Daerah Penghasil Kopi Nomor Satu di KSB Masih Terisolir

Taliwang (Suara NTB) – Desa Rarak Ronges merupakan salah satu desa penghasil kopi terbaik yang dimiliki oleh Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Tetapi dari potensi dan hasil yang sangat menjanjikan ini, belum sapenuhnya bisa menjadikan masyarakat setempat sejahtera. Hal tersebut terjadi karena potensi yang ada belum mampu dijual dengan harga yang jauh lebih baik karena terkendala lokasi.

Sedikit gambaran tentang desa Rarak Ronges, desa ini berada di ketinggian 700 meter dari permukaan laut, tidak terpaut jauh dari desa Mantar yang berada pada ketinggian sekitar 640 meter. Sedangkan waktu tempuh dari Ibukota Kabupaten ke desa ini diperlukan sekitar empat jam.

Jarak yang jauh tersebut diperparah dengan kondisi jalan yang berlumpur dan medannya yang cukup terjal dan sangat sulit. Hanya beberapa titik saja yang sudah dirabat beton sementara sisanya masih jauh dari kata layak untuk dikatakan sebagai jalan penghubung dari desa ke kecamatan. Transportasi ke desa ini juga belum ada yang tersedia.

Desa ini sebenarnya terdiri dari tiga dusun, yakni dusun Rarak, Dusun Gong Datu dan Dusun Ronges. Untuk dusun Rarak dan Gong Datu berada di satu lokasi dengan jumlah penduduk sekitar 300 KK. Sedangkan untuk dusun Ronges ada sekitar 200 KK yang hidup dan berkeluarga di dusun ini yang berjarak sekitar 2 kilometer dari dua dusun tersebut. Sedangkan waktu tempuh ke dusun Ronges, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam.

Hal tersebut terjadi karena untuk mencapai lokasi perlu menyeberangi beberapa anak sungai yang arusnya cukup deras apabila musim hujan. Terlebih lagi tidak ada adanya jembatan yang menghubungkan antara kedua dusun tersebut. Tentu sebagai desa penghasil kopi terbaik di Sumbawa Barat, biasanya dalam satu tahun desa ini mampu menghasilkan 600 ton kopi. Bahkan kopi-kopi yang dihasilkan ini merupakan kopi terbaik di kelasnya.

Baca juga:  Pemprov Belum Perbaiki Jembatan Sanggar

Kepala desa setempat, Ruslan kepada Suara NTB mengatakan, sebenarnya desa ini potensinya sangat banyak sekali. Kopi sudah menjadi barang komersial utama masyarakat setempat, selain itu masih ada jagung dan padi yang masih menjanjikan untuk bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Namun karena kondisi jalan yang rusak parah akhirnya semua yang ada disini (Rarak Ronges) tidak bisa memberikan hasil yang maksimal. Terkait dengan kondisi ini, sebenarnya pihak desa dan masyarakat sudah sering menyuarakan ke pemerintah daerah. Hanya saja sampai dengan saat ini belum mampu diwujudkan secara nyata.

Bahkan untuk tahun 2017 ini, desa ini tidak akan mendapatkan anggaran untuk perbaikan infrastruktur jalan yang ada. Sementara untuk anggaran tersebut baru akan tersedia di APBD tahun 2018 mendatang.

“Tolong pak akses jalan untuk masyarakat kami Desa Rarak Ronges bisa diperhatikan. Karena sudah puluhan tahun kami disini, kondisinya masih tetap seperti ini,” ujarnya.

Dikatakan Ruslan, saat ini hasil kopi dan jagung merah dari desa ini sudah dikatakan sangat bagus. Meskipun kualitasnya sangat bagus tetapi melihat kondisi ini akan sangat sulit mencari pembeli. Kalaupun harus turun ke Kota, harganya akan anjlok dan tidak sesuai dengan usaha upaya untuk turun membawa hasil kopi ini.

Baca juga:  Ruas Tawali – Sape Segera Diperbaiki, Masyarakat Diminta Bersabar

Apalagi, beberapa bulan kedepan akan mulai masuk musim penghujan, sehingga kondisi akses ke lokasi desa akan semakin sulit dijangkau.

“Kalaupun tidak ada anggaran di tahun 2017, paling tidak kami bisa dibantu dengan alat berat untuk bisa memperbaiki jalan yang sudah ada saat ini,” imbuhnya. Supaya lumpur-lumpur yang menggenangi jalan ini bisa ditutup sedemikian rupa untuk mempermudah akses jalan yang ada.

Menanggapi keluhan masyarakat ini, Sekda Sumbawa Barat Abdul Azis SH, MH, mengatakan, sebenarnya Pemkab Sumbawa Barat merasa dilema untuk memperbaiki infra struktur yang ada di desa ini. Karena desa ini merupakan desa Ingklap (desa yang dikelilingi oleh hutan lindung), oleh karenanya, pengadaan fasilitas infrastruktur jalan perlu ada pertimbangan lainnya.

“Jalan yang kita bangun meskipun jelek, kita pinjam pakai ke Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Untuk itu kita patut bersyukur dengan adanya jalan ini, tetapi kita tetap akan berupaya supaya infrastruktur jalan bisa kita perbaiki,” ujarnya.

Apa yang disampaikan oleh Kades, tetap akan ditindak lanjuti. Bahkan Pemkab setempat juga menawarkan kepada JICA untuk sama-sama membangun infra struktur jalan yang ada. Bahkan desa ini tetap akan diperhatikan dan akan diupayakan semaksimal mungkin infrastruktur yang ada supaya bisa diperbaiki. (ils)