Persoalan Limbah, Aktivitas Tambak Udang di Sumbawa Diberhentikan Sementara

Ilustrasi (Tambak Udang)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Aktivitas salah satu tambak udang di lingkungan Labu Sao, Dusun Omo, Desa Penyaring, Kecamatan Moyo Utara terpaksa diberhentikan sementara. Pasalnya, pengusaha tambak setempat diduga langsung membuang air limbah ke laut tanpa melalui proses sesuai dengan Amdal.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Sumbawa, Abdul Haris, S.Sos membenarkan adanya penghentian aktivitas tambak tersebut. Tambak di wilayah Desa Penyaring ini diberhentikan sementara aktivitasnya karena air limbahnya langsung dibuang ke laut tanpa ada proses terlebih dahulu. Sementara di dalam dokumen Amdal, sebelum limbah dibuang ke laut atau dikembalikan ke alam terbuka harus dilakukan proses.

“Sebelum dilakukan operasi kan ada izin Amdalnya. Di dalam dokumen Amdal itu ada etika atau norma yang harus dipenuhi jika tambak itu beroperasi. Namun tambak tersebut dampak lingkungannya tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu, pada saat panen atau pada saat tahapan-tahapan mereka harus membuang limbahnya,” ujarnya.

Dijelaskannya, persoalan ini sebelumnya sudah pernah dilakukan dengar pendapat di DPRD. Saat itu dihadirkan  semua pihak terkait termasuk pengusaha tambak. Dalam pertemuan sudah ada kesepakatan dan pengusaha tambak sudah diminta untuk memperbaiki cara pembuangan limbahnya.

Namun nyatanya, hal yang sama masih tetap terjadi. Bahkan pihaknya sudah sering melakukan teguran, sehingga dikeluarkanlah surat

untuk pemberhentian sementara terhadap operasionalnya. Artinya aktivitas penebaran dan lainnya tidak diizinkan lagi sebelum item-item pengolahan dampak lingkungan yang berkaitan dengan limbahnya dibenahi.

“Begitu melakukan pelanggaran kita berikan teguran atau dilakukan pembinaan. Tidak serta merta langsung diberikan sanksi pemberhentian sementara. Cuma yang satu ini sudah berulang-ulang kali melakukan pelanggaran. Pemberhentian sementara untuk operasionalnya. Akan bisa beroperasi lagi ketika dibenahi. Jika mereka membandel tidak melakukan pembenahan terhadap proses  pembuangan limbahnya maka bisa saja direkomendasikan untuk dicabut izin operasionalnya,” terangnya.

Sementara ini, kata Haris, memang belum ada dampak langsung terkait pembuangan limbah tambak tersebut. Bahkan juga belum dilakukan uji sampel air laut tempat pembuangan limbah. Namun pihak LH melihat langsung pembuangan limbah tambak ke laut yang terlihat hitam dan keruh.  Sehingga dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi lingkungan dan masyarakat.

“Secara kebetulan saat itu terjadi proses panen dan dilihatlah perlakuan pembuangan limbah ke laut secara langsung tanpa melalui proses. Dikhawatirkan akan berdampak terhadap lingkungan,” tukasnya.

Ke depannya, pihaknya akan tetap melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan dampak lingkungan. Guna mengantisipasi adanya kemungkinan timbulnya dampak bagi lingkungan dari aktivitas berbagai perusahaan, baik tambak, klaser dan lainnya. (ind)