Kerugian Banjir Seloto KSB Ditaksir Ratusan Juta

Kondisi jembatan putus yang terjadi akibat dihantam banjir di Desa Seloto, Kecamatan Taliwang. (Suara NTB/ils)

Taliwang (Suara NTB) – Kepala Desa (Kades) Seloto, Lukmanul Hakim SP, menyebutkan hasil inventalisir sementara kerugian materil akibat bencana banjir ditaksir mencapai angka ratusan juta. Hal ini tentunya sangat berasalan pasalnya, akibat bencana itu satu jembatan penyeberangan putus tersapu air, termasuk juga tembok pembatas di dua sekolah juga ikut ambruk.

Meskipun kerugian mencapai ratusan juta, tetapi dirinya bersyukur tidak sampai menimbulkan korban jiwa hanya kerusakan infrastruktur saja dan diharapkan untuk bisa ditangani segera.

“Hasil inventalisir sementara kerugian akibat banjir ditaksir mencapai ratusan juta dengan total jumlah rumah yang terendam mencapai ratusan unit. Data ini dalam waktu dekat juga akan kita laporkan ke Pemerintah Kabupaten agar ssgera dilakukan penanganan lanjutan. Hanya saja yang paling penting saat ini yakni pembangunan jembatan penyeberangan yang bersifat sementara karena masyarakat kami sangat membutuhkan hal itu demi kelancaran akses,” ungkapnya kepada Suara NTB, Minggu (7/4) kemarin.

Dikatakannya, banjir yang terjadi hari beberapa hari lalu tersebut merupakan banjir terbesar dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Banjir ini juga tidak diprediksi sebelumnya, karena curah hujannya tidak terlalu lebat. Tapi karena datangnya secara tiba-tiba maka kerusakan yang ditimbulkan juga sangat parah. Meskipun demikian, pihaknya sangat bersyukur tidak ada korban jiwa kendati rumah yang terendamnya mencapai 204 rumah dengan jumlah keluarga terdampak sekitar 519 jiwa. Rumah yang terdampak juga saat ini sudah mulai dilakukan pembersihan oleh masyarakat. Hanya saja pihaknya sangat berharap supaya Pemerintah bisa memberikan bantuan mesin air untuk mengurus air sumur yang ada. Hal ini tentunya sangat beralasan, karena jumlah sumur yang terdampak mencapai 98 sumur dan saat ini tidak bisa digunakan oleh masyarakat. Karena air yang bercampur dengan lumpur sangat tidak layak untuk dikonsumsi. Akibatnya kini warga terpaksa membeli air galon untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Banjir yang terjadi kemarin sangat parah dan baru tahun ini ada kejadian seperti sekarang. Untuk itu kami berharap supaya Pemerintah bisa turun untuk melakukan penanganan lanjutan terkait dampak kerusakannya,” ungkapngya.

Ia menyebutkan, selain rumah terendam hasil pendataan saat ini tercatat ada sekitar 50 hektar lahan pertanian rusak. Padi inipun sudah mulai dipanen oleh masyarakat, tetapi karena terbawa arus dan rusak. Pagar keliling lapangan sepakbola juga ikut hanyut di bagian pinggirnya, panggung hiburan pondasi terkikis dan bronjong yang ambruk.

Bahkan ada satu unit rumah dengan tingkat kerusakannya yang sangat parah sehingga butuh penanganan khusus. Dimana tiangnya patah dan ada yang terbawa arus, hal itu bisa terjadi karena tiang itu terbuat dari beton serta kerusakan barang lainnya masih terus dilakukan inventalisir di lapangan. Pihaknya juga sangat berharap supaya BWS dan Pemerintah agar bisa turun melakukan normalisasi sungai yang berada di wilayah setempat dan pemasangan bronjong. Karena kondisi yang ada saat ini sudah sangat mengkhawatirkan jika musim penghujan tiba dengan sedimentasinya. Sementara untuk kebutuhan tanggul pengaman banjir ditaksir mencapai 2 kilometer. Karena akan sangat berpengaruh jika meluapnya air sungai ke pemukiman masyarakat.

“Kami berharap agar Pemerintah bisa turun memantau dampak banjir yang terjadi kemarin. Karena ada banyak infrastruktur yang rusak dan harus segera ditangani secara maksimal,” tandasnya. Selain desa Seloto, banjir juga mengakibatkan satu jembatan putus di desa Moteng dan pulahan rumah terendam. Begitu juga di kelurahan Sampir dan Bugis juga ikut terendam. (ils)