Habiskan Rp3 Miliar, Kementerian PUPR Bangun Jembatan Gantung Pertama di KSB

Proyek jembatan gantung pertama di KSB yang diresmikan Bupati KSB, H. W. Musyafirin. Jembatan ini akan dibangun sepanjang 42 meter dan lebar 1,8 meter. Menghubungkan Desa Tamekan dan Seloto. (Suara NTB/ils)

Taliwang (Suara NTB) – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional IX Mataram mulai membangun jembatan gantung pertama di Sumbawa Barat yang menghubungkan antara Desa Temekan dan Desa Seloto. Pembangunan jembatan gantung pertama tersebut ditaksir menghabiskan anggaran sekitar Rp3,04 miliar yang ditargetkan rampung dalam waktu 180 hari kerja.

Pejabat Balai Pelaksanaan Jalan Nasional IX Mataram, Ujang Sukmana, S.T., M.T., M.M dalam laporannya menyampaikan, Jembatan Gantung Brang Rope I adalah proyek dari diskresi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat (PUPR) atas usulan Bupati untuk aksesibilitas masyarakat. Usulan ini sudah aja sejak 10 Tahun yang lalu tetapi baru dilaksanakan oleh Kemen PUPR. Bahkan untuk tahun 2019 ada dua proyek jembatan gantung yang akan dibangun di NTB yakni di Bima dan KSB. Tentu kedepannya akan ada lagi jembatan gantung yang akan dibangun, karena saat ini sudah ada tiga usulan baru lagi yakni di desa Seloto, Banjar, dan Seteluk. Untuk jembatan gantung yang ada di Brang Rope progresnya sudah 20 persen karena semua materialnya sudah tersedia di lokasi tinggal dilakukan pembangunan saja. Tentu pihaknya sangat berharap kepada masyarakat agar pembangunan jembatan ini bisa didukung sehingga tidak molor dari waktu yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah. Pihaknya juga menjamin pelaksanaan pembangunannya tidak akan molor, karena semua material sudah ada di lokasi tinggal dibangun saja.

“Jembatan ini dibangun karena sudah diusulkan sejak 10 tahun yang lalu dan baru bisa terealisasi. Kami juta sangat berharap supaya bisa didukung demi mempermudah akses masyarakat ke desa lain dan untuk menganggkut hasil pertanian yang ada,” ungkapnya. Ia menambahkan, jembatan ini memiliki panjang sekitar 42 meter dan lebar 1,8 meter.

Butati Kabupaten Sumbawa Barat, Dr. Ir. H. W Musyafirin, M.M mengatakan, pembangunan jembatan Brang Rope I  di Desa Tamaken berdasarkan aspirasi masyarakat sejak 10 tahun lalu tetapi baru bisa direalisasikan tahun 2019. Tentu dengan adanya pembangunan jembatan ini diharapkan bisa mempermudah akses masyarakat ketika hendak ke desa yang lainnya. Selain akses masyarakat berupa jembatan, pihaknya juga tetap mengupayakan untuk memenuhi sarana yang lainnya. Salah satunya yakni akses listrik hampir semua lokasi sudah terpasang jaringan listrik sehingga tidak terjadi masalah di lapangan. Hanya saja yang masih menjadi kendala saat ini yakni penyediaan sarana telekomunikasi. Hal ini tentunya sangat beralasan karena sampai dengan saat ini masih ada enam titik yang belum bisa terlayani jaringan telekomunikasi secara maksimal. Tentu terhadap masalah ini, pihaknya tetap akan berupaya maksimal untuk dipenuhi, sehingga kedepannya tidak ada masalah di masyarakat. Terkait dengan jembatan gantung ini, dirinya berharap supaya bisa didukung dengan maksimal. Sehingga proses pembangunannya bisa rampung tepat waktu sehingga warga bisa merasakan manfaatnya secara maksimal.

“Kita sangat bersyukur dengan adanya pembangunan jembatan gantung ini karena sudah diidam-idamkan oleh masyarakat sejak 10 tahun lalu. Makanya kami minta agar kondusifitas wilayah selama pembangunan jembatan ini bisa dijaga sehingga pembangunannya bisa rampung tepat waktu,” pungkasnya. (ils)