Umat Muslim dan Hindu KSB Gelar Doa Bersama untuk Indonesia

Taliwang (Suara NTB) – Momentum HUT RI ke 72 masih terasa di Sumbawa Barat. Momen tahunan yang sangat sakral tersebut juga dimaknai dengan doa bersama untuk kebangsaan. Tidak tanggung-tanggung dalam doa bersama tersebut, umat Muslim dan Hindu Sumbawa Barat memanjatkan doa untuk Indonesia yang jauh lebih baik dengan ciri khas menggunakan pita merah putih di kepala.

Pantauan Suara NTB di lokasi acara, doa bersama umat muslim dilakukan di Masjid Agung Darussalam, Kompleks Kamutar Telu Center (KTC), Taliwang. Dalam doa tersebut hadir Bupati dan wakil Bupati Sumbawa Barat Dr. Ir. H. W Musyafirin MM, Fud Syaifuddin ST, Sekda Sumbawa Barat Abdul Azis, SH, MH, Ketua DPRD Sumbawa Barat Muhammad Nasir ST, MM, Dandim 1607 Sumbawa Letkol Sumanto S. Sos, MM, Kapolres Sumbawa Barat AKBP Andy Hermawan SIK, kepala dinas dan yang ada di lingkup pemkab setempat.

Sedangkan untuk doa bersama agama Hindu dilaksanakan di Pura Desa Penataran Ped di Dusun Budisari, Desa Kokarlian, Kec. Poto Tano. Dalam pelaksanaan doa tersebut, ada puluhan masyarakat agama hindu Kokarlian yang secara khusyu mengikuti doa kebangsaan ini, Kamis, 17 Agustus 2017 sore.

Dandim 1607/Sumbawa, Letkol ARM. Sumanto,S.Sos. MM dalam sambutan tertulis panglima TNI mengatakan bahwa, kemerdekaan Indonesia merupakan buah dari hasil perjuangan para pahlawan bangsa. Oleh karena itu, para generasi bangsa diharapkan bisa mengisi kemerdekaan dalam balutan persatuan dan kesatuan NKRI.

“Kita sebagai penikmat Kemerdekaan, sudah sepatutnya menjaga dan merawat kemerdekaan ini. Jangan sampai ada yang memecah belah umat yang sudah terbentuk selama ini,” ungkapnya. Maka hari ini mari bersama memohon

rahmat Allah SWT dan menjaga negara Indonesia dari isu-isu yang bisa memecah belah bangsa.

Bupati Sumbawa Barat, Dr. Ir. H. W Musyafirin, M.M mengatakan, doa kebangsaan ini baru pertama kali digelar dalam memperingati HUT RI. Meskipun baru pertama kali di gelar, tetapi doa ini sangat penting, karena bangsa Indonesia saat ini tengah dilanda krisis dan terkikisnya rasa cinta tanah air.

Untuk itu, melalui doa kebangsaan ini, diharapkan bisa mengingatkan kembali para generasi muda empat konsensus dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Empat pilar ini harus kita jaga dan amalkan untuk menjaga persatuan dalam perbedaan yang tetap selalu ada,” ungkapnya. Untuk itu, rasa toleransi, kebersamaan dan tolong menolong harus semakin dipupuk untuk Indonesia yang jauh lebih baik di masa-masa akan datang.

Sementara itu, wakil Parisada Sumbawa Barat, Wayan Murta mengatakan, doa ini dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk Indonesia yang yang jauh lebih baik. Berbeda sudah pasti ada di masyarakat, tergantung bagaimana melihat makna perbedaan itu sendiri.

Memupuk persamaan dalam perbedaan itulah yang dilakukan selama ini oleh masyarakat hindu kokarlian. Dengan hal tersebut, hampir tidak pernah terjadi konflik horizontal di desa tersebut. Karena pada dasarnya agama ini sama saja mengajarkan pada kebaikan.

“Urusan agama tidak usah kita pandang jauh berbeda, karena pada hakikatnya agama ini mengajarkan kita untuk lebih baik,” ungkapnya. Tentu diulang tahun ke 72 ini juga, dia sebagai pemangku adat sangat berharap Indonesia bisa jauh lebih baik dan tidak lagi terjadi konflik horizontal. (ils)