Soal Sanitasi, KSB Jadi Contoh Dunia

Ridwan Syah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Children’s Fund (Unicef) akan menjadikan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sebagai daerah percontohan di Indonesa bahkan dunia kaitan dengan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). KSB merupakan satu-satunya daerah di NTB yang sudah mencapai Buang Air Besar Sembarangan (BABS) nol.

‘’Unicef ini konsen terhadap sanitasi. Di Indonesia, kabupaten yang terpilih sebagai percontohan adalah KSB. KSB ini yang mau dijadikan percontohan, bukan saja di Indonesia tapi juga di dunia,’’ kata Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, M.TP usai mendampingi Perwakilan Unicef dan Bupati KSB bertemu Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Si di ruang kerjanya, Selasa, 3 Desember 2019 siang.

Ridwan mengatakan, Unicef secara langsung akan turun ke KSB melihat keberhasilan kabupaten ujung barat Pulau Sumbawa tersebut dalam program STBM. Bahkan, kata Ridwan, pada 2020 mendatang, Unicef akan mengundang seluruh bupati dan walikota se – Indonesia menggelar pertemuan di KSB.

Baca juga:  Masyarakat Dusun Tegal Integrasikan Posyandu dengan Sampah

‘’Dia akan melihat seperti apa langkah-langkah yang dilakukan Pemda setempat. Seperti program Buang Air Besar Sembarangan Nol, KSB sejak 2016 sudah bebas. Pada 2020, Unicef akan melakukan pertemuan tingkat nasional di KSB. Akan mengundang semua kabupaten/kota,’’ terangnya.

Bupati KSB, Dr. Ir. H. W. Musyafirin, MM mengatakan bahwa saat ini KSB sedang melaksanakan program STBM. Dalam program STBM, ada lima pilar di dalamnya. Seperti BABS yang sudah nol di KSB. Kemudian cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air bersih rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

Baca juga:  Kadis Baru Ingin Ubah Sampah di Mataram Jadi Energi

“Lima pilar ini harus kita tuntaskan,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa baru 23 daerah di Indonesia yang sudah mencapai BABS nol. Di NTB, baru KSB yang bebas BABS. Sedangkan sembilan kabupaten/kota masih belum bisa BABS nol.

‘’Kita punya instrumen di sana budaya gotong royong. Dari kultur kita formulasikan menjadi struktur. Kemudian kita formalkan kembali lewat Perda,’’ terang Musyafirin ditanya upaya yang dilakukan untuk mencapai BABS nol.

Ia menjelaskan, instrumen tersebut dimainkan KSB untuk menggerakkan partisipasi masyarakat. Bahkan, kata Musyafirin program Buang Air Besar Sembarangan Nol (Basno) yang pernah menjadi program unggulan Pemprov NTB dapat dicapai KSB hanya dalam waktu 100 hari.

“Karena kita mampu menuntaskan Basno maka kita kembangkan menjadi STBM,” tandasnya. (nas)