Dilanda Kemarau Panjang, Dua Bendungan di KSB Defisit Air

Ilustrasi bendungan di NTB (Suara NTB/dok)

Taliwang (Suara NTB) – Dua bendungan besar di Kecamatan Taliwang saat ini berada dalam kondisi kritis. Kedua Bendungan tersebut yakni bandingan Kalimantong I yang meliputi wilayah pengairan di kecamatan Brang Ene dan bagian selatan Taliwang dan Bendungan Kalimantong yang meliputi kecamatan Brang Rea dan bagian utara Taliwang. Kedua bendungan itu, saat ini kondisi airnya berada di level 14 sampai 30 centimeter dari kondisi normal 60-80 centimeter.

“Kemarau panjang yang saat ini masih terjadi di sebagian besar KSB juga berdampak pada menurunnya jumlah pasokan air dua bendungan besar yang ada di wilayah setempat. Kondisi yang terjadi saat ini mengakibatkan terlambatnya musim tanam yang seharusnya sudah bisa dilakukan sejak bulan November lalu. Kita juga memprediksi kondisi yang terjadi saat ini akan berlangsung hingga akhir bulan Desember mendatang karena belum ada tanda-tanda hujan,” ungkap Pengamat perairan khusus untuk wilayah Taliwang, Abdul Hadi, kepada Suara NTB, Senin, 2 Desember 2019.

Dikatakannya, prediksi dari BMKG bahwa hujan akan normal pada pertengahan bulan November, tetapi prediksi tersebut meleset dari jadwal karena sampai dengan saat ini belum ada hujan. Parahnya lagi cuaca panas yang terjadi saat ini dianggap paling ekstrem dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Akibat kondisi tersebut, beberapa daerah irigasi banyak yang belum teraliri air sebut saja di desa Matiyang dan sebagian besar Taliwang.

Molornya musim hujan ini juga berpengaruh terhadap pola tanam yang semestinya sudah dilakukan sejak bulan November terpaksa mundur. Bahkan pihak terkait bersama dengan Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan (Distanbunnak) sudah menyepakati awal musim tanam serentak dilakukan di awal bulan Desember.

Hanya saja, kesepakatan ini juga terancam tidak bisa dilaksanakan mengingat musim hujan yang belum turun secara normal hingga sekarang ini. Kalaupun ada masyarakat yang memaksakan diri untuk tetap saja melakukan penanaman dengan kondisi hujan yang belum normal dikhawatirkan benih yang di semai tidak akan tumbuh.

“Memang kesepakatan awal kita musim tanam serentak akan kita lakukan di awal bulan  Desember, tapi karena kondisi hujannya yang belum normal bisa jadi molor. Jika tetap dipaksakan dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” sebutnya.

Ia mengimbau agar petani tidak melakukan penyemaian benih terlebih dahulu meski saat ini wilayah setempat mulai diguyur hujan dengan intensitas rendah. Hal tersebut dilakukan, karena hujan yang mulai turun hanya untuk membahasahi permukaannya saja dan belum menyerap kedalam tanah. Jika dipaksakan tetap akan dilakukan penyemaian benih saat ini, dikhawatirkan tidak akan tumbuh secara maksimal karena kondisi hujan yang belum normal.

Hal tersebut sengaja diingatkan karena dikhawatirkan hujan yang mulai turun saat ini dianggap tidak akan bisa bertahan lama. Jika tetap dipaksakan tetap dilakukan penyemaian, maka benihnya tidak akan tumbuh dengan baik lantaran kekurangan air. Pihaknya juga tetap akan memantau kondisi hujan dan air di bendungan, jika intensitas hujan mulai stabil baru dan Bendungan mulai terisi maka pihaknya akan meminta kepada para petani untuk melakukan penyemaian.

“Kami tetap mengimbau kepada para petani untuk menunggu hujan normal sebelum melakukan penyemaian. Karena jika tetap dipaksakan dikhawatirkan benih tidak akan tumbuh dan rusak begitu saja,” pungkasnya. (ils)