Dua Desa di KSB Masuk Kategori Rawan Pangan

Potret warga miskin di NTB (Suara NTB/dok)

Taliwang (Suara NTB) – Sedikitnya sekitar dua desa di Kabupaten Sumbawa Barat yang masuk ke dalam desa dengan kategori rawan pangan di tahun 2019. Dua desa tersebut yakni desa Batu Putih di kecamatan Taliwang dan Desa Mantar di Kecamatan Poto Tano.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) KSB kepada Suara NTB, Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Indra Jaya, S. Pt.,M. Si, Selasa,  14 Mei 2019 mengatakan terhadap  desa yang masih berstatus rawan pangan, maka pihaknya dalam waktu dekat ini berencana untuk turun melakukan pengecekan lapangan.

Hal tersebut dilakukan agar dalam penanganan nantinya tepat sasaran dengan harapan status dua desa bisa lebih baik. Bahkan sejumlah program terus dilakukan untuk menekan angka tersebut, karena jika desa ini dibiarkan tanpa penanganan dikhawatirkan kondisinya akan semakin kritis.

Selain program dari daerah, Provinsi juga sudah menyiapkan khusus untuk desa tersebut dan di targetkan di tahun 2019 sudah tidak lagi desa yang masuk dalam kategori rawan pangan. “Kami akan terus tingkatkan perekonomian masyarakat yang ada di desa tersebut agar bisa keluar dari status desa rawan pangan,” sebutnya.

Dikatakannya, dalam penanganan masalah desa dengan status rawan pangan ini, Dinas terkait memiliki program kerja dengan menjalin koordinasi antar lintas organisasi di daerah untuk menekan kasus tersebut.

Ada beberapa hal yang menjadi indikator desa rawan pangan, ketersediaan pangan, pemanfaatan atau konsumsi, kesehatan dan tingkat kemiskinan. Sebagai contoh saja Desa Batu Putih masuk rawan pangan, karena diketahui jumlah persentase keluarga miskin masih tinggi.

Sementara, di Mantar karena aksesnya yang masih sangat sulit dijangkau. Sehingga butuh pola penanganan lintas sektor dalam mengeluarkan dua desa tersebut agar keluar dari status rawan pangan di KSB. Selain itu, pemberdayaan wanita dengan pemanfaatan pekarangan, dan meningkatkan keterampilan juga akan terus dilakukan di desa dengan kondisi rawan pangan itu.

“Kita tetap akan fokus menangani dua desa tersebut dengan harapan bisa keluar dari status yang disandang saat ini. Kita juga akan membangun kordinasi lintas sektor supaya dalam penyelesaian masalah ini bisa semakin fokus,” tandasnya. (ils)