Sumber Mata Air PDAM KSB Terganggu

Taliwang (Suara NTB) – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mengaku kewalahan menangani penyumbatan yang terjadi di intake (lubang asupan) Tiu Bulu.

Pada salah satu sumber air baku milik PDAM itu, material batuan dan pasir terus menumpuk. Hal ini disebabkan aktivitas kegiatan proyek bendungan Bintang Bano dan maraknya pengambilan material Galian C di sekitar intake.

Iklan

“Ini yang menyebabkan sumbatan di intake Tiu Bulu. Dan sejauh ini kami belum bisa menanganinya hingga tuntas,” terang Direktur PDAM KSB, Bambang, ST kepada wartawan, Jumat, 21 April 2017.

Ia mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan pihaknya untuk mengatasi persoalan tersebut. Hanya saja banyaknya volume material batuan dan pasir yang menyumbat intake tidak dapat dibendung. Material dari aktivitas proyek Bintang Bano dan kegiatan Galian C di sekitar intake Tiu Bulu terus bertambah tiap harinya.

Bahkan ketika terjadi banjir, diungkapkan Bambang, material akan langsung menyumbat sepenuhnya saluran intake. “Biar kita sudah lakukan pembersihan misalnya. Tapi kalau datang banjir, maka batuan dan pasir akan langsung menutup saluran dan itu menyebabkan air macet total,” timpalnya.

Material batuan dan pasir yang mengganggu salah satu sumber air baku utama milik PDAM KSB itu memang sudah sangat parah. Menurut Bambang, posisi intake Tiu Bulu sangat strategis karena berada di cekungan aliran sungai sehingga air lebih maksimal mengalir ke dalam saluran. Namun beberapa tahun terakhir, kondisi itu berubah drastis karena cekungan sudah mengalami sedimentasi hingga melebihi posisi intake. “Disebut tiu karena itu bagian sungai yang dalam. Tapi sekarang tidak bisa lagi dibilang tiu karena sedimentasinya sangat parah dan menggangu saluran kita,” tandasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Bambang mengaku, pihaknya telah berkomunikasi dengan pihak pelaksana proyek pembangunan bendungan Tiu Bulu. Difasilitasi pihak Dinas PU setempat, PDAM KSB meminta agar selama pengerjaan bendungan menempatkan material galiannya di titik aman sehingga tidak mengalir ke sungai saat hujan turun. “Tetapi sampai sekarang mereka tidak lakukan itu. Buktinya kalau hujan apalagi banjir sudah kami bisa pastikan intake Tiu Bulu terganggu,” sambung Bambang.

“Sekitar 50 persen pelanggan kami terlayani dari Tiu Bulu. Jadi kalau ada gangguan seperti itu, artinya setengah dari pelanggan kami tidak terlayani,” pungkasnya. (bug)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here