KSB akan Titip Ganti Rugi Lahan Proyek Smelter di Pengadilan

0
3
Bupati KSB, H. W. Musyafirin saat memimpin rapat evaluasi tim percepatan pembangunan smelter di Graha Fitrah, Senin, 3 Februari 2020.(Suara NTB/ils)

Taliwang (Suara NTB) – Pemkab Sumbawa Barat, menyiapkan opsi menitipkan ganti rugi lahan proyek smelter di Pengadilan Negeri (PN) Sumbawa Besar. Opsi tersebut disiapkan lantaran molornya pembayaran ganti rugi lahan. Dari 154 hektar lahan yang dibutuhkan, tinggal 12,5 hektar yang belum ada titik temunya. Apalagi proyek tersebut sudah harus dimulai paling lambat di bulan Juni.

“Memang masih ada tujuh orang pemilik lahan yang belum mau menerima besaran ganti rugi yang disiapkan perusahan karena mereka ingin harga yang tinggi. Terkait dengan lahan terebut, kita (Pemerintah) sudah siapkan opsi dengan mengambil alih proses pembebasan lahan itu dari perusahaan. Bahkan kami juga tidak akan segan-segan menitipkan uang ganti rugi itu di Pengadilan Negeri jika tahap mediasi yang akan kita lakukan nanti tetap saja buntu,” ungkap Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Dr. Ir. H. W Musyafirin MM, ketika memimpin rapat evaluasi percepatan pembangunan Smelter di graha fitrah, Senin, 3 Februari 2020.

Dikatakannya, masih belum rampungnya persoalan lahan ini tentu sangat disayangkan karena akan menganggu tahapan berikutnya. Terlebih lagi saat ini proyek smelter sudah masuk kedalam RPJM Nasional tahun 2020-2024 menjadi kawasan industri sehingga tidak ada alasan masalah yang dihadapi tidak tuntas. Untuk itu, pihaknya sangat berharap supaya para pemilik lahan bisa segera melepas lahannya dengan nilai ganti rugi yang ditawarkan oleh perusahaan.

Jika mereka tidak tetap saja bersikeras tidak menerima uang tersebut, maka pemerintahlah yang akan mengambil alih proses pembebasan lahan dimaksud. Tentu Pemerintah juga akan tetap melibatkan tim appraisal untuk menilai besaran ganti rugi atas lahan tersebut.

Jika pemerintah sudah mengambil alih, maka nilai ganti rugi yang ditawarkan perusahaan saat ini akan jauh lebih tinggi dibanding Pemerintah. Hal ini tentunya sangat beralasan, karena keuangan Pemerintah sangat terbatas dan penilaian oleh tim appraisalnya juga berbeda. Jika proses itu, tidak juga memberikan dampak yang baik, maka jalan terakhir yang akan ditempuh yakni dengan menitipkan uang ganti rugi ini di pengadilan.

  Smelter akan Dibangun dengan Kapasitas 1,3 Juta Ton Konsentrat per Tahun

“Kami sangat berharap supaya pembebasan lahan ini segera tuntas karena jika molor terus akan berdampak sangat tidak baik bagi pembangunan Smelter itu sendiri. Jika tidak kunjung tuntas, maka kami (Pemerintah) akan menurunkan tim untuk melakukan penilaian harga dan kami yang akan melakukan pembebasan lahan tersebut,” imbuhnya.

Ia berharap agar pembagunan smelter terus didukung oleh warga yang berada di Kecamatan Maluk, karena manfaat dari adanya smelter sangat banyak. Mulai dari pabrik semen, pabrik kabel, sampai dengan pabrik tembaga. Tentu jika proses tersebut bisa terealisasi dengan baik, maka dampak bagi perekonomian warga Maluk dan KSB pada umumnya sekaligus menurunkan angka pengangguran yang saat ini masih cukup tinggi. Karena untuk tahap konstruksi proyek smelter saja butuh karyawan minimal 6000-7000 orang belum lagi industri turunan lainnya.

Ia berharap agar masyarakat bisa mendukung pembangunan smelter oleh AMNT karena manfaatnya akan jauh lebih besar bagi masyarakat. Meski jumlah orang masih menolak sangat sedikit sekitar tujuh orang, tetapi pihaknya berharap agar proses pembayaran lahan ini bisa segera tuntas.

Bupati juga meminta kepada pemilik lahan agar bisa membantu pemerintah merealisasikan pembangunan smelter ini demi perkembangan ekonomi KSB yang lebih baik. Karena jika masih ada satu atau dua orang yang tetap menolak, maka hal itu akan mengganggu tahap pembangunan smelter itu sendiri.

“Kami minta proses yang masih menghambat saat ini bisa dituntaskan segera. Karena jika sampai molor, kita juga akan rugi nantinya dan pertumbuhan ekonomi KSB juga akan stagnan,” pungkasnya. (ils)

FacebookTwitterWhatsAppGmailShare

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here