Puluhan Hektar Jagung di Kertasari Terancam Gagal Panen

Nampak lahan jagung yang terancam gagal panen karena terdampak kekeringan di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). (Suara NTB/ist)

Taliwang (Suara NTB) – Setidaknya sekitar 60 hektar lahan pertanian jagung di desa Kertasari Kecamatan Taliwang, terancam mengalami gagal panen di Musim Tanam (MT) pertama 2019. Hal itu dipicu sangat minimnya pasokan air ke wilayah setempat  pada saat jagung mulai berbuah.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan (Tanbunnak) KSB, melalui Kabid Pertanian tanaman pangan Syaiful Ulum SP, kepada Suara NTB, Rabu,17 Juli 2019 membenarkan adanya puluhan hektar lahan jagung yang terancam gagal panen MT Pertama tahun 2019.

Akibat kondisi cuaca yang tidak menentu tersebut kini, harus merugi hingga puluhan juta karena mata pencaharian utama gagal panen. Rusaknya puluhan hektar jagung tersebut karena musim kemarau melanda wilayah setempat pada saat jagung sedang berbuah atau berumur 60-70 hari Kondisi gagal panen yang terjadi tahun 2019 merupakan hal yang terparah sejak beberapa tahun terakhir karena sebelumnya ada sekitar 133 hektar yang sudah dilaporkan gagal panen di desa Tua Nanga kecamatan Poto Tano.

Pihaknya juga sudah berupaya untuk mendistribusikan pompa air dengan harapan bisa menyelamatkan jagung tersebut, tetapi karena sumber mata airnya yang tidak ada akhirnya jagung ini tidak mendapatkan air. Kondisi tersebut kembali diperparah dengan belum adanya asuransi terhadap tanaman jagung tersebut, sehingga mau tidak mau petani harus menanggungnya secara mandiri.

“Faktor cuaca yang mempengaruhi puluhan hektar lahan yang terancam gagal panen tersebut. Apalagi untuk musim kemarau tahun ini di luar prediksi kami, karena lebih cepat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Dikatakannya, meskipun untuk tanaman jagung tidak ada asuransi tapi pihaknya tetap akan mengupayakan jalan keluar terbaik agar para petani tidak terlalu merugi. Salah upaya yang dilakukan yakni dengan menyiapkan benih untuk musim tanam bulan berikutnya, termasuk pupuk dan obat-obatan lainnya.

Selain masalah itu, pihaknya juga akan membantu para petani dari segi angsuran pembayaran kredit. Karena rata-rata para petani ini mengambil modal dari Bank dengan waktu pembayaran setelah panen jagung, tetapi karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bisa dipanen maka untuk angsuran akan diupayakan jalan keluar terbaik dengan pemodal.

Upaya itu dilakukan juga supaya para petani tidak lagi berfikir untuk tepat waktu membayar modal usaha yang sudah dipinjamkan kepada pihak perbankan melainkan bisa diberikan keringanan cicilan. Sehingga kedepannya para petani jagung tidak terlalu merugi dan bisa terbantukan.

Selain pola demikian, saat ini pihaknya juga tengah mencari celah supaya tanaman jagung juga bisa diasuransikan sama halnya seperti padi, dengan pola itu pihaknya sangat yakin petani jagung akan sangat tergantikan.

“Kita sudah siapkan langkah antisipasi untuk meringankan beban petani jagung yang terancam gagal panen tersebut. Bahkan dalam waktu dekat ini kami akan kembali melakukan pengecekan ke lapangan untuk memastikan kondisi yang dilaporkan itu,” tandasnya. (ils)