Sungai Jangkuk Belum Steril dari Sampah

Permukaan Sungai Jangkok Jumat, 4 Januari 2019 yang masih dicemari sampah dan tanaman Kangkun yang bisa memicu pendangkalan dan sedimentasi. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Dijadikan tempat peringatan HUT ke 60 NTB 17 Desember 2018 lalu, setidaknya berdampak pada berkurangnya pencemaran di Sungai Jangkuk, Ampenan. Mulai ada kesadaran warga untuk tidak membuang sampah ke sungai yang membelah Kota Mataram itu. Namun kesadaran masyarakat itu belum maksimal. Buktinya sampai saat ini Sungai Jangkuk belum sepenuhnya steril dari sampah.

Ada 14 Kelompok Masyarakat Pecinta Sungai (KMPS) yang merawat dan menjaga kebersihan sungai, dari ruas Dasan Agung hingga ke muara di Ampenan. Komunitas itu aktif kampanye kepada masyarakat dan mengamati setiap perkembangan kebersihan sungai.

Iklan

Wakil Ketua KMPS Sunan Kali Jangkuk, Fathul Arifin mengaku, kehadiran Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD), juga Walikota Mataram H. Ahyar Abduh pada puncak HUT NTB beberapa waktu lalu cukup berdampak secara psikologis bagi masyarakat.

‘’Setidaknya masyarakat mulai malu membuang sampah sembarangan ke sungai. Sudah ada kesadaran. Makanya, saya amati pencemarannya mulai berkurang,’’ kata Oting, sapaan Fathul Arifin kepada Suara NTB, Jumat, 4 Januari 2019.

Namun seremoni pembersihan Sungai Jangkuk itu tidak cukup menurutnya. Harus ada tindaklanjut yang konsisten dari Pemprov NTB dan Pemkot Mataram khususnya. Sebab jika dibiarkan, perilaku masyarakat akan kembali menjadikan sungai tempat sampah.

Diungkapnya,  pernah ada program pemberdayaan dari Bappeda Kota Mataram. Bentuknya, program ‘bapak angkat’ Bappeda kepada  KMPS. Sudah berjalan efektif, karena pembinaan dilakukan Bappeda mampu mengkoordinir peran komunitas yang bersentuhan langsung dengan kampanye menekan perilaku masyarakat agar menjaga Sungai Jangkuk. Namun program itu terhenti.

 ‘’Kami juga tidak terlalu enak jika harus bergantung pada pemerintah. Tapi harapan kami, pemerintah yang turun, dialog dengan kami dan  lihat langsung kondisi sungai. Supaya dapat gambaran lengkap. Sehingga aspirasi kami ini bisa sampai,’’ jelasnya.

Saatnya pemerintah bergerak dengan sumber daya dan anggarannya, melibatkan komunitas yang ada. Menurut Oting, modal pemerintah sudah ada, tinggal eksekusi. ‘’Kalau kami siap dengan komunitas yang ada. Semangat tidak perlu diragukan lagi. Tinggal pembinaan dari pemerintah. Ayo, apa yang kita perlu lakukan, kita diskusi dan keluarkan ide bersama,’’ ajaknya.

Ada tanggung jawab moral komunitas untuk menjadikan Jangkuk bersih. Tahun lalu, salah satu komunitas meraih juara satu nasional di Kementerian  PUPR, untuk kategori peduli pengelolaan sungai.  Dengan modal semangat saja, komunitas itu menurutnya juara, mengalahkan komunitas lain se Indonesia yang dibiayai pemerintah hingga ratusan bahkan miliaran rupiah.

Hal yang paling diinginkan Oting, penataan Jangkuk bukan lagi wacana. Sudah ada perencanaan  jelas, sungai bersejarah itu akan dijadikan ikon wisata sungai Kota Mataram. Konsep perencanaan sudah ada, tinggal menunggu sentuhan pemerintah.

‘’Itu hal yang paling kami cita citakan, menjadikan Jangkuk sebagai  destinasi wisata sungai bersih,’’ harapnya.

Sungai Jangkuk memang belum sepenuhnya steril dari sampah. Pemandangan di permukaan sungai, di bawah jembatan, sampah masih nampak mengapung di permukaan air. Mulai dari jenis sampah plastik dan sampah organik lainnya. Kendati demikian, sejumlah warga tetap menjadikan ruas sungai itu sebagai tempat menyalurkan hobi memancing.

Terkait pengelolaan sampah, Oting mengungkap, pernah ada konsep kendaraan ‘’jemput bola’’ mengangkut tumpukan sampah di bantaran sungai. Sumber sampah itu dari warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Namun belum berjalan efektif, meski sudah ada pengadaan tong sampah. “Petugas tidak mau jemput bola, ambil sampah sampai ke ujung gang dekat sungai. Jadi masyarakat langsung buang ke sungai ,’’sesal Oting.

Untuk itu, harapan dia, konsep penanganan sampah juga harus didiskusikan bersama untuk semakin menguatkan kesadaran masyarakat akan kebersihan sungai. (ars)