Masyarakat Butuh Air Bersih, Dana Penanganan Kekeringan Tak Kunjung Turun

Masyarakat terdampak kekeringan menunggu bantuan air bersih

Taliwang (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbawa Barat, mengaku sampai saat ini belum diberikan dana untuk penanganan kekeringan di wilayah setempat. Padahal, masyarakat saat ini sangat membutuhkan air bersih. Kalaupun ada, hanya tim dari Polres yang rutin melakukan distribusi. Itupun dianggap belum maksimal karena jumlahnya juga terbatas.

Sejak masa tanggap bencana kekeringan ditetapkan, tidak ada penyaluran air bersih ke masyarakat yang membutuhkan. “Masa tanggap bencana kekeringan yang kita tetapkan berakhir di tanggal 19 September lalu, tetapi kita tidak lakukan perpanjangan karena tidak ada anggaran. Kami juga tidak habis pikir kenapa anggaran untuk tanggap bencana seperti ini tidak bisa diberikan padahal kondisinya sudah darurat. Kami juga sudah meminta bantuan ke Provinsi tetapi sampai dengan saat ini masih nihil juga. Kami tidak tahu persis masalah apa yang terjadi sehingga anggaran untuk masa tanggap bencana kekeringan tidak kunjung terealisasi,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD KSB melalui Kabid Kedaruratan dan logistik (Darlog) Hendra Adiwinata S. Pd kepada Suara NTB, Kamis,  17 Oktober 2019.

Dikatakannya, penanganan kekeringan di tahun 2019 dianggap sangat berbeda dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Salah satunya dari dukungan anggaran, dimana di tahun 2018 ketika sudah berada didalam masa tanggap kekeringan, maka dukungan anggarannya sudah sangat siap. Tetapi justru sangat terbalik dengan tahun 2019, dimana usulan anggaran untuk penanganan kekeringan tidak kunjung diberikan oleh Pemerintah dengan total kebutuhan dana sekitar Rp100 juta.

Hal tersebut tentu

sangat disayangkan, lantaran masyarakat sudah banyak yang bersurat dan menelpon secara langsung agar bisa diberikan bantuan air bersih. Bahkan usulan permintaan bantuan anggaran ke  provinsi sampai dengan saat ini tidak kunjung juga ada kejelasan dan itu dianggap sangat tidak baik. Bahkan jujur saja, Pihaknya sudah capek dengan umpatan masyarakat karena tidak kunjung melakukan distribusi air bersih. Karena kondisinya tidak ada anggaran, maka pihaknya tidak bisa berbuat banyak.

“Kami tidak bisa berbuat banyak karena anggaran yang kita butuhkan tidak kunjung diberikan Pemerintah. Kami juga sudah capek melayani umpatan dari warga masyarakat karena sampai dengan saat ini tidak kunjung dilakukan distribusi air bersih,” sebutnya.

Berdasarkan data yang diterima Suara NTB, saat ini tercatat ada tiga kecamatan yang mengalami bencana kekeringan terparah. Seperti Kecamatan di Poto Tano dengan total ada enam desa yakni Tambak Sari dengan jumlah jiwa sekitar 1.084 jiwa, Desa Kiantar 1.100 jiwa, Desa Senayan 315 jiwa, Tua Nanga 980 jiwa, Desa Poto Tano 1.425 dan desa Mantar 1.080 jiwa. Di Kecamatan Seteluk ada sekitar empat desa yakni desa Air Suning 980 jiwa, Desa Lamusung 972 jiwa, Desa Kelanir 780 jiwa,  dan Desa Meraran 650 jiwa. Sedangkan untuk kondisi kekeringan di Kecamatan Taliwang, ada tiga lokasi yang rawan yakni, desa Kertasari 627 jiwa, Desa Batu Putih 445 jiwa  dan Desa Persiapan Lamunga dengan jumlah jiwa 725 jiwa. Sementara di kecamatan Jereweh ada satu dua desa yakni Dasan Anyar dan Dusun Jelenga di Desa Goa dengan estimasi sekitar 100 jiwa yang terdampak. (ils)