Kekeringan Kian Parah, Tanaman Padi di Seteluk Terancam Puso

Kekeringan yang menimpa tanaman padi di wilayah kecamatan Seteluk, KSB kian parah. Jika kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan akan terjadi gagal panen. (Suara NTB/ils)

Taliwang (Suara NTB) – Sekitar 607 hektar tanaman padi di Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mengalami kekeringan parah. Hal tersebut terjadi lantaran sudah tidak ada lagi sumber air yang bisa digunakan petani untuk mengaliri lahan tersebut. Bahkan kondisi kekeringan parah ini mengancam tanaman padi itu puso.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kecamatan Seteluk, Saparuddin S. Pd kepada Suara NTB, Kamis, 27 Juni 2019 mengatakan, memang saat ini kondisinya masih dalam kekeringan sedang dan berat karena padi-padi tersebut belum menguning. Tetapi jika hujan tidak juga turun dalam beberapa hari ke depan, maka ratusan hektar lahan ini terancam puso (gagal panen).

Hal ini terjadi lantaran petani sudah tidak memiliki sumber mata air lagi untuk mengairi sawah-sawah mereka. Kondisi tersebut kembali diperparah dengan masih belum tersediannya sumur bor di lokasi-lokasi tersebut. Sehingga bencana puso sangat mungkin bisa terjadi. Bahkan kondisi tanah juga pertanian juga sudah mulai retak-retak karena kekeringan.

Meskipun beberapa mesin pompa air sudah didistribusikan kepada para petani yang terdampak kekeringan dengan harapan lahan tersebut bisa diselamatkan. Tetapi sumber airnya sudah tidak ada, maka percuma saja. Selain kekeringan pada tanaman padi, dinas terkait juga mencatat ada lahan jagung di Desa Senayan, Kecamatan Poto Tano yang juga terancam gagal panen.

‘’Kondisinya saat ini sudah semakin parah karena sumber mata air untuk mengairi sawah tersebut sudah kering. Makanya potensi untuk terjadi puso di 607 hektar lahan itu sangat mungkin terjadi,’’ katanya.

Berdasarkan laporan masyarakat, di Desa Air Suning ada sekitar 135 hektar lahan pertanian yang sudah mulai mengalami kekeringan sedang dan 87 hektar kekeringan berat. Kemudian di Desa Seteluk Atas ada sekitar 8 hektar sudah mulai berada dalam kondisi kekeringan sedang dan 2 hektar dengan kondisi berat.

Di Desa Seteluk Tengah sekitar 40 hektar lahan pertanian dalam kondisi kekeringan sedang dan 23 hektar kondisi berat. Di Desa Lamusung juga terdapat 20 hektar kondisi sedang dan 10 hektar kategori berat.

Di Desa Loka ada sekitar 65 hektar lahan dengan kondisi kekeringan ringan dan di Desa Seran 15 hektar kekeringan sedang dan 10 hektar lainnya masuk dalam kondisi mengalami kekeringan berat. Begitupun juga dengan Desa Meraran,  dari laporan yang masuk ada sekitar 78 hektar tanaman padi mengalami kekeringan sedang dan 34 kekeringan berat .

Kemudian di Desa Kelanir, setidaknya 50 hektar lahan mengalami kekeringan ringan dan 18 hektar sedang. Kekeringan yang terjadi hamper di semua desa di Kecamatan Seteluk tersebut terjadi lantaran air dari jaringan irigasi mengering dan juga di beberapa lokasi tidak ada sumber mata air yang baku.

Masyarakat juga berharap supaya bisa dibangun sumur bor dalam di lokasi-lokasi yang saat ini dilaporkan mengalami kekeringan. Harapannya, pada saat air sungai mengering, petani memiliki sumber mata air yang baru untuk mengairi sawah-sawah mereka. Sehingga bencana gagal panen (puso) bisa ditekan atau dihindari. (ils)