Serangan Ulat Gerayak Ancam Lahan Jagung di KSB

Tanaman Jagung yang rusak akibat dimakan Ulat gerayak di kecamatan Poto tano (Suara NTB/Dinas pertanian KSB)

Taliwang (Suara NTB)– Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mencatat sedikitnya ada sekitar 30 hektar lahan jagung di Musim Tanam (MT) pertama di tahun 2020 diserang hama ulat gerayak. Serangan hama tersebut terjadi di tiga kecamatan yakni Jereweh, Poto Tano dan Seteluk.  Meski serangan hama ini sudah ditangani dengan baik, tetapi para petani jagung di tiga kecamatan tersebut masih was-was lantaran serangan ulat ini terjadi di malam hari dengan cara memakan daun.

‘’Terhadap 50 hektar lahan yang sudah dilaporkan tersebut, tingkat kerusakannya belum terlalu parah hanya di spot-spot tertentu dan sudah langsung ditangani,’’ ungkap Kepala Distan KSB melalui Kabid Pertanian dan Tanaman Pangan Syaiful Ulum SP, kepada Suara NTB, Rabu, 16 Januari 2020 kemarin.

Meski demikian, pihknya tetap meminta para petugas PPL untuk memantau kondisi terkini yang terjadi di lapangan. Sehingga tidak perlu menunggu waktu sampai parah untuk bisa langsung disikapi. Karena jika tidak segera diantisipasi dikhawatirkan kerusakannya akan semakin parah dan akan sulit ditanggulangi.

Dikatakannya, serangan hama ulat gerayak ini tidak terjadi secara menyeluruh, melainkan hanya spot-spot tertentu saja dengan umur jagung sekitar 7-10 hari. Meski demikian, para petani tetap saja merasa was-was lantaran jika tidak diantisipasi dikhawatirkan akan merusak jagung dan petani dipaksa untuk menanam ulang.

Terkait dengan penanganannya, dinas terkait mengaku sudah melakukan penyemprotan di semua lokasi untuk menekan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi saat ini semua sarana baik itu obat- obatan dan semprotan sudah tersedia tinggal digunakan saja oleh yang membutuhkan.  Petani juga sudah berusaha untuk menekan berkembangbiaknya hama tersebut ini dengan tetap melakukan pengecekan, tetapi karena serangannya di malam hari para petani juga kewalahan.

Munculnya ulat gerayak ini bisa jadi faktor cuaca yang tidak bersahabat menjadi pemicu utamanya, sehingga telur hama tidak bisa terbunuh pada saat penyemprotan awal. ‘’Setelah laporan diterima kita langsung turun ke lapangan untuk melakukan penyemprotan dan semuanya sudah aman. Apalagi obat yang kita siapkan juga masih sangat banyak dan aman bagi para petani yang mengeluhkan ketika terjadi serangan hama,’’ katanya.

Dikatakan, cara kerja ulat gerayak ini yakni dengan memakan daun jagung yang berumur 7-10 hari sehingga jagung akan menguning dan mati. Jika tidak disikapi dengan cepat, hama ini bisa mengakibatkan petani gagal panen. Beruntung PPL dan petani segera melaporkan kondisi tersebut, sehingga bisa langsung disikapi dan hal-hal yang tidak diinginkan bisa semakin ditekan.

Sementara untuk persiapan obat-obatan sampai dengan saat ini sudah tidak ada masalah lagi, karena stok yang tersedia mencukupi hingga tahun 2020 berakhir. Sehingga pihaknya tidak kesulitan untuk menyikapi masalah serangan hama yang terjadi. Hanya saja pihaknya tetap berharap kepada para petani untuk segera melapor ketika ada kejadian baik itu serangan hama maupun hal yang lainnya.

Karena jika tidak ada laporan, maka persedian obat juga tidak akan dikeluarkan oleh pemerintah dan petanilah yang akan merugi nantinya. ‘’Persediaan obat-obatan sudah tidak ada masalah lagi yang kita tunggu laporan dari para petaninya. Jika tidak ada laporan kita juga akan kesulitan untuk melakukan upaya penanganan lanjutan,’’ tandasnya. (ils)