumpangi mesinnya mati.

‘’Kami selalu merasa khawatir dan takut, bahkan terkadang ada teman kami yang menangis kalau terhempas ombak akibat kapal melintas,’’ tutur siswi kelas 2 Mts ini.

Untuk menyeberang ke sekolahnya pun, ia hanya dibebankan ongkos Rp 3 ribu karena setengahnya sudah ditanggung rumah cerdas. Agar tidak telat tiba di sekolah ia mesti jalan dari rumah pukul 06.00 Wita, lalu nyandar di pesisir Puyahan berjarak 1 kilometer dari sekolahnya. Ia dan teman-temannya pun harus berjalan kaki lagi untuk sampai di sekolah. Bagi ia dan teman-temannya tak ada pilihan lain. Sebab jika mau sekolah ke SMP Sekotong atau Sekotong Barat malah lebih jauh lagi. Di tambah medan yang berat serta berbahaya. Ia tak ingin putus sekolah, seperti rekan-rekannya yang lain.

Perkampungan Teluk Gok ini sendiri berjarak sekitar 2 mil dari Pelabuhan Lembar. Di perkampungan masyarakat pesisir Teluk Gok ini dihuni 68 KK. Mereka hidup terisolir meskipun berada tak jauh dari Pelabuhan Lembar. Untuk menuju ke daerah ini bisa melalui darat, menempuh perjalanan sekitar puluhan kilometer dari Lembar. Bisa juga melalui laut dengan perjalanan sekitar 30-40 menit.

Ketua Sanggar Belajar Rumah Cerdas Lembar,  Evi Febriana M.Pd menyatakan, pihaknya sudah melakukan pembinaan sejak 2016 lalu kepada anak-anak dan masyarakat setempat dengan membangun Taman Belajar Pelangi I. Untuk ongkos menyeberang anak-anak pun pihaknya membantu setengah dari biaya. Termasuk menyediakan perahu, mesin dan tenaga antar jemput.

Di daerah itu, ada 22 anak masih duduk di bangku SD, lima anak akan di bangku SMP. Lima anak ini jelasnya, terancam putus sekolah, karena di samping sekolah untuk melanjutkan jauh tapi juga disebabkan kurangnya sarana penunjang di daerah itu. Untuk itu, menurut Evi perlu menanamkan motivasi dan semangat belajar bagi anak-anak tersebut.

Tempuh Bahaya ke Gili

Mengingat kondisi SDN 1 Moyo, Kecamatan Labuan Badas Sumbawa Besar, tidak jauh beda dialami anak-anak Gili Gede Sekotong.   Dua pulau yang jadi destinasi wisata, bukan lagi kelas domestik, tapi sudah kesohor hingga dunia.

Anak-anak di Gili Gede menyeberang lautan.  Saban hari mereka menunggu kapal kecil yang biasa menyeberang ke pemukiman tempat tinggalnya. Satu persatu penumpang menaiki perahu itu, anak-anak yang terbiasa menyeberang tampak girang menaiki kapal tanpa ada rasa takut sedikitpun.

“Biasa kami naik perahu setiap pergi ke sekolah,” ujar Ari.

Di tengah laut, kerap kali terdengar suara anak-anak ini bermain-main. Mereka sepertinya tidak takut meski sesekali gelombang menghantam bagian tengah kapal hingga oleng. Supar, salah serang guru honorer yang juga ikut rombongan menyeberang mengaku sebagian anak gili memang sekolah di daerah daratan di Dusun Tembowong dan Pelangan. Di gili, katanya ada Satap (SD dan SMP), namun lokasinya yang jauh menyebabkan anak-anak lebih memilih sekolah di daerah Tembowong. “Sebagian anak memang pergi sekolah ke daerah seberang,”aku guru honor di daerah Batu Bawi ini.

Di Desa Gili sendiri ada lima dusun. Anak-anak dari Dusun Anjungan biasanya pergi menyeberang sekolah. Ketika cuaca tidak bersahabat, anak-anak kerap kali tidak bisa sekolah karena takut.  Karena kondisi ini, warga setempat sangat berharap agar sekolah yang lebih represntatif dibangun agar anak-anak tidak menyeberang ke daerah lain.

Dibantu Dunia Usaha

Sebagai pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) menegaskan komitmen untuk terus mendukung pengembangan berbagai sektor di dalam maupun di sekitar kawasan. Termasuk pengembangan sektor pendidikan. Bahkan ITDC ke depan telah menyiapkan program bantuan khusus pendidikan yang didanai dari CSR (Corporate Social Responsilbility).

 “Program bantuan khusus tersebut bisa berupa dukungan pengembangan sumber daya manusia (SDM) tenaga pendidik maupun pengembangan infrastruktur pendukung pendidikan,” General Affair KEK Mandalika ITDC, I Gusti Lanang Bratasuta kepada Suara NTB Minggu (6/5) kemarin.

