Banyak Ditemukan Pencurian Air Secara Liar di Daerah Irigasi Batu Bulan

Petugas menunjukkan salah satu titik pelompong liar di Daerah Irigasi (DI) Batu Bulan. (Suara NTB/Kepala Balai PSDAH)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Praktik pencurian air secara liar atau pelompong liar di hulu Daerah Irigasi (DI) Bendungan Batu Bulan kerap terjadi. Bahkan pelompong liar ini banyak ditemukan di daerah irigasi setempat. Temuan ini diketahui berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi (monev) yang dilakukan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air dan Hidrologi (PSDAH) Wilayah Sungai Pulau Sumbawa.

Kepala Balai PSDAH Wilayah Sungai Pulau Sumbawa, Med Manjarungi, ST, MT kepada wartawan membenarkan hal tersebut. Dari monev yang dilakukan, masih dijumpai banyak pelompong liar di daerah hulu DI Batu Bulan. Bahkan sudah terjadi pengerusakan jaringan irigasi di  sejumlah titik. “Hasil monev tadi, masih dijumpai banyak pelompong liar di daerah hulu DI Batu Bulan. Pelompong liar yang kita jumpai di BBKa (Bendungan Batu Bulan Kanan) 4 dan BBKA 5. Tadi yang kita ketahui ada 5 titik. Tidak hanya pelompong liar, tetapi juga perusakan jaringan,” ujarnya saat ditemui wartawan di ruangannya, Jumat,  23 Agustus 2019.

Dijelaskannya, di lima titik temuan, rata-rata digunakan untuk mengairi lahan persawahan. Tidak hanya dibuatkan bendung menggunakan batu, tetapi juga membongkar saluran dengan membuat crossing pipa air lewat bawah tanah. Adapun pelompong liar ini tidak hanya terjadi di  BBKa (Bendungan Batu Bulan Kanan) tetapi juga di BBKa kiri. Dengan adanya praktik seperti ini, debit air yang direncanakan ke hilir menjadi berkurang dan kemungkinan tidak sampai.  “Adanya pengalihan atau pelompong liar  itu, kalau sedikit tidak terasa. Kalau banyak titik terjadi sangat terasa dan bahkan debit akan berkurang dan tidak menutup kemungkinan air tidak nyampai ke hilir,” terangnya.

Menyikapi hal ini, kata Med, pihaknya sudah menginstruksikan petugas di lapangan untuk melarang atau menutup langsung ketika adanya aktifitas tersebut. Namun untuk menanganinya tidaklah mudah. Karena kelembagaan P3A belum optimal. Kemudian ada ketakutan dari petugas untuk menegur langsung karena berhadapan dengan petani. Makanya untuk sementara ini pihaknya akan melakukan upaya persuasive dengan sosialisasi penyadaran masyarakat.  Selain itu juga akan memperkuat kelembagaan P3A. Bahkan pihaknya terus membangun koordinasi dengan sejumlah instansi terkait guna pembentukan tim pengawas distribusi air. Dalam tim nantinya meliputi sejumlah instansi, termasuk Babinsa, Babinkamtibmas, kecamatan, desa dan P3A. Tim inilah yang nantinya akan melakukan penertiban terhadap pelompong liar. “Langkah kita nanti akan membentuk tim pengawas air. Karena yang kita hadapi masyarakat. Nanti tim itulah nanti yang akan melakukan penertiban,” pungkasnya.(ind)