Petugas Temukan Indikasi Perambahan Baru di Gili Rakit

Petugas menunjukkan salah satu tiitik yang diduga sebagai lokasi perambahan baru di Gili Rakit. (Sumber- Kepala KPH Ampang Plampang)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Tim Balai KPH Ampang Plampang menemukan indikasi perambahan baru di Gili Rakit. Tepatnya di Blok Tanjung Bila wilayah Pasir Putih. Dari pengecekan yang dilakukan, ada upaya perambahan dalam bentuk pengkaplingan lahan. Informasinya, di lahan setempat akan dimanfaatkan untuk menanam jagung.

Kepala Balai KPH Ampang Plampang, Dedy Purwanto yang dikonfirmasi Suara NTB, mengakui pihaknya bersama camat Tarano  dan sejumlah pihak terkait sudah melakukan pengecekan ke lokasi Gili Rakit.  Di sana ditemukan adanya bekas atau pemberian tanda untuk pengkaplingan lahan.

“Dari pengecekan kemungkinan baru dua hari. Karena sudah ada yang menebang pohon seperti Kayu Jawa. Intinya diberikan tanda sebagai lahan yang akan digarap. Hasil pengecekan kurang lebih 10 hektar,” ujarnya.

Dijelaskannya, selain adanya indikasi lahan yang akan digarap, pihaknya juga menemukan adanya lahan yang sudah ditanami jagung. Informasi dari masyarakat, bahwa lahan itu sudah dimanfaatkan untuk bercocok tanam sejak puluhan tahun lalu oleh seseorang yang sudah berdomisili di wilayah setempat. Bahkan pihaknya juga menemukan lokasi eks tambak. Lokasi itu kemungkinan sudah lama ditinggalkan, karena terdapat bekas camp yang sudah dirobohkan.

“Untuk yang menggarap sejak lama, kita belum mengindentidikasi berapa luas yang sudah digarap. Kami kemarin hanya mengecek terkait yang buka lahan baru,” terangnya.

Saat pengecekan, diakuinya pihaknya tidak menemukan masyarakat atau pihak lainnya di lokasi. Namun terkonfirmasi bahwa ada upaya perambahan dalam bentuk pengkavlingan lahan. Hal ini juga sudah dilakukan pertemuan dbersama sejumlah pihak terkait yang difasilitasi Camat Tarano. Nantinya akan dilakukan pertemuan lanjutan untuk menyikapi persoalan ini.

“Tadi sudah ada pertemuan dengan semua pihak di Kantor Desa Labuhan Jambu. Namun dari pertemuan perlu adanya pertemuan lanjutan yang Insya Allah akan difasilitasi oleh Camat Tarano. Tadi semua ada kesepahaman dari masyarakat dan pemerintah  bahwa Gili Rakit itu adalah kawasan hutan yang tidak boleh dirambah untuk kepentingan apapun,” tukasnya.

Adapun jika lokasi Gili Rakit dirambah untuk menanam jagung, selain melanggar juga dapat berpengaruh terhadap ekosistem setempat. Karena dikhawatirkan akan terjadi sedimentasi. Ditambah lagi lokasi Gili Rakit juga dijadikan lokasi ladang pengembalaan masyarakat Kecamatan Tarano dan Empang. Jika lokasi itu dirambah, jangka panjangnya dikhawatirkan memunculkan konflik antara masyarakat yang memiliki ternak dengan masyarakat yang merambah.

“Di sana merupakan LAR pengembangan ternak masyarakat Empang, Tarano dan sekitarnya. Itu sudah budaya, kalau musim penghujan ternaknya dilepas ke Pulau.  Kekhawatiran kami jangan sampai gara-gara masyarakat yang merambah ini, jadi terkesan areal untuk ternak masyarakat berkurang. Ini akan menjadi konflik horizontal antara peternak dan petani jagung,” pungkasnya. (ind)