Sumbawa Targetkan Produksi Garam 8.400 Ton

Dirmawan. (Suara NTB/ind)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Pemkab Sumbawa melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) menargetkan produksi garam tahun 2021 ini sebanyak 8.400 ton. Jumlah tersebut lebih tinggi dari target tahun 2020 lalu yakni 8.000 ton.

Kepala Dislutkan Kabupaten Sumbawa, Ir. Dirmawan, membenarkan hal tersebut. Target ini diyakini bisa terealisasi hingga akhir tahun dengan produksi di beberapa lokasi. “Tahun 2020 memang kita tidak bisa mencapai target yakni 8.000 ton. Produksi garam kita lebih kurang 5.567 ton di wilayah petambak garam  Labuhan Bontong, Labuhan Kuris, dan Labuhan Bajo Utan. Tahun 2021, target produksi garam kita itu 8.400 ton,” ujarnya, Kamis, 4 Maret 2021.

Iklan

Diungkapkannya, tahun lalu target tidak terpenuhi karena terjadinya anomali cuaca. Di mana hujan masih terjadi sampai dengan bulan Juli, sehingga kegiatan produksi garam baru dilakukan pada bulan Agustus. Sementara musim hujan akhir Desember sudah mulai, sehingga waktu produksi sangat pendek. Selain itu harga garam juga anjlok, dari yang biasanya Rp 500 perkilogram  hanya Rp 200 sampai Rp 300 perkilogram. “Ini menyebabkan petani itu menurunkan produksinya. Kemudian akibat itu, disamping karena pengaruh covid, juga ada beberapa petambak garam yang tidak melakukan produksi juga kerena pengaruh dari harga garam yang rendah,” terangnya.

Sehingga menurutnya, untuk tahun 2021 ini ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mengejar target. Pertama dengan ekstensifikasi atau mencoba membuka lahan baru untuk poduksi di daerah sekitar Sepayung. Selain itu, juga melalui intensifikasi melalui integrasi lahan untuk meningkatkan kualitas garam dan produktifitas perhektare.  “Tahun 2021 kita akan mencoba produksi garam ini di beberapa lokasi. Pertama ada di daerah petambak garam rakyat di Labuhan Bontong, Sepayung, Labuhan Kuris, dan Labuhan Bajo Utan.  Itu ada beberapa kegiatan. Nanti kita integrasikan produksi garam di Labuhan Bajo Utan. Sambil kita coba tahun ini. Karena di tahun kemarin sudah di Labuhan Kuris dan Labuhan Bontong,” ungkapnya.

Terkait harga, lanjutnya, pemerintah daerah sudah mencoba membangun pabrik pengolahan garam dalam rangka mengantisipasi anjloknya harga. Produksi garam ini dicoba proses menjadi garam beryodium di Labuhan Bontong. Kemudian ada beberapa kopesrasi yang melakukan prosesing garam beryodium di Labuhan Kuris yang sudah ber-SNI. “Sekarang kita sudah bisa memproduksi kualitas K1. Memang masih ada juga beberapa petambak garam yang memproduksi dibawah K1. Tapi kita hampir 40 persen sudah kita  bisa produksi garam kualitas industri ini dengan kandungan sekitar 95 sampai 97 persen LACL,” pungkasnya. (ind)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional