Wujudkan Zero Waste; Siapkan Fasilitas Pendukung hingga Belajar ke Swedia

N. Gusia - Sofyan Yahya - Rachman Ansori (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Destinasi wisata di Pulau Sumbawa tengah naik daun. Sejumlah destinasi mulai dilirik oleh wisatawan lokal, domestik dan mancanegara. Tantangan pemerintah mengurangi sampah plastik terutama di objek wisata. Larangan buang sampah telah dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Sumbawa, M. Sofyan Yahya mengungkapkan, saat ini sedang bergulirnya pariwisata Sumbawa. Hampir setiap kecamatan melaksanakan festival. Festival ini rangkaian Festival Moyo yang menjadi kebanggaan masyarakat di Kabupaten Sumbawa. Hal ini dibuktikan dengan adanya keterlibatan aktif masyarakat mendukung pariwisata.

Populernya pariwisata di Sumbawa perlu diantisipasi kembali mengenai masalah sampah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sumbawa mengeluarkan edaran ke pengunjung harus memperhatikan kebersihan atau tidak membuang sampah sembarangan.

‘’Begitu semua wisatawan datang ke Sumbawa yang pertama diperhatikan adalah sampah,’’ ucapnya.

Jika diperhatikan, sampah plastik bukan saja persoalan dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Bahkan, ini masalah besar di seluruh dunia. Mencermati proses penguraian sampah plastik membutuhkan waktu selama 100 tahun. Artinya, ini harus jadi perhatian serius bersama baik itu masyarakat, pelaku usaha dan pemerintah.

Yang telah dilakukan Dinas Pariwisata sambungnya, dengan menyiapkan bak sampah di objek wisata. Di samping itu, harus ada tempat pembuangan sampah yang representatif. Oleh karena itu, ke depan pengurangan sampah plastik dapat terwujud.

Pejabat Fungsional Bidang Perencanaan pada Dinas Pariwisata NTB, I. N. Gusia menyampaikan, dua hal yang dijual dalam dunia pariwisata. Pertama, keamanan. Kedua, kebersihan fisik. Jika indikator bersih tidak didapatkan pada setiap objek wisata akan menjadi masalah besar bagi wisatawan. Sebab, pemerintah dan siapapun yang terlibat di dunia pariwisata tidak ingin wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara hanya datang sekali saja.

Baca juga:  Butuh Sinkronisasi Program dan Sosialisasi Berbasis Komunitas

Yang dihadapi saat ini adalah sampah plastik di dalam air. Salah satu contoh kasus di Pantai Senggigi. Sampah ini disinyalir berasal dari Pondok Perasi yang dibawa oleh arus air laut. Jika mengikuti arus laut ke arah utara dan hanyut di musim hujan akan menuju ke tiga gili di Lombok Utara. Wisatawan yang menikmati wisata bahari pasti terganggu.

Untuk menangani sampah, diakui memang rumit. Tidak bisa hanya pemerintah saja memprogramkan penanganannya. Sebab, ini terkait dengan kesungguhan dan sikap masyarakat. Jika masyarakat tidak mendukung maka program pemerintah agak berat.

Permasalahan demikian, kata dia, Dinas Pariwisata NTB berkoordinasi dengan mitra kerja yang berada di kabupaten/kota. Secara intensif persoalan kebersihan di objek wisata dibahas bersama. Di satu sisi, perlu juga diberdayakan atau pelibatan masyarakat di lingkar destinasi. Saat ini, ada kelompok sadar wisata.

‘’Mereka (Pokdarwis) saja tidak bergerak kalau tidak didukung oleh masyarakat,’’ terangnya.

Pemerintah perlu mengambil kebijakan untuk tidak mendatangkan produk apapun berbahan plastik. Strategi ini telah diterapkan oleh Pemerintah Bali. Di setiap gerai atau toko tidak menyediakan plastik. Pola pikir dari sistem mengolah dan mendaur ulang setidaknya perlu dikurangi.

Baca juga:  Sumbawa, “Zero Waste” dan Tantangan Kesadaran

Sementara itu, Kepala Dinas Kominfotik Kabupaten Sumbawa, Rachman Ansori, S.Sos. M.Se menyampaikan, kapasitas Dinas Kominfotik sifatnya mendukung atau memprovokasi tugas yang dilaksanakan oleh organisasi perangkat daerah dengan pola kerjasama dengan media.

Sebagai daerah yang telah ditetapkan sebagai smart city oleh pemerintah pusat, pihaknya mengirim staf belajar ke Swedia untuk mengikuti pelatihan manajemen sampah yang programnya dicanangkan oleh PBB.

Manajemen sampah dinilai sangat penting. Jangan sampai bank dianggap sebagai kaki tangan pemulung. Artinya, harus ada pemikiran bahwa sampah ini bukan lagi dijual tapi mengolah barang jadi.

“Kalau sampah tertumpuk terus mau dibawa kemana. Pengolahan di bank sampah Mijang cukup bagus. Bukan berarti karena saya orang Mijang kemudian mengagumi,’’ katanya.

Yang akan lebih ditekankan sambung Rachman, adalah mengolah sampah agar bisa berfungsi jadi pupuk. Harapannya, Dinas Pertanian memproduksi larva untuk sampah organik. Selebihnya  sampah anorganik dijadikan bahan jadi yang memiliki prospek besar dan bisa dikirim ke Bali.

Kembali disampaikan Rachman, semangat smart city akan membantu OPD untuk sama-sama mengkampanyekan program pemerintah. Sebenarnya, dari sisi penyebaran informasi melalui media sosial seperti Facebook, WhatsApp dan lainnya cukup efektif. Khusus penanganan sampah telah dibuatkan aplikasi Go Sip. Aplikasi ini digunakan untuk membangun kesadaran masyarakat melalui media. (cem)