CSR ada yang berupa pendidikan dan pelatihan. Ada juga yang berupa program pengembangan karakter tenaga pendidik. Di mana beberapa guru yang ada di sekolah-sekolah di sekitar kawasan diajak untuk mengunjungi sejumlah kawasan wisata yang sudah maju. “Jadi sektor pariwisata maju, pendidikan juga ikut maju,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Loteng, H. Sumum, S.H.M.Pd., mengungkapkan hanya beberapa saja yang kondisinya masih memprihatinkan dan butuh perhatian. “Untuk fasilitas pendidikan yang kondisinya masih memprihatikan, secara bertahap akan ditangani. Apakah itu dari anggaran daerah, provinsi maupun pusat,” terangnya.

Belum Merata di KSB

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2018, masih banyak catatan yang harus diperbaiki Pemkab Sumbawa Barat.  Contoh SD Negeri 1 Kertasari, Kecamatan Taliwang. Padahal sekolah ini berada di pusaran sektor pengembangan rumput laut dan pariwisata daerah yang cukup menjanjikan. Sekolah yang sudah ada sejak tahun 1974 tersebut, kini kondisi dindingnya sudah terlihat tambal sulam di beberapa titik. Selain dinding, plafon juga terlihat bolong dan masih terbuat dari anyaman bambu.  Paling dikhawatirkan ketika gempa, karena  sekolah tersebut merupakan bangunan lama.

Kepala SDN 1 Kertasari Sahabuddin S. Pd, kepada Suara NTB, Sabtu (5/5) mengatakan, ada lima ruangan yang barada dalam kondisi cukup memprihatinkan. Seperti ruang kelas II, III, IV, ruangan kepala sekolah, dan gudang. Terkait kondisi tersebut, sebenarnya pihak sekolah sudah berupaya maksimal untuk memperbaiki secara sporadis, tapi karena bangunan lama maka tetap akan kembali seperti semula.

 Pihaknya juga sudah menyuarakan hal ini ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) untuk memperbaiki sisa ruang kelas yang masih rusak, tapi hingga saat masih belum diperbaiki.

Saat ini jumlah siswa di SD ini ada sekitar 176 siswa/siswi. Jika dikalkulasikan di masing-masing kelas di huni sekitar 30 siswa/siswi. Untuk itu pihaknya sangat berharap supaya lima ruangan ini bisa segera diperbaiki oleh dinas terkait. ‘’Kami sangat berharap sisa bangunan ini bisa diperbaiki supaya siswa tidak lagi takut ketika terjadi gempa,’’ tandasnya.  Sementara Kepala Dinas Dikpora KSB, Drs. Tajudin M. Si belum memberikan tanggapan terkait hal ini.

Terpencil di Moyo

Pendidikan memang sektor yang cukup panjang jadi keluhan masyarakat di Pulau Moyo, Kecamatan Badas, Sumbawa Besar. Gedung sekolah cukup layak jika disebut sekolah terpencil, berdiri seadanya. Kekurangan ruang kelas sudah jadi bagian kebutuhan yang tak kunjung terpenuhi. “Kami sebenarnya kekurangan dua kelas,” kata Kepala SDN 1 Moyo, Abdul Latif. Belum lagi fasilitas pendukung lainnya, seperti toilet dan perumahan. Masuk ke ruang kelas lima dan kelas IV tak ubahnya los pasar tanpa sekat. Pernah ada sekat berupa papan triplek, namun lambat laun rontok. Pintu sekolah dengan bahan triplek juga compang camping dan berlubang.

Menurut Abdul Latif, tak terpikirkan untuk mengganti kondisi itu meski hanya untuk membeli papan triplek. Sebab sumber anggaran untuk menggaji tiga honorer pun sangat sulit. Untuk bayar honorer kan sudah tidak boleh dari dana BOS. ‘’Akhirnya kami minta kerelaan guru guru di sini, termasuk saya kepala sekolah, kumpulkan uang gaji kami untuk menggaji honorer Rp 300.000 per bulan,’’ tuturnya. Sementara di sisi lain,  Moyo adalah destinasi wisata kelas dunia. Para pesohor seperti Mick Jagger, Maria Sarapova, termasuk mendiang Lady Diana menjadikan pulau ini sebagai pilihan mencari ketenangan sembari berwisata.

Pihak Dinas Penidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) memastikan tidak ada lagi sekolah di Lotim termasuk dalam kawasan tiga T (terdepan, terluar dan tertinggal). Hanya saja, berdasarkan data Dinas Dikbud Lotim, kondisi sekolah yang membutuhkan sentuhan merata ada di wilayah pesisir pantai maupun di pedesaan.

Sehingga pemerintah terus melakukan pembangunan, selain rehab juga membangun gedung baru. Pembenahan dunia pendidikan dimulai dari pinggiran, seperti di Jerowaru yang merupakan destinasi wisata, seperti Pantai Pink dan Tanjung Bloam.  Pihak Dinas melakukan pembenahan fasilitas pendidikan, termasuk rumah dinas guru. Semua sekolah diperbaiki berdasarkan data yang dimiliki dan wilayah kecamatan Jerowaru menjadi lebih pada prioritas, termasuk pembuatan perpustakaan. (her/kir/ils/uki/yon)