Terdampak Kekeringan, Tanaman Padi di Seteluk Terancam Puso

Tanaman padi di wilayah Kecamatan Seteluk, KSB yang terdampak kekeringan. Jika hujan tak kunjung turun, tanaman padi ini terancam puso. (Suara NTB/ist)

Taliwang (Suara NTB) – Sedikitnya 248 hektar lahan pertanian di Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang terdampak kekeringan terancam gagal panen. Dari total luas lahan yang dilaporkan sekitar 607 hektar, hanya 40 persen saja bisa diselamatkan dengan memanfaatkan sistem jaringan irigasi seadanya. Sementara 60 persen sisanya tidak bisa diselamatkan  jika hujan tidak segera turun.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan (Tanbunnak) KSB, melalui Kabid Pertanian dan tanaman pangan Syaiful Ulum SP, kepada Suara NTB, Selasa, 2 Juli 2019 tidak membantah kondisi 248 hektar lahan yang terancam puso tersebut. Hal ini terjadi, karena sudah tidak ada lagi sumber mata air yang bisa digunakan oleh petani untuk mengairi sawah-sawahnya. Meskipun mesin air sudah didistribusikan kepada para petani sejak adanya laporan kekeringan, tetapi karena sumber mata airnya yang tidak tersedia sehingga petani tidak bisa berbuat banyak.

Maka dari itu, saat ini pihaknya tengah mencoba untuk membuat regulasi khusus untuk membantu para petani yang mengalami gagal panen tersebut. Karena jika dihitung-hitung kerugiannya akibat bencana ini ditaksir mencapai angka puluhan juta rupiah. Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya petani di Kecamatan Seteluk yang ikut dalam program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Sehingga kerugian akibat bencana kekeringan itu harus ditanggung secara mandiri.

‘’Kami masih mencari formulasi supaya petani di Seteluk tidak terlalu merugi karena dampak dari kekeringan ini. Kita juga tetap akan berupaya membantu petani, minimal membantu mereka bibit di musim tanam berikutnya,’’ katanya.

Baca juga:  32 Kecamatan di NTB Alami Kekeringan Ekstrem

Dikatakan, terhadap kondisi kekeringan yang terjadi di Kecamatan Seteluk, pihaknya mengakui karena masih minimnya sumur bor yang tersedia. Sehingga para petani sangat menggantungkan hidup dari air sungai yang tersedia saat musim hujan dan tidak bisa bertahan lama. Maka dari itu, pihak terkait akan berupaya menambah sumur bor di lokasi yang rawan kekeringan tersebut.

Sehingga kerugian dan bencana gagal panen bisa semakin ditekan di lokasi yang rawan kekeringan (seperti di Kecamatan Seteluk). Di APBD tahun 2020 mendatang, pihaknya akan memperbanyak sumur bor baik itu dangkal maupun dalam di lokasi tersebut. Selain itu, jaringan irigasi juga akan ditambah dari yang ada saat ini terutama jaringan irigasi primer supaya tidak ada lagi kendala yang terjadi di lapangan.

Sementara untuk lokasi lain sampai dengan saat ini belum ada laporan secara resmi ke dinas. Tetapi berdasarkan pantauan di lapangan, di Kecamatan Taliwang sudah ada 40 hektar lahan yang sudah terdampak kekeringan dan saat ini masih terus dipantau. Kondisi musim kering yang terjadi saat ini diprediksi akan berlangsung lama sesuai dengan surat peringatan dari BMKG. ‘’Kalau laporan resmi kekeringan di lokasi lain sampai dengan saat ini belum ada. Hanya pantauan kami saja di Kecamatan Taliwang ada sekitar 40 hektar. Kami juga tetap akan memantau kondisi terkini di lapangan supaya langsung disikapi,’’ katanya.

Baca juga:  Atasi Kekeringan Butuh Rp2,6 Triliun

Sebelumnya, berdasarkan laporan masyarakat, di Desa Air Suning  sekitar 135 hektar lahan pertanian yang mengalami kekeringan sedang dan 87 hektar kekeringan berat. Kemudian di Desa Seteluk Atas ada sekitar 8 hektar kondisi terdampak kekeringan ringan dan 2 hektar dengan kondisi sedang.

Di Desa Seteluk Tengah sekitar 40 hektar kondisi berat dan 23 hektar kondisi sedang. Di Desa Lamusung juga terdapat 20 hektar kondisi sedang dan 10 hektar kategori berat. Di Desa Loka ada sekitar 65 hektar lahan terdampak kekeringan dengan katagori ringan. Di Desa Seran 15 hektar kekeringan sedang dan 10 berat.

Kemudian di Desa Meraran dari laporan yang masuk ada sekitar 78 hektar mengalami kekeringan sedang dan 34 kekeringan berat. Desa Kelanir dengan 50 hektar berat dan 18 hektar sedang.

Kekeringan yang terjadi di hampir semua desa di Kecamatan Seteluk tersebut terjadi lantaran air dari jaringan irigasi mengering dan juga di beberapa lokasi tidak ada sumber mata air baku. Selain itu, pihaknya juga berharap agar masyarakat bisa segera melapor jika ada kejadian demikian, sehingga penanganan bisa dilakukan dengan cepat.

‘’Kita tetap upayakan ratusan hektar lahan tersebut tertangani dengan baik supaya tidak puso. Kita juga akan berupaya memenuhi sarana yang dibutuhkan untuk proses penanganan tersebut supaya kerugian akibat bencana kekeringan bisa semakin ditekan,’’ tandasnya. (ils)