KSB Diperkirakan Alami Kekeringan Panjang

Ilustrasi kekeringan (Suara NTB/pexels)

Taliwang (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbawa Barat memprediksi kondisi musim kemarau saat ini akan berlangsung lebih panjang dibanding tahun sebelumnya. Hal tersebut terjadi lantaran fenomena El Nino (memanasnya suhu muka laut di Samudera pasifik bagian tengah hingga timur) bertepatan dengan kondisi musim kering dan curah hujan rendah di wilayah Indonesia.

Kepala Pelaksana BPBD KSB, kepada Suara NTB melalui Kabid Kedaerahan dan Logistik (Darlog) Hendra Adiwinata S. Pd, Rabu, 17 Juli 2019  mengatakan, memang faktor utama penyebab kekeringan panjang yang akan terjadi di wilayah KSB karena dampak dari El Nino yang bertepatan dengan musim kering dan curah hujan yang rendah. Puncak musim kering ini diprediksi akan terjadi di bulan Agustus hingga bulan Desember mendatang.

Sementara, musim hujan diprediksi akan terjadi di bulan Januari sampai April 2019. Fenomena El Nino juga berpengaruh terhadap singkatnya musim penghujan di KSB yakni dari bulan Januari hingga April mendatang. Hal tersebut tentu dianggap sangat berbeda jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, karena rata-rata dua tahun terakhir musim hujan selalu terjadi di bulan Oktober.

Mundurnya musim penghujan juga akan sangat berpengaruh kepada pola tanam dan target produksi pertanian jika dibandingkan dengan dua tahun terakhir. Selain itu jumlah Kepala Keluarga (KK) yang terdampak kekeringan dari 11.048 juga diprediksi akan terus bertambah. Sehingga anggaran untuk penanggulangan krisis air bersih juga akan membengkak.

“Kita prediksi musim kemarau yang terjadi saat ini akan berlangsung panjang dari tahun sebelumnya. Faktor utamanya karena El Nino yang disertai masuknya musim kemarau dan kondisi air hujan yang rendah,” ungkapnya.

Dikatakannya, Selain fenomena El Nino, kerusakan alam karena pembalakan liar dan penambangan emas secara ilegal (Peti) juga turut ambil andil dalam meningkatkan suhu panas di Sumbawa Barat. Hal ini tentu sangat beralasan. Sebab, hampir di semua tempat dan Desa selalu ada saja lokasi PETI ditemukan dengan ditandai tenda menggunakan terpal.

Kondisi tersebut kembali diperparah dengan banyaknya kayu yang ditebang secara bebas tanpa ada penanaman pohon kembali. Fenomena pembalakan kayu secara ilegal juga akan berdampak tidak baik bagi alam, karena pada saat musim penghujan maka banjir bandang tetap akan terjadi terutama di wilayah Brang Rea. Hal itu terjadi karena daya serap air kedalam tanah sudah semakin berkurang sehingga menimbulkan tanah longsor dan banjir bandang.

Dirinya sangat berharap supaya aktivitas PETI yang saat ini masih saja terjadi di KSB harus dihilangkan dan dihentikan, jika tidak segera maka dampak kerusakannya akan semakin besar. Tentu yang akan merasakan dampak akibat bencana tersebut yakni manusia yang ada di bumi dan mahluk hidup lainnya.

“Harus kita akui aktivitas PETI dan illegal logging menjadi faktor lain meningkatnya suhu panas di KSB. Makanya aktivitas tersebut harus dihentikan segera demi masa depan yang lebih baik, karena jika dibiarkan tidak hanya pemanasan global tetapi bencana yang lain juga akan terjadi,” tandasnya. (ils)