Delapan Bulan, Pengungsi Gempa Bertahan Hidup di Tenda Pengungsian

Tenda sementara yang dipakai oleh Ibu Tia untuk bertahan hidup di RT05 Desa Seran, Kecamatan Seteluk. (Suara NTB/ils)

Taliwang (Suara NTB) – Sudah delapan bulan berlalu, gempa 6,9 skala richter (SR) mengguncang wilayah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Tetapi dengan rentang waktu yang cukup lama, sangat disayangkan masih ada sekitar 11 rumah rusak berat yang belum ditangani maksimal. Akibatnya, kini pemilik rumah terpaksa menempati tenda darurat yang sudah dianggap tidak layak lagi.

Ibu Tia (60) salah satu penghuni tenda darurat kepada Suara NTB, Sabtu, 14 April 2019 mengatakan, dirinya sudah tinggal di tenda seadanya sudah delapan bulan hingga saat ini. Bahkan selama berada di tenda pengungsian, segala macam penyakit juga menimpa keluarganya.

Lokasi tempat dia mendirikan tenda berada di pinggir sungai dan gelondong. Sehingga akan sangat rawan terserang penyakit kulit dan DBD karena lingkungan yang kotor. Kondisi ini tidak bisa dihindari karena rumah tempat tinggalnya rata dengan tanah. Saat ini, konstruksi rumah baru mencapai tahap pemasangan tiang saja. Itupun dengan dana hasil pemberian bupati secara langsung.

Sementara untuk dana bagi para korban gempa hingga kini masih belum bisa dicairkan. Dirinya juga tidak mengetahui secara pasti apa yang menjadi kendala di lapangan, karena data yang dibutuhkan sudah diserahkan. Meskipun demikian, dirinya sangat berterima kasih atas kunjungan Bupati. Jika tidak maka rumahnya dan 10 orang lainnya di desa Seran tidak akan bisa menempati rumah mereka sebelum bulan Ramadhan.

Baca juga:  Fasilitator Nyambi Jadi Aplikator agar Dipecat

“Sudah delapan bulan saya tinggal di tenda dan kondisi saat ini juga semakin parah karena sudah robek dan termakan usia,” ungkapnya.

Kondisi saat ini juga dikhawatirkan semakin parah, ketika musim penghujan. Selain karena kondisi terpal yang tidak layak pakai, luapan air sungai juga menjadi faktor lain. Hal ini tentu sangat beralasan, karena kondisi tenda sangat berdekatan dengan sungai.

Untuk itu dirinya berharap supaya Pemerintah bisa memberikan perhatian serius terutama di desa Seran. Karena masih banyak warga yang tinggal di tenda hingga saat ini, karena rumah mereka juga rata dengan tanah. Jika tidak bisa segera, dikhawatirkan masyarakat akan lebih lama lagi tinggal di tenda.

Dampak buruknya jika hal tersebut terjadi, maka para pengungsi juga akan semakin rawan terserang penyakit terutama DBD dan malaria karena sudah ada riwayatnya. Hanya saja yang paling penting saat ini pembangunan rumahnya diharapkan bisa semakin dipercepat.

“Harapan terbesar kami di desa Seran, terutama yang rusak berat bisa segera tinggal di dalam rumah. Kalaupun masih butuh waktu, kami berharap bisa dibantu dengan terpal supaya bisa berlindung saat hujan,” harapnya.

Baca juga:  Pelaku Ekonomi Imbau Warga Jangan Latah Soal Gempa

Sebelumnya Bupati Sumbawa Barat Dr. Ir. H. W Musyafirin MM, saat melakukan kunjungan ke desa Seran, masih menemukan ada sekitar 11 rumah rusak berat yang belum ditangani sama sekali. Terhadap rumah yang rusak tersebut, dirinya meminta kepada seluruh perangkat kerja untuk bisa menyelesaikannya sebelum bulan Ramadhan. Jika melewati dari jadwal tersebut, maka dampaknya akan sangat tidak baik bagi para korban. Apalagi anggarannya saat ini sudah ada di kas daerah, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mempercepat penanganan rumah yang rusak. Bupati juga meminta kepada perangkat yang terlibat dalam upaya percepatan penanganan gempa agar bisa serius. Sehingga apa yang menjadi target Pemerintah bisa tercapai dengan baik dan tidak ada masalah lagi.

“Saya minta agar masalah 11 rumah ini bisa diselesaikan dengan cepat karena anggarannya sudah ada di kas daerah. Saya juga mengajak semua pihak untuk fokus dalam penanganan pasca gempa sehingga tidak ada masalah lagi yang muncul di kemudian hari,” tandasnya. (ils)