Ratusan KK di Desa Kiantar Mulai Terdampak Kekeringan

Distribusi air bersih pada daerah terdampak kekeringan.  (Suara NTB/dok)

Taliwang (Suara NTB) – Sekitar 100 kepala keluarga atau sekitar 300 jiwa di desa Kiantar tepatnya di Dusun Sagena, Kecamatan Poto Tano mulai terdampak bencana kekeringan. Bahkan bencana kekeringan di desa dengan jumlah total penduduk sekitar 350 KK tersebut sudah terjadi sejak beberapa bulan yang lalu dan juga sudah mulai didistribusikan air bersih Polres setempat.

Kepala Desa Kiantar Sudirman Kepada Suara NTB, Jumat,  28 Juni 2019  mengatakan, kekeringan yang terjadi di desa Kiantar sudah sering terjadi setiap tahunnya, bahkan sumur bor bantuan yang terbangun di lokasi tersebut juga belum bisa memberikan manfaat secara maksimal bagi masyarakat setempat.

Akibatnya kita masyarakat sangat bergantung pada bantuan air bersih dari petugas baik dari BPBD maupun dari aparat kepolisian. Bahkan dalam sehari selalu ada satu sampai tiga tangki yang masuk ke desa tersebut untuk mendistribusikan air bersih.

Jumlah tersebut tentu sangat minim lantaran jumlah warga yang terdampak kekeringan tidak sebanding dengan pasokan air bersih yang diberikan. Padahal masyarakat di desa setempat, sudah mengalami kekeringan akut mulai dari akhir bulan Mei lalu. Terhadap masalah ini, pihaknya sangat berharap supaya Pemkab bisa segera menyikapi masalah kekeringan ini jika tidak maka masyarakat yang dirugikan.

“Kita sudah mengalami sejak akhir bulan Mei lalu, makanya kami minta supaya Pemkab bisa segera mengambil sikap untuk meringankan beban warga di lokasi terdampak kekeringan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) Hendra Adiwinata S.Pd mengatakan, untuk sementara baru desa Kiantar saja yang sudah dilaporkan mengalami kekeringan dan dilakukan pendistribusian air bersih sesegera mungkin. Sedangkan untuk daerah lainnya, saat ini kondisi di lapangan sudah masuk dalam kategori kuning dan beberapa sumur warga juga masih memiliki air meskipun mulai menyusut.

Bahkan dalam waktu dekat ini,  pihaknya akan segera menetapkan status siaga kekeringan di seluruh wilayah di KSB. Hal tersebut  dilakukan sebagai salah satu bentuk antisipasi bencana kekeringan panjang yang diprediksi terjadi di wilayah setempat. Status siaga ini tentunya hanya akan berlaku selama dua minggu, jika masih ada lokasi lain dan kondisi di lapangan semakin parah akan langsung diperpanjang. Bahkan tim juga tetap intens turun ke lapangan untuk memantau kondisi terkini agar bisa disikapi jika kekeringan terjadi.

“Baru satu desa saja yang dilaporkan terdampak kekeringan bahkan pemantauan di wilayah lain juga akan terus dilakukan, sebagai salah satu bentuk antisipasi bencana kekeringan ketika meluas,” terangnya.

Disebutkannya, sampai dengan saat ini ada tiga kecamatan yang dianggap rawan terjadi bencana kekeringan. Seperti Kecamatan di Poto Tano dengan total ada empat desa yakni Tambak Sari, Desa Kuang Busir, Desa Senayan, dan Desa Tua Nanga . Di Kecamatan Seteluk sekitar enam desa yakni, Seteluk, Rempe Loka, Ai Suning, Lamusung, Desa Kelanir, dan Desa Meraran. Sedangkan untuk dua Kecamatan lainnya yakni Kecamatan Taliwang, ada tiga lokasi yang rawan yakni, desa Kertasari, Desa Batu Putih, dan Desa Lalar Liang. Sedangkan untuk kecamatan Jereweh, hanya satu desa yakni desa Dasan Anyar. Desa-desa itu masuk dalam kondisi yang rawan lantaran hujan tidak kunjung turun dan juga sumur-sumur warga juga sudah mulai berkurang.

“Desa- desa ini selalu menjadi langganan tiap tahun  karena lokasinya yang berada di ketinggian serta berada di pesisir. Kita juga tetap akan pantau kondisi terkini di lokasi itu untuk bisa langsung disikapi jika kondisinya semakin parah,” tukasnya. (ils)