Penanganan Korban Kebakaran Diharapkan Tuntas Sebulan

Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah dan Bupati KSB, H. W. Musyafirin saat mengunjungi lokasi kebakaran di Desa Seteluk Tengah, Sabtu,  20 Juli 2019. (SUARA NTB/ils)

Taliwang (Suara NTB) – Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) Dr. Ir. H. W. Musyafirin MM menargetkan penanganan 11 unit rumah yang rusak pasca kebakaran hebat di Desa Seteluk Tengah tuntas dalam jangka waktu satu bulan.

Upaya percepatan ini tentu sangat beralasan, karena tidak mungkin delapan keluarga yang rumahnya hangus terbakar tinggal lebih lama di tenda pengungsian. Belum lagi kondisi panas yang sangat menyengat di wilayah setempat akan sangat berdampak pada kesehatan para pengungsi.

“Kita targetkan penanganan rumah yang hangus tuntas dalam waktu satu bulan, sementara tiga rumah yang hanya mengalami rusak sedang anggaran perbaikannya sudah kita siapkan. Kita sengaja mempercepat penanganan rumah tersebut, karena yang kita khawatirkan terjadi nanti justru masalah baru yang muncul. Kalau dari segi biaya hidup selama di pengungsian kita pastikan terpenuhi baik itu makanan maupun pakaian yang layak pakai. Sehingga para korban yang terdampak tidak merasa terbebani dengan kondisi yang mereka alami,” ungkap bupati Kepada Suara NTB, Sabtu,  20 Juli 2019.

Dikatakannya, untuk penanganan rumah yang hangus terbakar, saat ini pihaknya sudah menyiapkan anggaran sekitar Rp35 juta untuk satu unit rumah atau sekitar Rp280 juta untuk delapan unit rumah. Sementara untuk tiga rumah yang mengalami rusak sedang, Pemkab juga sudah menyiapkan anggarannya sekitar Rp15 juta.

Anggaran tersebut tentu sangat berbeda dengan dana bantuan gempa, karena khusus untuk masalah kebakaran akan ditangani dengan biaya dari APBD kabupaten. Hanya saja yang akan menjadi kendala dalam membangun rumah tersebut yakni bahan bakunya. Hal ini tentu sangat beralasan karena rata-rata para korban meminta supaya bisa dibangun rumah berbahan kayu.

Permintaan masyarakat untuk dibangun rumah kayu tentu sangat berdasar. Sebab, topografi tanahnya terlalu rendah yang berakibat rawannya terjadi genangan. Meski demikian, pihaknya tetap akan mengupayakan supaya apa yang menjadi keinginan para korban bisa terpenuhi dengan baik. Pihaknya meminta masyarakat dan stakeholder lainya agar bisa membantu dalam perbaikan rumah tersebut. Sehingga korban bisa menempati rumahnya dengan cepat supaya tidak ada lagi masalah yang baru muncul di lapangan.

“Awalnya kita berencana untuk membangun rumah tahan gempa, tetapi para korban ini menolak dengan harapan bisa dibangun rumah kayu. Karena itu yang diminta kita akan penuhi dengan masa waktu pengerjaan selama satu bulan tersebut,” tandasnya.

Perhatikan Mitigasi Bencana

Bupati KSB, Dr. Ir. H. W. Musyafirin juga mengingatkan agar pembangunan 11 unit rumah korban kebakaran di kecamatan Seteluk tidak sekedar mengantisipasi bencana yang sama terjadi. Tetapi juga harus mampu meminimalisir potensi bencana lainnya yang selama ini kerap melanda wilayah Seteluk.

“Jangan sekedar bangun rumah ya. Tapi juga menyelesaikan masalah lingkungannya. Menertibkan lokasi rumah tidak saja untuk antisipasi bencana kebakaran kembali terjadi tapi juga potensi bencana lainnya,” kata Musyafirin saat menyerahkan bantuan pembangunan rumah 11 warga korban kebakaran Seteluk.

Salah satu potensi bencana yang kerap mengintai wilayah Seteluk adalah banjir. Karena itu bupati menyatakan, agar pembangunan kembali rumah korban kebakaran nanti turut memperhatikan persoalan banjir tersebut. Rumah-rumah warga saat di bangun harus ditata sedemikian rupa agar saat banjir melanda, warga dapat meminimalisir kerugian yang diakibatkan bencana tersebut. “Warga (korban) kan sudah setuju sebelumnya untuk ditata rumahnya. Jadi laksanakan,” instruksi bupati. (ils/bug)