Warga Tambak Sari Butuh Sumur Bor Khusus Pertanian

Hamparan lahan jagung di desa kertasari, kecamatan Poto Tano. Warga setempat sangat membutuhkan sumur bor untuk mengairi jagung mereka yang terimbas kemarau. (Suara NTB/ist)

Taliwang (Suara NTB) – Warga desa Tambak Sari, kecamatan Poto Tano berharap agar pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dapat menempatkan fasilitas sumur bor khusus pertanian di wilayah mereka.

Kepala Desa Tambak Sari, Suhardi mengatakan, warganya sebagian besar memanfaatkan lahan mereka untuk menanam jagung. Dan dalam beberapa tahun terakhir hasil panen jagung warganya pun terus mengalami penurunan yang disebabkan kemarau.

“Tahun ini hampir sebagian besar tanaman jagung warga kami gagal panen. Penyebabnya ya musim kemarau sekarang ini,” terangnya, Senin, 5 Agustus 2019.

Dijelaskannya, musim kemarau dalam beberapa tahun terakhir semakin sulit diprediksi durasinya. Akibatnya petani selalu dihantui gagal panen, karena petani jagung yang sebagian besar mengandalkan air hujan mengairi tidak punya alternatif sumber air lain. Sehingga ketika musim kemarau datang di luar prediksi dan di sisi lain tanaman jagung masih membutuhkan air secara otomatis tanaman petani akan mati. “Di mana cari sumber air kalau hujan tidak ada,” cetus Suhardi.

Karena itu kata dia, warganya sangat membutuhkan kehadiran sumur bor khusus untuk pertanian. Sumur bor tersebut harapannya dapat dimanfaatkan masyarakat untuk sarana penyuplai air jika musim kemarau tiba. “Kami punya mimpi kalau ada sumur bor itu, jagung kami tetap tumbuh bagus karena tetap bisa dapat air walau kemarau,” harap Suhardi.

Sementara itu, Rahmat salah seorang petani jagung desa Tambak Sari menyatakan, setiap tahunnya hasil panen petani terus menurun bahkan sudah bisa dikatakan gagal panen. “Tahun ini semakin parah. Karena hanya sekitar 40 persen saja tanaman jagung berhasil. Selebihnya gagal panen,” cetusnya.

Menurut dia, harapan petani agar dibuatkan sumur bor sangat ditunggu-tunggu. Karena hal itu bisa menjadi salah satu solusi mengatasi gagal panen akibat musim kemarau. “Sebenarnya dulu pernah ada mesin bor. Tapi airnya jelek. Rasanya asin. Makanya kami berharap ada penggantinya yang baru dari pemerintah,” tukasnya. (bug)