KSB Terbitkan SK Tanggap Bencana Kekeringan 14 Hari

Ilustrasi (Kekeringan)

Taliwang (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat, mengeluarkan surat keputusan (SK) tanggap bencana kekeringan hingga 14 hari ke depan. Keputusan tersebut dikeluarkan, menyusul banyaknya laporan permintaan air bersih dari masyarakat terutama di wilayah pesisir karena sumur-sumur warga sudah mulai kering.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbawa Barat kepada Suara NTB melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) Hendra Adiwinata S.Pd, Senin , 5 Agustus 2019 mengatakan, massa tanggap bencana ini mulai diterbitkan hari ini (kemarin, red) lantaran kondisi beberapa sumur warga mulai kering dan wilayah di KSB mulai mengalami kekeringan ekstrem. Terutama di wilayah yang berada di daerah pesisir, seperti di desa Kiantar, Tua Nanga, Poto Tano, Senayan dan Kertasari.

Penetapan masa tanggap ini, harus segera dilakukan supaya proses pendistribusian air bersih ke masyarakat bisa cepat. Bahkan jika selama 14 hari masih banyak masyarakat yang membutuhkan air bersih, maka pihaknya akan langsung melakukan perpanjangan waktu. Karena pada prinsipnya pemerintah hadir sebagai pelayan masyarakat, jika ada warga yang merasa kesulitan harus segera dibantu. Bahkan di masing-masing daerah yang terkena dampak akan disalurkan air bersih dari satu tangki hingga tiga tangki perhari tergantung kondisi daerah dan tingkat keparahannya.

“Memang baru hari ini kita terapkan masa tanggap kekeringan karena memang sumur-sumur warga sudah banyak yang kering. Kami juga tetap memperpanjang jika kondisi di lapangan masih mengalami kekeringan,” ungkapnya.

Dikatakannya, berdasarkan hasil pantauan yang sudah dilakukan pihaknya beberapa hari terakhir, hanya desa Kiantar dan desa Tua Nanga saja yang sudah mengalami kondisi kering yang signifikan. Dimana di desa Kiantar ada tiga dusun yakni Dusun Kuang Busir, Dusun Reban, dan Dusun Aik Tiris dengan jumlah Kepala Keluarga mencapai (KK) 230 orang dan 890 jiwa yang sudah terdampak bencana kekeringan ini.

Bahkan untuk kedua desa itu (Kiantar dan Tua Nanga), pihaknya harus melakukan suplay air bersih minimal tiga tangki dengan kapasitas 5000-6000 liter per harinya. Jumlah bantuan ini tentunya masih dianggap kurang oleh warga sekitar, karena sumur-sumur warga tidak memiliki air untuk konsumsi sehari-hari. Sementara desa-desa yang lain, dianggap masih belum mengalami kekeringan ekstrem, karena masih ada sumber mata air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Kendati demikian, pihaknya tetap akan melakukan pemantauan secara rutin ke desa, sehingga penanganan masalah kekeringan bisa semakin maksimal dilakukan. Pihaknya juga meminta kepada kepala desa untuk bisa melaporkan kondisi terkini yang ada, supaya bisa cepat ditangani dengan baik.

“Dari 13 desa yang sudah kita keluarkan SK tanggap bencana, hanya dua desa (Kiantar dan Tua Nanga) saja yang kita anggap mengalami kekeringan ekstrem makanya kita sediakan tangki air bersih lebih banyak ke dua desa tersebut,” ujarnya.

Ditambahkannya, dalam masa tanggap bencana ini, pihaknya juga sudah mengusulkan anggaran ke TAPD sekitar Rp125 juta untuk penanganan awal tanggap bencana kekeringan. Dengan anggaran tersebut diprediksi hanya mampu bertahan selama dua minggu saja, karena harga air dan akomodasi yang mahal.

Pihaknya juga akan mengusulkan anggaran ke Pemprov untuk bisa dibantu untuk penambahan pembiayaan. Sehingga dengan demikian, pihaknya sangat berharap supaya penanganan masalah kekeringan yang terjadi di KSB bisa maksimal. Sementara untuk lokasi yang terkena dampak hingga saat ini belum terjadi penambahan wilayah baru, sesuai dengan SK siaga yang dikeluarkan sebelumnya. Sehingga dengan anggaran bantuan dari Pemprov tersebut, diharapkan bisa lebih maksimal lagi dalam penanganan masalah kekeringan di wilayah setempat.

“Kita sangat berharap kita bisa dibantu dengan anggaran dari Pemprov, sehingga dalam penanganan nantinya bisa lebih maksimal dan tidak ada masyarakat yang mengeluhkan karena kurangnya distribusi air bersih,” tandasnya. (ils)