Labuan Jambu Teluk Saleh, Titik Labuh Baru yang Membuat Yachter Terkesan

Tampak dari atas, puluhan kapal rally layar para yachter dunia tamu Sail Indonesia yang singgah di Labuan Jambu Teluk Saleh. (Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Wonderful Sail to Indonesia 2019 menjadikan Labuan Jambu, Teluk Saleh, Kecamatan Tarano sebagai titik labuh para wisatawan mancanegara, peserta rally kapal layar dunia (yachter). Mereka tiba secara bertahap sejak Sabtu, 14 September 2019. Mereka terkesan, tidak hanya dengan panorama pantai dan wisata hiu paus yang ditawarkan Labuan Jambu. Tetapi juga dengan keramahan dan budaya masyarakat setempat.

Pantauan Suara NTB, sekitar 37 yachter yang tiba dalam gelombang pertama, langsung berbaur dengan masyarakat setempat. Menikmati suguhan kuliner produk UMKM, melihat dari dekat keseharian masyarakat, khususnya nelayan. Dari cara memasak ikan dengan tungku tradisonal hingga proses pengeringan ikan. Sambil berjalan keliling kampung dan semuanya terlihat menikmati. Hingga malam hari mereka disuguhi kesenian tradisional.

Organizer rally layar Internasional, Raymon J. Tungka yang mendampingi para yachter, menyebutkan, titik labuh ini sangat potensial. Lokasinya tepat tanpa harus merusak terumbu karang dan tidak menggangu lalu lintas laut. Didukung oleh infrastruktur sederhana seperti dermaga kayu dan tangga untuk sampai ke daratan.  Kemudian untuk didarat juga ditunjang dengan beberapa fasilitas lainnya. ‘’Mereka (yachter) bisa duduk, bisa beli makan, ngobrol dengan masyarakat,’’ katanya.

Meski diakuinya ke depan masih butuh pembenahan. Dengan mengefektifkan kemampuan yang dimiliki. Seperti menguatkan budaya asli, nuansa yang ada dan keseharian kehidupan masyarakat setempat. “Untuk hari pertama ini di Labuan Jambu, sudah sangat baik. Karena tidak ada kegaduhan, masyarakat mendapatkan hiburan, ada yang menjual makanan, tamu sail senang dan bisa kembali ke kapal dengan nyaman karena titik labuhnya tidak bergelombang. Kita berharap ini terus berlanjut,’’ harap Raymon.

Salah satu yachter, July dari Norwegia, mengaku terkesan dengan keramahan dan budaya masyarakat Labuan Jambu. Ia juga senang bisa bertemu, berbaur dan merasakan keseharian aktivitas masyarakat.

Baca juga:  Bidik 4,5 Juta Kunjungan Wisatawan, Lima KSPN akan Dikembangkan

Tour guide sail, Safrudin juga bisa merasakan kesan baik saat berbincang dengan para wisman. Mereka senang bisa berjalan berkeliling kampung. Peserta sail tertarik dengan aktvitas nelayan, melihat masyarakat menjemur ikan hingga proses memasak yang masih menggunakan tungku tradisional. Dan semua ini dirasa memiliki nilai ekonomi.

‘’Ternyata mereka senang dengan back to nature. Jadi kalau selama ini diotak kita industri itu bangunan megah, hotel bintang ternyata tidak. Saya berharap kepada semua pihak, karena kita berhadapan dengan karakter dan budaya yang berbeda. Pertahankan budaya kita yang selalu welcome kepada siapa saja,’’harapnya.

Kades Labuhan Jambu, Musykil Hartsah mengatakan, hanya memiliki waktu 10 hari mempersiapkan lokasi dan masyarakatnya sebagai tuan rumah. Pihaknya bersyukur dengan kesan baik dari para yachter. Meski diakuinya masih cukup banyak kekurangan yang mesti diperbaiki ke depannya. Pemda akan melakukan upaya apapun nantinya untuk membenahi lokasi titik labuh ini. Sebab masih terbuka luas untuk dikembangkan. Hingga tak menutup kemungkinan wilayahnya akan dikunjungi setiap tahun ini oleh wisman. Apalagi dengan adanya wisata hiu paus.

‘’Karena ini tidak menutup kemungkinan akan menjadi titik labuh bagi para yachter di tahun berikutnya. Dan kami itu bahkan membangun komunikasi meminta dermaga apung untuk wisata. Sehingga terpisah dengan dermaga perikanan yang ada saat ini. Dermaga khusus lah. Kami juga akan buat patung hius paus sebagai ikon dari Labuhan Jambu,’’ katanya.

Sekda Kabupaten Sumbawa, Drs. H. Hasan Basri MM, menyambut baik dengan dijadikannya Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano menjadi titik labuh peserta sail. Sekaligus menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk memperkenalkan budaya dan potensi alam yang ada, termasuk destinasi wisata hiu paus. Dampaknya pun luar biasa dalam menggerakan ekonomi masyarakat.

Baca juga:  Kunjungan Wisman Melonjak, Gubernur Ajak Warga NTB Persiapkan Diri

Untuk itu, ke depan, Pemkab akan melakukan sejuumlah upaya pembenahan lokasi, terutama dukungan infrastruktur yang dibutuhkan. Selain tentunya berharap masyarakat dapat terus memperkuat budaya aslinya yang justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisman. ‘’Alam dan budaya kita punya karakter yang berbeda dengan daerah lainnya. Tidak bisa ditiru daerah. Keunggulan inilah yang mesti kita jual. Sehingga jika ada yang bagus supaya diceritakan ke teman-temannya. Supaya kedepan lebih mengenal keindahan alam dan budaya Sumbawa, budayanya,”harapnya.

Kadis Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa, Ir. H. Iskandar D, M.Ec. Dev, yang didampingi Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata, M. Irfan S.P, M.M,  salut dengan konsep yang ditampilkan oleh tim kreatif. Dengan penyajian yang sederhana namun sangat dinikmati para tamu sail. Begitu juga dengan antusiasme masyarakat yang dapat ikut berbaur. “Saya juga melihat ini bentuk keberhasilan betapa kuatnya gravitasi, konsep yang kita bangun ini. Yang kita jual kepada mereka, sehingga mereka merasa penting untuk hadir di acara kita. Sederhana pelaksanaannya, kesannya luar biasa, ditunjang oleh teman-teman itu kemudian oleh masyarakat yang menerima, sangat familiar. Saya kira acara ini sudah dikemas sebaik mungkin,” katanya.

Dikatakannya, penyambutan hari pertama peserta sail di Desa Labuhan Jambu ini dapat menjadi contoh baik bagi potensi lainnya. Karena meskipun memiliki keterbatasan, namun dengan konsep yang dipikirkan secara matang dapat memberikan penampilan menarik. Sehingga diharapkan bisa menjadi pengungkit semangat bagi Pokdarwis lainnya.

Sejauh ini, sudah ada 25 kapal yacht dengan jumlah peserta sail 37 wisman yang berlabuh di perairan teluk Saleh, Desa Labuhan Jambu, Sumbawa. Diharapkan jumlah tersebut dapat bertambah hingga 90 peserta, sesuai dengan permintaan perpanjangan pasport di Imigrasi Sumbawa. (arn)